| Jumat, 28 Januari 2005 | KEDU & DIY |
Perguruan Tinggi Tak Mampu Cetak Sarjana Siap KerjaYOGYAKARTA - Perguruan tinggi di Indonesia dapat mencetak sarjana tetapi tidak mampu menjamin sarjana yang telah dicetak itu mampu bekerja. Banyak sarjana yang bekerja sendiri sebagai wiraswasta namun merasa belum bekerja. ''Masih ada persepsi, pekerjaan harus selalu diberikan orang atau pihak lain, yakni pemerintah atau perusahaan,'' ungkap pakar ekonomi dari UGM, Prof Dr Mubyarto, ketika menjadi pembicara kunci dalam Pelatihan Metodologi Penelitian di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, kemarin. Sarjana yang berpikir demikian, ujarnya, mengartikan bekerja harus bergaji tetap setiap bulan dan jika sudah mencapai usia tertentu memperoleh pensiun. Menikmati pensiun sesudah bekerja 25-30 tahun rupanya menjadi cita-cita kebanyakan sarjana. Kendati demikian, Mubyarto tidak menyalahkan sikap tersebut. Yang menjadi kritiknya adalah setiap sarjana lantas tidak teramat mementingkan pencarian dan pendalaman ilmu, keahlian, atau keterampilan tertentu. Banyak lulusan perguruan tinggi, menurut sinyalemen dia, yang berpandangan bahwa yang terpenting adalah memperoleh ijazah atau tanda lulus pendidikan tertentu. Tujuannya, tentu saja mendapatkan gelar kesarjanaan tertentu. Karena itu tidak mengherankan, jika selama pendidikan di perguruan tinggi, mereka mencari tahu cara-cara belajar agar ''lulus'' mata-mata kuliah dan bukan pemahaman substansi. ''Akibatnya, mahasiswa tidak merasa perlu menelurusi literatur yang relevan atas prakarsa sendiri lebih-lebih yang tidak dianjurkan oleh dosen untuk dibaca,'' ungkapnya. Penelitian Bercermin dari realitas di atas, Mubyarto mengemukakan, perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh sekadar menghasilkan sarjana. Namun, harus juga menghasilkan karya-karya ilmiah hasil penelitian tekun dari para dosennya. Dengan kata lain, dosen tidak boleh hanya sekadar mengajar tetapi juga harus meneliti. Masalah mendasar yang dihadapi perguruan tinggi amat jelas, ujar Mubyarto, yakni pada umumnya belum berstatus sebagai universitas penelitian (research university). Hal itu bisa terjadi karena kebanyakan dosen tidak meneliti yang memang merupakan tugas sulit serta memerlukan dana cukup besar. Masalah tersebut harus segera dicari jalan keluarnya. Ketiadaan dana dan pembinaan dosen-dosen muda untuk meneliti memerlukan pemecahan, antara lain perlunya sumber dana penelitian, lembaga semacam dewan penelitian, serta pengajaran dengan praktik penelitian. Pengajaran dengan praktik penelitian memungkinkan mahasiswa semakin mendalami ilmunya serta tidak ingin waktunya terbuang percuma untuk membolos atau hal lain. Begitu dia tidak mengikuti mata kuliah dengan metode penelitian, dia akan ketinggalan banyak hal. ''Praktik tersebut juga memungkinkan mahasiswa benar-benar memahami ilmu serta mampu mandiri sehingga ketika kelak lulus tidak hanya bergantung pada pihak lain,'' tegasnya. (D19-80j) |