logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Januari 2005 WACANA
Line

Perlu Dibangun Kesadaran Hemat Energi

Oleh: Kristiningrum - Mahasiswa Fisika FMIPA Unnes

APA pun alasan dan solusinya, kenaikan harga BBM tetap saja berdampak pada masyarakat kecil. Mereka yang akan terkena imbasnya. Pengalaman masa lalu membuktikan, setiap kali terjadi kenaikan harga BBM selalu diikuti oleh kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok.

Itulah sebabnya, mahasiswa di berbagai kota di Indonesia turun ke jalan, membakar ban bekas, menyandera truk tangki minyak, dan berorasi menentang kenaikan harga pertamax dan elpiji. Bahkan ibu-ibu di Jakarta, juga turun ke jalan membawa peralatan dapur memrotes kenaikan elpiji.

Hal ini terjadi karena mereka dibayangi beban yang semakin berat akibat kenaikan harga BBM. Tidak saja karena turunnya daya beli atas kebutuhan BBM, tetapi juga semakin lemahnya daya beli terhadap barang-barang kebutuhan lain.

Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak karena PT Pertamina mengalami kerugian. Dan untuk menutup kerugian itu diperlukan subsidi dari pemerintah melalui APBN. Seperti diungkapkan Kurtubi, pengamat perminyakan dari Program Pascasarjana FE UI (Kompas, 27/12/2004), realisasi subsidi BBM APBN 2004 jauh di atas yang dianggarkan. Untuk 2005, kalau harga BBM tidak dinaikkan, subsidi BBM akan mencapai sekitar Rp 75 triliun, sehingga sangat membebani negara. Karena itu harga BBM harus dinaikkan.

Langkah awal dengan menaikkan pertamax dan elpiji yang menjadi konsumsi kaum kaya. Kemudian akan disusul kenaikan harga BBM secara menyeluruh.

Selain itu, pemberian subsidi BBM selama ini juga dinilai kurang tepat sasaran. Sebab, masyarakat kecil ternyata hanya menerima sekitar 16% dari subsidi tersebut. Apabila subsidi BBM dikurangi dengan risiko harga BBM dinaikkan, maka subsidi itu tetap dapat diberikan kepada masyarakat.

Misalnya melalui subsidi di bidang pendidikan atau kesehatan, sehingga lebih tepat sasaran. Dan pelaksanaannya dapat dipantau secara langsung oleh masyarakat luas.

Mengenai kenaikan pertamax dan elpiji serta rencana kenaikan BBM secara menyeluruh, pengamat lain melihat hal itu sebagai kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Sebab, PT Pertamina sebagai satu-satunya perusahaan nasional yang menguasai masalah perminyakan, mulai dari pengeboran, pengolahan, sampai perdagangan minyak dan gas tidak mungkin rugi.

''Bukankah minyak dan gas bumi yang dikelola itu milik negara yang tidak harus dibayar?'' kata Kwik Kian Gie.

Selain itu, kebutuhan minyak nasional yang dipenuhi oleh sumber dalam negeri masih cukup besar, yaitu 70%. Sedangkan impor minyak mentah hanya 30%. Mengapa PT Pertamina bisa rugi? Yang menarik, seorang ibu saat diundang dalam dialog pro-kontra kenaikan BBM di sebuah stasiun televisi berkomentar: ''Jika Pertamina mengalami kerugian, mengapa banyak orang yang berebut menjadi pejabat Pertamina? Ini kan aneh.''

Karena itu, rencana kenaikan BBM sebaiknya tidak dilakukan dalam kondisi masyarakat belum memiliki kemampuan ekonomi yang kuat. Apabila pemerintah tetap menaikkan harga BBM, hendaknya juga diikuti dengan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Pemerintah harus dapat menyediakan lebih banyak lagi kesempatan kerja, menaikkan upah minimum, dan memberikan kompensasi kenaikan harga BBM dalam bentuk lain secara memadai dalam waktu jangka pendek.

Antisipasi

Ke depan, dalam jangka waktu panjang, mulai saat ini pemerintah hendaknya segera menyusun program untuk mengatasi masalah BBM yang semakin langka.

Pertama, hendaknya mengembangkan teknologi lain yang tidak tergantung kepada minyak bumi sebagai bahan bakar. Misalnya teknologi listrik yang menggunakan energi surya, air, angin, dan gelombang laut.

Sebagai contoh, proyek percobaan Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) yang mengubah Honda Life 1974 menjadi mobil listrik Indonesia (Molina). Bisa juga dengan mengembangkan kompor bertenaga surya, seperti pemanas air dengan solar sel. Selain itu perlu adanya sosialisasi kepada seluruh masyarakat agar mengembangkan kreativitas untuk membuat teknologi berbahan bakar selain minyak dan gas.

Kedua, mengusahakan produksi bahan bakar yang memanfaatkan sumber energi yang dapat diperbarui (renewable). Di Indonesia yang memiliki kekayaan flora dan fauna sangat mungkin membangun sebuah industri penghasil bahan bakar yang bersumber dari bahan nabati atau hewani.

Misalnya yang terjadi di Kuba, mengolah tebu menjadi eter sebagai bahan bakar. Dengan adanya dukungan dari semua pihak, tentu hal ini akan sangat mudah untuk diwujudkan.

Ketiga, pemerintah hendaknya segera melaksanakan sosialisasi hemat energi secara nasional. Masyarakat sebagai sumber daya manusia (SDM) perlu dibangunkan kesadarannya agar berperilaku hemat dalam memanfaatkan BBM. (29)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA