| Kamis, 27 Januari 2005 | PANTURA |
Dijual di Supermarket Harganya BerlipatPetani Berlomba Tanam PetaiUDARA dingin di kaki Gunung Slamet, seperti bukan halangan bagi petani di Kecamatan Bumijawa, Bojong, dan Jatinegara untuk berangkat ke sawah. Pemandangan seperti itu bagi warga di daerah pegunungan tersebut bukan hal aneh. Namun kalau toh mereka berangkat ke sawah agak siang, itu pukan bukan berarti mereka tidak bekerja. Sebab para petani ternyata memiliki pekerjaan lain yang tak kalah penting, yakni menyiangi tanaman di kebun. Apalagi, hari itu (pekan lalu) petani di tiga kecamatan tersebut akan memanen petai. Komoditas holtikultura yang kini tengah digalakkan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perhutanan (Tanbunhut) Kabupaten Tegal itu telah banyak ditanam petani, terutama di tiga kecamatan tersebut. Iklim yang dingin dan basah memang cocok bagi tanaman yang sering dipandang sebelah mata, meski juga sering menjadi penyedap masakan. Tidak heran, jika harga petai yang di tangan petani hanya Rp 300/untai, bisa berlipat Rp 1.000/untai bila dijual di supermarket atau mal. Di Kecamatan Jatinegara, misalnya, ada tiga desa yang warganya kini giat menanam petani, yaitu di Desa Cerih, Tamansari, dan Lebahsari. Jumlah pohon tercatat mencapai 32.859 batang. Tiap batang dapat menghasilkan lima sampai enam kuintal. Jika dijual per untai Rp 300, tentu keuntungan yang didapat petani cukup untuk menunjang penghasilan daripada menanam sayuran seperti kubis, wortel, dan buncis. Panen Terus Warijo (45) dan Ny Karti (37), dua petani di Desa Traju, Kecamatan Bumijawa, mengungkapkan, keuntungan penanaman petai cukup lumayan. Dia cukup sekali menanam pohon itu lalu tiap tahun panen terus. "Ini pakai sistem tempel yang disarankan petugas penyuluh pertanian lapangan. Saya tanam tiga tahun lalu, sekarang tiap tahun bisa panen. Lumayan hasilnya," tutur Ny Karti, tanpa menjelaskan perhitungan keuntungannya. Selain menanam petai, dia juga menanam selada, kubis, dan buncis. Tiga tanaman itu tiap saat harus ditanam jika usai dipanen. Namun, petai tinggal menunggu saat berbuah. "Yang penting tanaman dijaga. Ya disemprot agar tidak ada hama," tutur dia. Menurut Kepala Dinas Tanbunhut Drs Marzoeki Suryadijaya MM, total jumlah tanaman petani di 18 kecamatan di Kabupaten Tegal mencapai 107.135 pohon. Terbanyak, kata dia, memang ada di tiga kecamatan tersebut. "Pohon petai tiap tahun bisa dipanen. Pohon itu juga banyak menyerap air dan mendukung penghijauan di daerah pegunungan untuk mengurangi erosi tanah di lahan miring," tutur Marzoeki. Pohon petai terbanyak ditanam di daerah pegunungan. Misalnya di Kecamatan Bumijawa yang mencapai 45.114 pohon. Kemudian di Kecamatan Jatinegara 32.859 pohon. Ketiga, di Kecamatan Bojong 15.782 pohon. Dari 18 kecamatan hanya empat kecamatan yang tidak memiliki tanaman petai. Sebab daerah itu berhawa panas dan di pinggir pantai, yakni Kecamatan Dukuhturi, Kramat, Suradadi, dan Warureja. "Bagi saya, petani kini memetik keuntungan merupakan kebahagiaan tersendiri. Yang lebih penting tanaman itu banyak menyerap air, selain mendukung penghijauan juga mengurangi longsor atau erosi tanah. Karena itu kualitas tanah dapat terjaga," tutur dia. Kini dengan segala keuntungan yang dapat dinikmati petani, banyak petani di berbagai kecamatan berlomba menanam petai sebagai penghasil tambahan, selain tanaman lain di areal persawahan mereka.(Riyono Toepra-42i) |