| Jumat, 28 Januari 2005 | INTERNASIONAL |
Israel-Palestina ke Arah DamaiJERUSALEM - Perdana Menteri Israel Ariel Sharon mengaku sangat puas pada upaya-upaya Presiden Palestina Mahmud Abbas untuk memulihkan ketenangan. Dia berjanji mewujudkan perdamaian bersama Abbas. Komentar Sharon itu termuat dalam koran Yedioth Ahronoth edisi Kamis kemarin, saat utusan AS William Burns memulai upaya diplomasi untuk menghidupkan kembali perdamaian, setelah Presiden Yasser Arafat wafat. Sebagai pertanda adanya perubahan yang lain, warga Palestina memberikan suara dalam pemilu pertama untuk memilih anggota dewan kota di Jalur Gaza, Kamis Kemarin. Pemilu tersebut merupakan uji kekuatan antara Abbas dan kelompok militan Hamas. Kelompok itu sangat populer di Jalur Gaza, wilayah yang bakal ditinggalkan Israel mulai Juli mendatang. "Tidak ada keraguan Abu Mazen telah mulai bekerja. Saya sangat puas atas apa yang terjadi di pihak Palestina, dan saya sangat tertarik pada proses kemajuan bersamanya," kata PM Sharon. Abu Mazen adalah panggilan hormat untuk Mahmud Abbas. Sejak terpilih menjadi presiden Palestina, dia telah mengupayakan gencatan senjata dengan kelompok militan. Kekerasan pun berkurang drastis di Jalur Gaza. Dia terpilih menjadi presiden pada pemilu 9 Januari lalu. Programnya adalah, mengakhiri konflik berdarah yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun dengan Israel. "Saya ingin melanjutkan peluang dengan Palestina. Saya menyambut baik Abu Mazen. Pada saat yang sama saya tetap waspada dan melihat situasi di pihak mereka." Menurutnya, Israel akan merespons ketenangan yang dicapai dengan kedamaian, dan menangguhkan operasi militer besar-besaran. Namun negara Yahudi itu tetap menolak menghentikan operasi selektif. Sharon dan Abbas diperkirakan bertemu bulan depan untuk berunding. Fokus perundingan kemungkinan mengenai koordinasi penarikan mundur Israel dari Jalur Gaza. Juga akan dibicarakan cara-cara untuk memulai kembali "peta jalan" perdamaian yang didukung AS, guna membentuk negara Palestina merdeka. Namun Menlu Israel Silvan Shalom mengatakan, sangat tidak bijaksana jika kedua pihak langsung melompat ke perundingan untuk mengupayakan traktat perdamaian final. Dia mengatakan hal itu di Washington, setelah bertemu dengan Condoleezza Rice yang baru saja dikukuhkan sebagai menlu AS. "Masih ada kecurigaan besar di antara kedua belah pihak. Dan saling percaya harus dibangun lebih dulu, setahap demi setahap," katanya. Bukan Solusi Dia juga mengatakan gencatan senjata bukanlah solusi, jika tidak disertai langkah Abbas untuk melucuti senjata kelompok militan, sebagaimana ditetapkan dalam peta jalan. "Gencatan senjata merupakan bom waktu yang akan meledak setiap saat. Karena itu, gencatan senjata tidak dapat menjadi tujuan jangka panjang, terutama bila faksi-faksi militan tetap menguasai infrastruktur Palestina," katanya. Sambil menyiapkan dasar-dasar untuk pertemuan Abbas-Sharon, Israel dan Palestina pada Rabu lalu memulai kembali kontak-kontak diplomatik tingkat tinggi, setelah dua tahun terputus. "KTT itu mungkin berlangsung sekitar 8 Februari, jika persiapan telah selesai," kata seorang pejabat Palestina. Israel memboikot Arafat, pendahulu Abbas, dalam tahun-tahun terakhir sebelum dia meninggal pada 11 November. Negara Yahudi itu menudingnya sebagai "teroris kawakan". Israel menyambut baik kemunculan Abbas, yang beranji menciptakan ketenangan agar dapat memulai kembali perundingan tentang peta jalan perdamaian. Sementara itu, di seluruh wilayah Jalur Gaza ribuan orang memilih para kandidat yang akan memperebutkan 118 kursi di 10 dewan legislatif daerah, Kamis kemarin. "Pemilu ini merupakan cara kami untuk memberantas korupsi," kata Mohammed Abu Harbeed, pendukung kandidat pro-Hamas. Hamas, yang menyokong gagasan menghancurkan Israel, meraih dukungan besar dalam pemilu dewan kota di Tepi Barat, bulan lalu, meskipun gerakan Fatah tetap unggul. Kelompok militan tersebut pada umumnya lebih populer di daerah pesisir Jalur Gaza, tempat mereka menjalankan jaringan kesejahteraan sosial.(rtr-ben-30) |