| Kamis, 27 Januari 2005 | SALA |
Solo Grand Mall Diancam Bom
KOTA - Solo Grand Mall (SGM) yang terletak di Jalan Slamet Riyadi, Solo, kemarin pagi diancam bom. Teror tersebut datang sekitar pukul 09.30, melalui telepon yang diterima pegawai bernama Risa (32). Karyawan yang bertugas di bagian informasi Hipermat Lantai 1 Solo Grand Mall itu, menerima telepon dari seseorang yang mengatakan bahwa pusat perbelanjaan terbesar di Solo akan meledak pukul 10.00. Risa yang menerima telepon tersebut, seakan tidak percaya kalau tempat kerjanya akan meledak dalam waktu singkat. Sehubungan nada suara penelepon tidak jelas, Risa meminta kepada penelepon untuk mengulangi perkataannya. "Dua kali penelepon itu mengulangi perkataan bahwa Solo Grand Mall akan diledakkan. Setelah itu, penelepon dengan nada suara perempuan itu langsung memutus komunikasi," jelas karyawati SGM yang tinggal di daerah Laweyan tersebut. Dalam kontak person yang berlangsung singkat itu, si penelepon tidak menyebut lokasi bom diletakkan. Tentu saja setelah mendapat ancaman bom, Risa melaporkan kejadian itu kepada atasannya. Kabar yang kemudian sampai kepada manajer umum mal tersebut, tidak lama kemudian dilaporkan ke Polresta Surakarta. Teror bom itu, sempat membuat panik sejumlah pengunjung maupun karyawan. Mereka lalu berhamburan ke luar gedung, bersamaan dengan datangnya petugas kepolisian beserta tim jihandak untuk melakukan penyisiran. "Kami baru mengetahui kejadian itu setelah kedatangan ratusan petugas," jelas Effendi, pengunjung SGM. Dinyatakan Aman Untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bakal terjadi, ratusan karyawan menunggu di luar gedung, menanti SGM yang berdiri megah di tengah Kota Solo itu dinyatakan aman oleh petugas. Upaya petugas untuk menemukan bom, cukup memakan waktu lama, karena pusat perbelanjaan yang baru di buka Agustus 2004 dan berlantai tujuh itu cukup luas. Beberapa jam setelah seluruh gedung disisir, dan beberapa barang dideteksi dengan metal detector, tidak ditemukan barang yang mencurigakan. Ketika menanti upaya polisi untuk menetralisasi gedung, Manajer Umum SGM, Yanto mengaku belum mengetahui pelaku teror tersebut. Karyawannya yang menerima telepon, belum sempat menanyakan nama penelepon, karena komunikasi hanya berlangsung singkat. Tanpa mencurigai siapa yang melakukan teror tersebut, kasus itu diserahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian. Meski ada teror semacam itu, kata dia, SGM tetap dibuka selama dan sembari menunggu gedung dinyatakan aman.(G11,san-80a) |