| Kamis, 27 Januari 2005 | MURIA |
Mesin Es Koorei Dorong Kemajuan NelayanJANUARI 2005 Pura Group Kudus meluncurkan produk agroindustri, yakni berupa mesin es serpihan dengan bidikan utama nelayan. Gubernur H Mardiyanto belum lama ini menyaksikan demo pengoperasian produk baru tersebut, setelah sukses melempar produk mesin pengering padi/gabah dan biji-bijian. Gubernur pun tertarik, dan berjanji segera membawa Bupati se-Jateng untuk menyaksikan secara langsung peralatan tepat guna bagi nelayan itu. Dengan produk mesin es serpihan, pengering padi dan biji-bijian, serta pertanian sayur dan buah-buahan organik itu, Pura yang dikenal sebagai produsen security paper seperti kertas uang, hologram, dan surat-surat berharga, juga ingin memantabkan diri pada agroindustri. Pura meyakini, es dalam bentuk serpihan produk mesin bermerk Koorei itu, lebih efisien dan mampu mendongkrak kualitas ikan tangkapan nelayan. ''Selama ini nelayan menggunakan es balok yang dihancurkan terlebih dulu untuk menyimpan ikan hasil tangkapan,'' ujar Direktur Engineering Pura Group, Ronny Tirtobisono. Menurutnya, pecahan es balok yang tak beraturan dan kadang ada yang tajam, mengakibatkan tak sedikit ikan menjadi terluka. Di samping pendinginan tak merata, sehingga sebagian ikan membusuk. ''Dalam pasar yang global, kualitas ikan terutama untuk pasar ekspor menjadi tuntutan utama,'' tandasnya. Karena itu, pihaknya tertantang untuk memproduk mesin es yang secara ekonomi, nelayan yang modalnya tidak terlalu besar mampu menjangkaunya. Sehingga, diharapkan nantinya ikan tangkapan nelayan mampu bersaing dalam soal kualitas dan harga jual. Keseluruhan rancang bangun mesin es Koorei dilakukan oleh tenaga ahli Pura. Adapun bahan baku mesin tersebut 50 persen lokal, dan yang 50 persen lainnya masih harus diimpor. Ada enam pilihan dari sisi kapasitas produksi, yakni mulai dari 0,5 ton/hari hingga 20 ton/hari. Mesin yang berkapasitas 0,5 ton/hari misalnya berukuran 1,320 x 1,050 x 1,830 m dan berbobot 166 kg, kapasitas 1 ton/hari berukuran 0,750 x 0,600, 0,750 m dan beratnya 100 kg, serta kapasitas 20 ton/hari berukuran 4,900 x 3,550 x 5,400 m dan berbobot 2.500 kg. Ukuran maupun bobot mesin es Koorei lebih kecil setengah hingga sepertiga dibanding mesin es balok dengan kelas yang sama. ''Begitu pula listrik yang dibutuhkan untuk power jauh lebih irit, bisa menggunakan listrik PLN atau diesel. Untuk mesin yang berkapasitas 0,5 ton/hari membutuhkan listrik 1.850 watt, 1 ton/hari perlu 3.500 watt, serta untuk yang berkapasitas 20 ton/hari memerlukan listrik 78.000 watt. Ronny menerangkan, keterbatasan produksi es di lapangan antara lain menjadi penyebab kualitas ikan tangkapan nelayan kurang memenuhi standar. Ia menunjukkan contoh penelitian yang dilakukan di TPI Tasikagung, Rembang. ''Total kebutuhan es di TPI itu 150 ton/hari, tetapi pasokan es hanya ada 75 - 90 ton/hari, sehingga masih kurang antara 40 - 50 persen/hari dari kebutuhan,'' tuturnya. Selain pasokan kurang, tandasnya, kualitas es balok yang digunakan nelayan mengawetkan ikan dinilainya juga kurang bagus. ''Es sudah mencair selama dibawa kapal nelayan saat melaut dalam waktu rata-rata 5 hari, sehingga ikan hasil tangkapan saat sampai di darat sudah tidak segar lagi,'' paparnya. Ia menjamin, es serpihan yang dihasilkan mesin Koorei mampu bertahan (tidak mencair) dalam waktu 20 hari. (Prayitno-15) |