| Kamis, 27 Januari 2005 | MURIA |
Transmigran yang Selamat dari Tsunami Aceh (1)Supadi Kecantol Kabel ListrikCERITA pilu teruntai dari mulut Supadi (43), warga Desa Kecapi RT 26/RW IV, Kecamatan Tahunan Jepara. Ia adalah transmigran yang selamat dari terjangan tsunami. Tapi, istrinya Marsinah (40), anaknya Afrianti (13), dan kedua cucunya Eva Yuliana (9) dan Ahmad Arif Fauzi (3) tergulung gelombang pasang setinggi kurang lebih 12 meter di rumahnya, Jl Malem Dagang, Kelurahan Keudah, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Sementara putrinya Siti Sulamah (25), dan Nur Slamet (30) menantunya yang ada di Peniti, sekitar 2,5 km arah selatan dari rumahnya, selamat, karena memiliki kesempatan berlari ke perbukitan. termasuk anak kedua pasangan ini yang juga cucu Supadi, Ahmad Hanif (5) juga selamat. Putrinya yang lain yang serumah dengan Supadi dan sudah berkeluarga, yaitu Siti Shalihah (29), menantunya Sumadi (32) juga selamat. Namun, anak Siti Shalihah, yang juga cucu Supadi, Eva Yuliana (9) dan Ahmad Arif Fauzi tewas tersapu tsunami. Demikian juga Afrianti (13), putri Supadi yang duduk di kelas II SMP Banda Aceh, ikut tewas. "Sisa nyawa ini sangat saya syukuri," tutur Supadi lirih. Bersama keluarganya, Supadi bertransmigrasi ke Meulaboh sejak 1985. Waktu itu ia bekerja sebagai petani biasa dengan meyewa rumah. Pada 2001 ia harus hengkang dari Meulaboh menuju Kutaraja, karena diusir tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Waktu pukul 24.00 kami bersama keluarga harus keluar kampung karena usiran tentara GAM. Mereka tidak memberi waktu bagi kami untuk berkemas," kenangnya. Mulai 2001, sebagai putra Jepara yang memiliki keahlian di bidang seni ukir, ia mencoba merintis usaha. Dengan modal seadanya akhirnya ia mampu memproduksi pesanan furniture dalam jumlah cukup banyak. Bahkan di rumah kontrakannya ia sudah memiliki mesin pengolah kayu, lengkap dengan peralatan-peralatan finishing. Takdir berkehendak lain. Minggu (26/12 2004) pagi itu seisi rumah tempat tinggal yang juga tempat kerjanya rata dengan tanah, tersapu air yang datang bagai kilat. "Padahal waktu itu pesanan barang menumpuk di rumah, sementara uang kontrakan Rp 8 juta baru kami bayarkan," tuturnya. Keruigian materi sekitar Rp 200 juta. Yang paling menyesakkan hatinya hingga sekarang adalah tewasnya anggota keluarga yang sangat dicintainya. Waktu kejadian, ia bersama istri, anak, dan cucu-cucunya ada di dalam rumah. Bagaikan mimpi tiba-tiba ia terempas air asin. "Tak ada waktu untuk menyelamatkan keluarga. Mereka lenyap tergulung air penuh sampah kayu, atap seng, dan barang apapun yang terbawa gelombang. Saya sendiri tak tahu posisi saya ada di mana," tuturnya. Dituturkan, di tengah kepanikannya terombang - ambing air, tubuhnya yang gemuk tertambat di bangunan lantai dua. "Entah rumah siapa saya tak tahu. Yang jelas jaraknya sekitar 500 meter dari rumah saya," katanya. Saat air kembali pasang dan bangunan tenggelam, ia kembali terlempar. Perutnya tergencet kayu, wajahnya terserempet seng yang mengakibatkan luka di keningnya sepanjang 10 cm. Lengan tangan kanannya juga robek. Sampailah ia di pucuk tiang listrik dengan berpegangan kabel yang terputus. Di tiang itu ia bertahan selama kurang lebih setengah jam. "Tidak ada ucapan lain yang saya katakan selain kalimat adzan. Tak terhitung saya mengulang-ulang azdan itu," lanjutnya. Setelah air surut setinggi dada ia baru berani berjalan menyusuri sampah dan mayat yang bergelimpangan. Sore hari ia bertemu anaknya Siti Shalihah dan menantunya Sumadi di pinggir sungai depan terminal angkutan Labi-Labi, sekitar satu km dari tiang listrik tempat ia bertahan. Setelah itu ia dibawa ke Masjid Raya Baiturrahman, berkumpul bersama yang lain. "Dua hari saya tak makan dan minum di masjid itu," katanya. Sampai akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit Kesdam selama 15 hari bersama putri dan menantunya. Setelah sembuh tak didapatinya istri, anak dan dua cucunya. "Berhari-hari saya membolak-balik tumpukan mayat, tapi saya tak menjumpainya. Dan akhirnya kami pasrah," katanya. (Muhammadun Sanomae /bersambung-15) |