logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Januari 2005 SEMARANG
Line

Becak Pasti Akan Berlalu?

Di berbagai kota besar, termasuk Semarang, becak sering dituding sebagai biang kesemrawutan sehingga acap dirazia atau bahkan dimusnahkan. Padahal, masih banyak yang membutuhkan angkutan ini. Selain itu, mencari pekerjaan lain bagi tukang becak bukan hal yang mudah. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Purwoko Adi Seno, Ninik Damiyati, dan Renjani Puspo Sari tentang kendaraan tradisional yang

digerakkan tenaga manusia itu.

Saya mau tamasya/berkliling-kliling kota//

Hendak melihat-lihat/keramaian yang ada/

Tolong panggilkan becak/

kereta tak berkuda/

Becak/becak/tolong antar saya....

LAGU berjudul "Becak" boleh jadi menandai masa kejayaan angkutan beroda tiga bernama becak. Hampir semua orang akrab dengan lagu kanak-kanak itu, seakrab pengayuh becak menyapa penumpangnya. Mengendarai becak yang melaju tak terlampau kencang pun menjadi pengalaman mengasyikkan bagi anak-anak untuk sekadar menikmati keramaian kota.

Tetapi lihatlah, sejak 1980-an, becak tak lagi menjadi kendaraan favorit. Sejak teknologi angkutan bermotor kian melejit, becak pun makin identik dengan kaum marginal.

Itu seperti terlihat pada belasan becak yang mangkal di Jl Agus Salim depan Pasar Johar, beberapa hari lalu. Para pengemudi becak itu memarkir kendaraanya begitu saja hingga berjajar dua. Ada beberapa orang di antara mereka, bahkan terlihat tidur di dalam kendaraannya. Sementara rekan-rekannya terlihat asyik mengobrol. Mereka seolah-olah tak peduli bahwa pangkalan becak itu membuat jalan makin sempit dan berakibat pada kemacetan.

Kesemrawutan yang melibatkan becak terjadi pula di sekitar pasar tradisional lain, seperti Peterongan, Bulu, dan Karangayu. Para pengemudinya pun kadang menjadi sasaran umpatan pengguna jalan lain lantaran tiba-tiba menyeberang tanpa memberikan tanda. Sementara pada malam hari, becak kadang menimbulkan masalah karena tidak dilengkapi lampu pada kedua sisinya.

Persoalan seputar becak bukannya tak memperoleh perhatian Pemkot. Dalam beberapa kali kesempatan, YMT Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang Arief Moelia Edhie mengemukakan niat menata becak. Dia juga bermaksud menghidupkan kembali kawasan larangan becak.

"Operasi becak akan kami arahkan ke perumahan-perumahan," ujar Arief.

Para pengemudi becak di Jl KH Agus Salim pun langsung menyatakan tidak sependapat dengan rencana itu. Mereka beralasan, walaupun dibiarkan, penghasilan mereka minim. Dalam sehari mereka paling-paling hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp 10.000 pada saat ramai penumpang. Naun ketika sepi, paling-paling hanya Rp 5.000. Kalau operasi becak dibatasi hanya di perumahan, mereka akan "mati". Sebab, warga perumahan sudah banyak yang memiliki kendaraan pribadi sehingga mereka tak akan naik becak lagi.

Banyak Pihak

Namun pantaskah becak menjadi satu-satunya yang pantas dituding sebagai biang kesemrawutan? Bukankah di jalan juga ada sepeda motor, mobil, sepeda, gerobak, pejalan kaki, bahkan pedagang kaki lima (PKL).

Di Jalan Agus Salim, semua itu ada. Di sana becak berada di badan jalan lantaran tak ada tempat yang bisa mereka gunakan untuk mangkal. Jalan itu semrawut juga lantaran pejalan kaki ikut menggunakan badan jalan. Mereka tak bisa lagi memanfaatkan trotoar karena sudah berubah fungsi sebagai tempat dasaran PKL. Selanjutnya, keberadaan PKL di tempat itu justru karena difasilitasi Pemkot. Mereka dibangunkan tenda-tenda semipermanen pada pelaksanaan program revitalisasi tahap kedua.

Kenyataan itu menunjukkan, Pemkot pun memiliki andil menciptakan ketidakaturan. Tak hanya itu, sejak 2000 Pemkot juga bersikap sangat lunak terhadap PKL. Sikap lunak dengan menolerir becak juga dilakukan tahun 1998.

Akibatnya, PKL dan tukang becak merasa memiliki kemerdekaan tanpa batas. Itulah yang kemudian justru menimbulkan benturan kepentingan dengan pihak lain, termasuk pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor.

Tak Adil

Peneliti transportasi Unika Soegijapranata Drs Ir Djoko Setijowarno MT menilai tidak adil jika hanya becak yang dituduh sebagai penyebab ketidakteraturan. Jika Pemkot akan melakukan penataan, sasarannya bukan hanya becak, melainkan juga para PKL, pejalanan kaki, dan pengguna kendaraan bermotor.

Perlu dilihat pula bahwa becak bisa bertahan hingga kini karena masih dibutuhkan sebagian warga, termasuk di pasar-pasar tradisional. Kendaraan itu bukan hanya untuk mengangkut penumpang, melainkan juga barang. Para pedagang eceran, setelah kulakan di Johar, mengangkut dagangannya dengan kendaraan itu. Uniknya, barang-barang itu diletakkan di depan, sementara penumpangnya membonceng dengan cara duduk di selebor belakang. "Karena itu, kendaraan beroda tiga itu semestinya diberi tempat mangkal yang tidak mengganggu lalu lintas lain," katanya.

Tempat mangkal itu tak perlu terlalu besar, asalkan mudah diakses para konsumen. Penyediaan becak di dekat pasar tradisional juga harus memperhatikan permintaan dan kebutuhan. Artinya, kendaraan jangan sampai terlalu banyak tetapi tidak pula kurang.

Jika ternyata sisanya masih banyak, sebagian bisa diarahkan agar beroperasi di perumahan-perumahan. Sebagian lagi bisa dimodifikasi menjadi becak wisata, seperti di Pecinan menjelang perayaan Imlek tahun ini.

Becak wisata ini bisa dihias dengan gambar-gambar menarik atau dilengkapi lampu hias pada kedua sisinya. Hiasan pada becak itu sekaligus bisa merupakan ajang mencurahkan kreativitas para pengemudi atau pemiliknya. Agar lancar dalam melayani wisatawan, pengemudi becak dilatih berbahasa asing, walaupun dalam tataran paling elementer (89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA