| Kamis, 27 Januari 2005 | SALA |
70 Gedung SD di Solo RusakBALAI KOTA- Tujuh puluh bangunan sekolah dasar (SD) di Solo rusak lantaran faktor usia dan cuaca. Di beberapa sekolah, sebagian dindingnya sudah retak dan ambles ke tanah. Ada pula yang plafonnya ambrol dan membahayakan siswa di tempat itu. Yang paling ringan, atap gedung bocor atau pagar rusak. Sebagian besar gedung tersebut telah diperbaiki secara tambal sulam atau permanen. Meski demikian masih ada 25 bangunan sekolah yang belum tertangani lantaran belum ada dana. "Kalau dari pendataan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) dan DPU Kota Surakarta beberapa waktu lalu, sekitar 70 SD rusak. Namun, sebagian sudah diperbaiki melalui bantuan pemerintah atau dari komite sekolah," ujar Kepala Disdikpora Drs H Kuswanto MM, kemarin. Menurut dia, kerusakan sekitar 70 sekolah tersebut akibat bangunan dibuat pada sekitar 1970-an. Di SD Negeri Jebres dan SD Negeri Jagalan, misalnya, beberapa bagian tembok tampak pecah-pecah. Di beberapa dinding bagian belakang sekolah juga ambles. Diduga, kerusakan tersebut karena faktor usia. Selain itu, sekolah itu dekat dengan jalan raya sehingga getaran kendaraan menyebabkan atap asbes juga rusak cukup parah. Untuk sementara, kerusakan tersebut ditangani secara tambal sulam. Atap yang bocor, misalnya, ditambal dengan plastik, sedangkan tembok yang retak ditambal dengan cor. Namun, faktor umur dan cuaca sangat berpengaruh terhadap bangunan yang berdiri atas instruksi presiden tersebut. Karena itu, diperkirakan bangunan buatan tahun 1970-an tersebut sepuluh tahun ke depan harus direnovasi total. "DPU memperkirakan sekitar 70-an bangunan itu masih bisa bertahan 10 tahun ke depan. Namun pada 2015, semuanya harus direnovasi total," ujarnya. Bantuan Pemkot Beberapa waktu lalu, 34 sekolah telah menerima bantuan dari Pemkot, masing-masing Rp 50 juta, untuk memperbaiki kerusakan. Sebagian yang lain memperoleh dana dari komite sekolah. Kuswanto mengatakan, mayoritas bangunan sekolah yang rusak hanya dalam skala sedang sampai ringan. Karena itu, sekolah itu tidak perlu dibangun ulang layaknya SD Negeri Karengan yang ambruk beberapa waktu silam. "Jangankan bangunan SD yang mayoritas berusia sudah puluhan tahun, kantor Disdikpora yang baru 12 tahun dibangun saja sudah banyak yang rusak karena cuaca. Kalau hujan, air menerobos ke dinding melalui lubang-lubang paku," urainya. Bagaimana dengan siswa-siswa di sekolah yang rusak tersebut? Kuswanto mengatakan, sejauh ini belum ada yang terganggu. Namun, ia mengungkapkan, sebagai langkah antisipasi, Disdikpora bisa mengintruksikan untuk meliburkan siswa jika dinilai bangunan sekolah membahayakan. Siswa bisa bersekolah kembali setelah bangunan diperbaiki. (G18-92i) |