| Kamis, 27 Januari 2005 | PANTURA |
Balai Desa Beberapa Kali Disegel WargaGiliran Kades Sidosari Dimosi Tak PercayaKAJEN - Setelah Kades Tegaldowo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan mengundurkan diri karena beberapa kali didemo warga, kini giliran Kades Sidosari diminta mundur dari jabatannya. Warga melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD) secara resmi mengeluarkan mosi tak percaya. Badan legislatif di tingkat desa tersebut menilai kadesnya telah melakukan banyak penyimpangan dan kinerjanya rendah sehingga terpaksa mengirimkan surat mosi tak percaya yang dikirim ke Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Ketua Bawasda, dan Camat Kesesi. "Penyimpangan yang dilakukan Kades sudah terlalu banyak dan berlangsung lama," ujar Ketua BPD Tri Utomo seusai menyerahkan surat mosi tak percaya kepada Bupati H Amat Antono. Beberapa penyimpangan yang dilakukan, ujar Tri, antara lain pada Perubahan Anggaran 2003 ada dana tambahan dari Pemkab Rp 10 juta untuk pengadaan fisik kantor. Akan tetapi, dana itu sampai sekarang tidak diketahui penggunaannya dan fasilitas kantor yang diprogramkan tidak terealisasi. Menurut keterangan dia, Kades juga melakukan penyimpangan dana raskin dan PBB untuk keperluan pribadi. Indikasinya, uang raskin dan pembayaran PBB selalu paling akhir dan dibayar setelah ditagih Pemkab. Padahal, masyarakat telah membayar raskin dan PBB. "Pada masa pemerintahan sebelumnya, hal itu tak pernah terjadi," katanya. Selain itu, banyak program pembangunan yang tidak transparan dan dikelola sendiri oleh Kades sehingga lembaga di desa seperti LPMD, BPD, dan perangkat desa tidak berfungsi. Penjualan tanah bengkok kades dan perangkat desa juga dilakukan tanpa melalui musyawarah desa. Keinginan masyarakat untuk menuntut mundur Kades, tandas dia, sudah sekitar dua tahun. Bahkan, balai desa sudah beberapa kali disegel warga. "Pokoknya saat ini bisa dikatakan Pemerintah Desa Sidosari vakum," ujarnya. Kades Sidosari M Bisri hingga kemarin belum bisa ditemui. Wartawan yang mendatangi rumahnya juga tidak bisa bertemu. Seorang bocah berumur sekitar 12 tahun yang mengaku anaknya menuturkan, ayahnya tak bisa ditemu karena sedang sakit. Tidak datang Camat Kesesi Soehardjo tak membantah adanya ontran-ontran yang terjadi di Desa Sidosari. Pihaknya sudah berkali-kali memfasilitasi untuk memusyawarahkan masalah itu namun selalu gagal. "Setiap kami ajak musyawarah, Kades seringkali tak datang," ucapnya. Soehardjo bertekad akan tetap berusaha memfasilitasi agar masalah itu bisa terselesaikan. "Terakhir saya dengar Pak Bisri memang sedang terkena stroke sehingga sulit ditemui," ungkapnya. Kepala Bawasda Drs H Soesilo MM saat dimintai konfirmasi menandaskan, pihaknya baru saja menerima surat laporan tersebut dan masih mempelajari. "Kami tentu saja harus lebih dulu minta klarifikasi kepada kades dan camat sebelum melangkah lebih lanjut." (G16-42j) |