logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Januari 2005 SEMARANG
Line

Sebuah Sudut Amerika di IAIN Walisongo

DERETAN buku-buku berbahasa Inggris tertata rapi di sebuah ruangan yang terletak di sebuah sudut perpustakaan kampus perguruan tinggi yang terletak di pinggiran Kota Semarang.

Tak hanya buku yang jumlahnya lebih dari 1.100 judul. Di tempat itu juga tersedia 1.100 jurnal ilmiah, CD-room, majalah ilmiah berkala, DVD, dan kaset yang berisi segala hal tetek-bengek yang ada di Negeri Paman Sam. Mulai dari soal politik, pemerintahan, sejarah, ekonomi, sastra, hingga teknologi terkini.

Tak hanya itu, pengunjung pun bisa menggunakan komputer untuk mengakses dan sekaligus men-download jurnal ilmiah yang beredar di Amerika Serikat (AS) saat ini juga dari sebuah sudut pinggiran kota Semarang hanya dalam hitungan detik.

Hanya sekerjapan mata sesuatu yang sedang dibicarakan masyarakat George W Bush sudah diketahui dari layar berukuran 20 Inch. Ya, sebuah pintu untuk membuka ''isi perut'' AS kini tersedia di American Corner Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang.

Dunia makin sempit. Hanya karena sebuah benda yang diletakkan dalam suatu sudut ruang. Batas negara barat-timur makin tak kentara. Teknologi benar-benar mengalahkan segalanya.

''Melihat negara lain melalui kacamata film, televisi, dan kadang-kadang berita sensasional bukanlah cara yang baik untuk belajar tentang sebuah bangsa,'' ucap Charles N Silver Public Affair Officer Kedubes AS saat peresmian American Corner, Selasa (25/1).

Charles tak sedang melakukan propaganda. Bagi dia, kerjasama Kedutaan Besar AS dengan IAIN Walisongo itu tak lebih pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan antara barat-timur. Buah pemikiran ilmiah yang patut disebarluaskan tanpa pretensi apapun, selain, riil demi perkembangan pengetahuan sendiri.

Sebab, tak hanya IAIN Walisongo yang kebagian ribuan judul buku, DVD, dan jurnal ilmiah itu. Menurut Charles, lebih dari 90 negara yang memanfaatkan informasi akurat, perkembangan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi, dan perputaran peradaban negara adidaya sebagai tambahan pengetahuan masyarakat setempat.

''Tujuan sederhana program pertukaran adalah mengikis ketidakpercayaan yang mengakar dalam kebudayaan yang menyebabkan satu bangsa bertikai dengan yang lain,'' tutur dia mengulang ucapan senator AS J William Fulbright.

Rektor Prof Dr H Abdul Djamil MA mengungkapkan, negara Barat telah begitu paham khazanah dunia timur. Sebaliknya negara Timur sampai sekarang tak pernah bisa mengikuti perkembangan Barat. Melalui keberadaan American Corner, dia berharap, masyarakat dunia Timur cepat sadar, lebih terbuka lebar hati nuraninya betapa ketinggalan dibanding negara-negara Barat.

''Ketersediaan ilmu pengetahuan tentang AS yang hanya satu-satunya di Semarang ini jangan hanya digunakan sebagai pusat studi dan informasi. Kalau itu yang disadari mahasiswa dan masyarakat kampus ya tak ada bedanya dengan perpustakaan.''

Barat dan timur memang beda. Tapi apabila berbedaan diolah menjadi sumber kekuatan justru menjadi kedigdayaan yang maha kokoh. Sejarah dunia telah menunjukkan bagaimana kontak dengan orang-orang yang berbeda telah memberi manfaat bagi semua orang. AS sekarang tangguh karena terbentuk dari semua imigran dari belahan dunia lain.

Dunia akan sangat menderita kalau semua sama. Nah, dari sebuah sudut itulah mata dunia akan terbuka, betapa perbedaan itu indah. (Widodo Prasetyo-73)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA