| Jumat, 28 Januari 2005 | SEMARANG |
Penyambung Lidah SekolahKETIKA menghadiri pertemuan di Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas), Dra Retno Palupi W acap menjadi makhluk langka. Apa pasal? Manajer Bidang II Hubungan Masyarakat Sekolah Nasional Nusaputera itu nyaris menjadi satu-satunya humas sekolah yang bergabung dalam organisasi profesi itu. ''Yang lebih banyak adalah public relations (PR) hotel atau humas perusahaan,'' kata dia, di kantornya Jl Ki Mangunsarkoro 59, beberapa waktu lalu. Baru empat bulan dia aktif mengikuti aktivitas di Perhumas. Bagi Retno, bergabung bersama para humas dan PR dari pelbagai institusi memberinya tambahan wawasan yang amat banyak. Dia menjadi lebih memahami seluk-beluk perhumasan. ''Saya merasakan manfaat yang besar dari bersentuhan dengan para humas yang telah berpengalaman. Saya jadi agak ngeh tentang tugas utama humas, membawa citra institusi,'' imbuh perempuan kelahiran Semarang, 7 Juli 1969 itu. Ya, sejak dua tahun lalu dia menjabat sebagai humas sekolah nasional, yang menaungi kelompok bermain, TK, SD, SMP, SMA, dan SMF. Dia menjadi semacam penyambung lidah sekolah untuk menyampaikan informasi-informasi yang terkait dengan perkembangan pendidikan dan operasionalisasinya ke masyarakat. Karena tugasnya itu, sarjana pendidikan Kimia alumnus FPMIPA IKIP Semarang (kini Unnes-Red) itu dibebaskan dari kewajiban mengajar, seperti yang ditekuninya selama ini. Informasi KBK Salah satu yang kini digalakkannya adalah menyampaikan informasi yang jelas perihal Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang dicanangkan pemerintah mulai tahun pelajaran 2004/2005. Hingga saat ini, kata Retno, masih banyak orang tua siswa yang belum memahami konsep serta aplikasi kurikulum itu di sekolah. ''Sekolah perlu menginformasikan dengan jelas perihal KBK yang mengacu pada pengembangan kompetensi atau kemampuan siswa yang berkesinambungan. Lebih dari itu, orang tua juga perlu mendapat informasi, diapakan saja anak saya di sekolah?'' Hal-hal itulah yang selama dua tahun ini ditata dan dibenahi Retno. Untuk menginformasikan konsep dan aplikasi KBK di sekolahnya, Retno mengelola buletin Info Pendidikan yang terbit sebulan sekali. Untuk kepentingan yang sama, sekolah itu juga menerbitkan majalah Cermin yang terbit enam bulan sekali. Lewat kedua media itu, dia menjelaskan sistem pendidikan dengan pendekatan individual di Sekolah Nasional Nusaputera kepada orang tua siswa. Yang terang, aku Retno, institusi kehumasan Sekolah Nasional Nusaputera masih dalam proses menuju jadi. Masih banyak hal yang perlu dibenahi sehingga institusi itu bisa menjadi penyambung lidah sekolah yang andal. Itu pun sudah cukup baik, mengingat pada sejumlah sekolah lain, kesadaran untuk membangun sistem kehumasan bahkan belum muncul sama sekali.(Achiar M Permana-89) |