logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Januari 2005 BUDAYA
Line

Dari Kampung Kumuh ke Puncak Hollywood

BOLEH jadi, di Indonesia tak ada film sehiruk-pikuk Titanic yang selalu diantre penonton dan ditonton lebih dari dua kali oleh penonton yang sama ketika diputar di sinepleks atau bioskop pada trimester awal 1998. Boleh jadi pula, tak ada film selain Titanic yang diputar hingga beberapa bulan dan ajaibnya, kursi-kursi di gedung teater pemutarnya selalu terisi. Raihan 11 Oscar dari 14 nominasi pada 1998 untuk film itu jadi sangat wajar.

Tak termungkiri kemudian ada satu wajah yang jadi begitu akrab, khususnya bagi para penonton: Leonardo DiCaprio. Wajah baby face milik pemeran Jack Dawson dalam film itu jadi begitu populer.

Tentu saja tak cuma di sini keberhasilan film garapan James Cameron sudah pasti mendongkrak kebintangan Leonardo selain Kate Winslet, pasangan mainnya dalam Titanic yang memerani Rose Dewitt Bukater.

Film tersebut sudah pasti bukan film perdana Leonardo.

Tapi benarlah bahwa film itulah yang benar-benar melesatkan nama lelaki tersebut, meskipun mungkin kita di sini telah mengenalnya sebagai Romeo dalam film tragis-romantis Romeo and Juliet (1997) yang dibesut secara komikal itu.

Bahkan sebenarnya pemilik nama lengkap Leonardo Wilhelm DiCaprio itu telah mengklaim keterkenalannya lewat perannya sebagai Tobias Wolf dalam film This Boy's Life (1993).

Sekarang untuk Academy Award tahun ini, si anak bengal yang suka membolos sekolah itu kini berkesempatan meraih predikat Best Actor untuk perannya sebagai si kaya muda Howard Hughes dalam film The Aviator garapan Martin Scorsese.

Dia memang harus bersaing dengan misalnya Johnny Depp atau aktor sekawakan Clint Eastwood.

Ya, kini Leonardo telah mencecap popularitas besar di kalangan jetset Hollywood. Dia lebih mirip Howard Hughes, si kaya muda dalam The Aviator. Tapi sejarah pribadinya, paling tidak lingkungan tempatnya tumbuh dan besar sangat jauh dari gambaran glamor.

Bahkan, si penumpang kelas tiga di kapal pesiar mewah Titanic bernama Jack Dawson, pemuda pengangguran yang bisa naik kapal semewah itu karena sebuah lotere, jauh lebih baik dari kehidupan Leonardo di masa kecil.

Dia lahir dari pasangan George DiCaprio, pembuat dan distributor komik picisan dan Irmeline DiCaprio, seorang sekretaris pada 11 November 1974 di Los Angeles.

Ghetto California

Dia tumbuh di kawasan kumuh Los Feliz sehingga kerap betul dia menyebut tempat itu dengan sebutan yang buruk dan muram. "Tempatku tumbuh ini lebih tepat disebut Ghetto California," ujarnya suatu ketika.

Ghetto sebenarnya sebutan untuk perkampungan orang Yahudi yang serbamuram. Sudah pasti, tak ada darah Yahudi pada tubuhnya selain keturunan Italia yang dibawa sang ayah.

Sebagai anak, dia bukan anak penurut meskipun wajahnya hingga dewasa tetap terlihat kekanak-kanakkan. Kesukaannya membolos sekolah dan lebih asyik bermain-main menghibur teman-temannya adalah bukti sedikit kebengalannya. Kebengalan yang selanjutnya ikut membantunya sebagai aktor hebat.

Kebengalan lainnya adalah ketika dia menyangkal penggantian nama oleh ibunya karena dirasa nama yang disandang begitu panjang. Si Ibu ingin menggantinya dengan nama Lenny William yang lebih simpel dan bernuansa gaul.

"Namaku bagus.Leonardo itu nama seniman besar Italia," ujarnya yang menghubungkan namanya dengan Leonardo Da Vinci.

Satu hal yang patut dicatat dari dirinya adalah egoisitasnya yang begitu tinggi. Baginya, itu modal untuk berakting. Dan tak termungkiri, egoisitas itu pula yang ikut melesatkan namanya. Soal egoisitas itu bahkan telah ditunjukkannya kala dia dinominasikan sebagai aktor terbaik untuk film What's Eating Gilbert Grape? (1994).

"Aku begitu yakin, aktingku mampu mengubah diskursus sejarah," katanya.

Alamak! Bagaimana bisa lelaki yang digandrungi sebagai "imut banget" bisa tampak seperti lelaki yang arogan dengan komentar seperti itu? Ah, bolehlah itu hanya lahir dari egoisitasnya yang tinggi, tapi camkan, egoisitas itu pula yang menjadikannya aktor dengan kualitas bagus. (Saroni Asikin-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA