| Kamis, 27 Januari 2005 | NASIONAL |
Sekolah di Aceh Aktif Kembali
BANDA ACEH - Walaupun banyak gedung sekolah di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang hancur dihempas gempa dan tsunami, tidak berarti menghalangi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di wilayah tersebut. Mulai Rabu (26/1), kegiatan belajar mengajar di Aceh kembali dilaksanakan. Siswa-siswa dari sekolah yang gedungnya hancur, ditempatkan di beberapa sekolah terdekat yang masih berdiri. Semantara siswa yang mengungsi di kamp-kamp pengungsian, selain mendaftar di sekolah-sekolah terdekat, juga belajar di tenda-tenda darurat. Di kamp pengungsian Posko 85, Lhoknga, Aceh Besar, ratusan anak usia sekolah yang terdiri dari TK sampai SMP, belajar di tenda-tenda darurat yang diberikan UNICEF. Ada empat tenda yang menampung ratusan anak-anak tersebut. "Karena ini hari pertama, kita hanya melakukan pendataan dulu. Setelah itu, bermain dan menggambar," ujar Husni, salah satu mahasiswa asal Jakarta yang kini menjadi sukarelawan tenaga pengajar untuk murid-murid di posko tersebut, kemarin. Selain Husni, ada 30 sukarelawan pengajar lainnya di tempat tersebut. Sejauh ini, kendala yang paling dirasakan Husni adalah ketika dia mulai berkomunikasi dengan puluhan anak-anak usia SD tersebut. Sebab, sejumlah anak yang biasanya menggunakan bahasa daerah menjadi kesulitan ketika diajak berbicara dalam Bahasa Indonesia. "Tapi mudah-mudahan, ke depannya bisa lebih bagus. Pelan-pelan," katanya. Para sukarelawan itu akan bekerja selama 3 bulan sampai enam bulan. Perlengkapan Anak-anak tersebut, umumnya sudah memiliki perlengkapan alat tulis yang disumbangkan UNICEF. Tak ada siswa yang memakai baju seragam. Bangku atau meja juga tidak terlihat di setiap tenda. Mereka menulis, berhitung, dan menggambar di atas kertas, terpaksa menggunakan terpal alas tenda sebagai pengganti meja. "Banyak teman di sini. Tapi sedih karena sekolah sudah tidak ada lagi," tutur Ulfa Amna, murid kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Lhoknga. Dia terpaksa mengungsi ke tempat tersebut dengan 4 saudaranya. Sementara ayah dan ibu serta dua saudara laki-lakinya, tidak diketahui karena menjadi korban bencana gempa dan tsunami, pada 26 Desember 2004. Sementara itu, di SD Negeri 56 Banda Aceh, ratusan murid hadir dan melakukan daftar ulang. Para pengungsi yang sebelumnya berada di lokasi itu, dipindahkan ke lapangan bola yang tidak jauh dari lokasi sekolah tersebut. Meski umumnya para murid memakai seragam, terlihat satu dua murid yang memakai baju bebas. "Soalnya tidak punya baju lagi. Rumah kami sudah tidak ada," ungkap Novandi A, murid kelas V. Novandi yang kini tinggal sebatang kara, karena ayah, ibu, dan dua adiknya turut menjadi korban, mendaftar ulang ke sekolah tersebut ditemani pamannya. Tak ada lagi guratan kesedihan di wajahnya. Seperti anak-anak lainnya, Novandi bermain bersama teman-temannya. Menurut Wakil Kepala Sekolah SD Negeri 56 Yusfaini Spd, jumlah murid di sekolah tersebut 320 orang. Sampai kemarin, pendataan murid terus dilakukan. Namun kemungkinan besar, menurut Yusfaini, banyak muridnya yang selamat dari amukan gempa dan tsunami karena pada umumnya murid-murid SDN 56 tinggal di kawasan Ulee Kareng dan sekitarnya yang relatif aman dari amukan tsunami. "Guru-guru di sini juga selamat semua. Namun Ibu Kepala Sekolah, kehilangan dua orang anaknya dan masih mengungsi di Samalanga karena rumahnya hancur," tutur Yusfaini. Sekolah-sekolah lainnya di Banda Aceh, umumnya juga baru melakukan pendaftaran ulang. Proses belajar mengajar belum terlihat sampai siang hari. "Mungkin baru bisa mulai belajar seperti biasa pada Senin nanti," kata Yusfaini. Karena selain pendaftaran ulang, beberapa sekolah yang digabung di SD Negeri 4 Banda Aceh, seperti SD Negeri 15 Banda Aceh dan SD Negeri 38 Banda Aceh harus menyusun waktu belajar terlebih dahulu, agar tidak berbenturan. (dtc-69m) | ||||