logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Januari 2005 NASIONAL
Line

Pintu Air Manggarai Sudah Tidak Memadai

JAKARTA - Pintu air Manggarai Jakarta Pusat yang dibangun tahun 1920 di masa pemerintahan Belanda, dinilai tidak memadai lagi menampung debet air Sungai Ciliwung. Itulah sebabnya daerah sepanjang aliran sungai itu seperti Kampung Melayu, Bukit Duri, Gang Arus, Bidara Cina, Kampung Melayu Kecil dan Kalibata menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba.

Menurut Kepala Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung Wahyu Hartomo, pintu air Manggarai memang didesain untuk menampung siklus hujan 100 tahunan yang debet airnya saat itu sekitar 250 meter kubik per detik.

Namun dalam perkembangannya dari tahun ke tahun debet airnya meningkat. Lonjakan debet air itu disebabkan oleh perubahan tata guna lahan dan kerusakan di daerah aliran Sungai Ciliwung. "Ciliwung merupakan satu dari 60 sungai di Indonesia yang daerah aliran sungainya rusak," ungkapnya, kemarin (26/1).

Berdasarkan hasil pengkajian pada tahun 1980, debet air yang melintas di pintu Manggarai mencapai 350 meter kubik per detik, jauh pesat peningkatannya ketika pintu air itu dirancang oleh Belanda.

Menurut Wahyu, pembangunan pintu air Manggarai -- yang terdiri atas dua pintu dengan lebar masing-masing 5,5 meter itu -- berbarengan dengan pembangunan saluran banjir kanal barat yang melintas dari Manggarai ke Kali Adem. Kanal buatan itu bertujuan mengamankan wilayah Batavia Kota seperti kawasan Jakarta Kota hingga ke kawasan Gambir.

Pintu Tambahan

Ramalan banjir sudah ada sejak zaman Belanda. Ketika itu pemerintah Belanda memba-ngun perkebunan teh yang luas di sekitar kawasan Cisarua, Puncak. Dengan banyak kawasan dibuka untuk kebun teh itu, Belanda memprediksi air yang akan langsung masuk ke Ciliwung akan lebih besar. Dengan demikian, mereka harus membangun saluran yang mengarahkan air langsung ke laut, hingga tidak menggenangi kawasan kota Jakarta.

Repotnya, dalam perkembangan selanjutnya kondisi Ciliwung menyempit di sana-sini. Jadi, jangankan untuk menampung hujan periode 100 tahunan yang debetnya sekitar 600 meter kubik per detik, untuk menampung siklus hujan 50 tahunan (sekitar 480 meter kubik per detik) juga akan sulit.

Dalam mengatasi kesulitan itu, pemerintah berencana membangun satu pintu tambahan di lokasi pintu Air Manggarai. Pintu air itu akan diletakkan di sebelah kanan dari dua pintu yang ada. Pembangunannya memakan waktu dua tahun.

Dana yang dibutuhkan untuk membangun pintu selebar 6 meter dan terowongan air yang melintas di bawah rel kereta itu diperkirakan mencapai Rp 20 miliar.

"Saat ini detail desainnya telah selesai, tinggal menunggu realisasi anggarannya," ujar Wahyu. (bu-78t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA