| Jumat, 28 Januari 2005 | KEDU & DIY |
Gedung Perpustakaan ''Desa Buku'' di Taman Kyai LanggengBUKU merupakan jendela dunia. Dari buku itulah berbagai macam ilmu bisa dipelajari dan selanjutnya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat manfaatnya sangat besar, Pemkot Magelang serius menangani Desa Buku di Taman Kiai Langgeng yang merupakan satu-satunya di Indonesia. Sejak dicanangkan oleh mantan Mendikbud Malik Fajar pada 17 Mei 2003, sepertinya pembangunan Desa Buku berjalan tersendat-sendat. Memang bisa dikatakan seperti itu karena pembangunannya disesuaikan dengan anggaran Pemkot. Baru pada Tahun Anggaran 2004 dibangun dua gedung di lokasi Desa Buku, sebuah gedung perpustakaan, dan sebuah lagi untuk Pusat Informasi Buku (PIB). Bentuk bangunannya tingkat tiga ke arah bawah. ''Ini disesuaikan dengan struktur tanah Taman Kiai Langgeng yang berbentuk lereng,'' ujar Kabid Fisik dan Prasarana Badan Perencanaan Kota (Bapeko) Joko Soeparno. Pembangunan PIB menelan dana Rp 262 juta sedangkan gedung perpustakaan Rp 316 juta. Peresmiannya dilakukan Wali Kota H Fahriyanto, Rabu (26/1) lalu, bersamaan dengan proyek-proyek lain. ''Saat ini Desa Buku telah memiliki 5.000 eksemplar buku terdiri atas 3.000 judul,'' papar Kepala Kantor Informasi dan Kehumasan Lukman Zakaria. Fungsi PIB memberi informasi tentang segala jenis buku kepada masyarakat yang membutuhkan. Nantinya, Desa Buku juga dilengkapi website yang bisa diakses siapa saja di seluruh dunia. Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) bisa pula mengenalkan buku yang akan diterbitkan lewat electric commerce. ''Penerbit bisa juga mempromosikan buku baru terbitannya melalui showroom buku ataupun sarana lain yang tersedia di tempat itu. Menyangkut hal tersebut, Pemkot secepatnya akan menandatangani MoU dengan para penerbit. Dalam hal ini, kedudukan Pemkot sebagai penyedia jasa ini sesuai dengan aspek Kota Magelang sebagai kota jasa,'' papar Joko. Jumlah buku juga akan terus bertambah, tidak hanya buku baru tetapi juga buku kuno. Sebuah LSM di Belanda sudah menyatakan siap membantu buku-buku kuno, antara lain buku mengenai kegiatan pemerintah Belanda sewaktu menjajah negara kita. LSM itu bersedia membantu karena Desa Buku tidak komersial. Meski gedung perustakaan sudah dilengkapi ruang baca, pada Tahun Anggaran 2005 di pelataran Desa Buku akan didirikan sejumlah gazebo. ''Ini sebagai tempat para penulis untuk mencari inspirasi atau seorang calon doktor mempersiapkan disertasi dan sebagainya,'' ujar Joko. Mengingat lokasinya berada di areal Taman Kiai Langgeng, pengunjung Desa Buku harus membayar tiket masuk objek wisata tersebut. Namun, masuk ke PIB ataupun perpustakaan tetap gratis. Sebab, konsep Desa Buku adalah mengombinasikan unsur wisata dan pendidikan. Wali Kota Magelang H Fahriyanto menuturkan, yang diresmikan baru sebatas sarana fisik sedangkan sarana pendukung lainnya secara bertahap. Jika sudah siap seluruhnya, peresmian akan dilakukan Mendiknas karena dahulu yang mencanangkan juga Mendiknas. ''Sekarang baru persiapan fisik, makanya saya harapkan ada kesinambungan. Selain itu jangan sampai berubah fungsi. Sebab, Desa Buku bukan seperti perpustakaan tetapi salah satu bagiannya adalah kegiatan perpustakaan,'' tuturnya. Di tempat ini juga harus diciptakan berbagai kegiatan, misalnya pembacaan puisi dan lounching buku, sehingga semua penerbit berkumpul di sini dan dampaknya terjadi transaksi. ''PIB diharapkan dapat menjangkau ke seluruh dunia. Misalnya butuh buku apa, kita akses ke internet, jangkauannya internasional.'' Wali Kota mengharapkan ada kesinambungan dalam memahami Desa Buku. Sekali lagi, jangan sampai nantinya berubah fungsi menjadi perpustakaan. ''Kalau perpustakaan di sini kan tidak pas, masak perpustakaan di objek wisata seperti ini. Masuk ke Taman Kiai Langgeng sudah membayar, kalau ini kita jadikan perpustakaan terlalu mahal,'' tandasnya. (Doddy Ardjono-80j) |