| Kamis, 27 Januari 2005 | SEMARANG |
Menyongsong Pasar Imlek Semawis (2)Tanpa Partisipasi Bisa Kehilangan MaknaMENGHITUNG hari menuju Imlek, warga Pecinan Semarang mulai berbenah. Sejumlah toko di kawasan itu telah memajang pernak-pernik keperluan Imlek secara mencolok. Tak cukup itu, para pemilik toko mempercantik penampilan gerainya dengan aksesoris yang bernuansa merah dan kuning, khas Imlek. Di toko-toko sepanjang Jl Gang Pinggir atau Pasar Gang Baru terlihat berbagai barang yang terkait dengan perayaan tahun baru Cina itu, mulai dijajakan. Toko Bintang Jaya, yang beralamat di Jl Gang Baru 44 misalnya, memajang barang-barang Imlek-nya pada bagian paling depan. Sebatang pohon Me Hwa yang dilengkapi hiasan ayam dan koin emas ditempatkan di teras toko, bersama angpao dan coklat beraneka rupa. Barang-barang lain, seperti patung Dewa Rezeki (Jai Zen Ya), perlengkapan sembahyang dan perlengkapan lamaran diletakkan sedikit di belakang. Pemilik Toko Bintang Jaya, Ny Liong menuturkan pernak-pernik Imlek hanya tersedia di tokonya sekali dalam setahun. Toko itu biasanya hanya menyediakan barang-barang keperluan sehari-hari, seperti sembako, sabun dan makanan kecil. Sementara kue keranjang sebagai makanan khas perayaan Imlek, banyak dijual di toko-toko maupun lapak-lapak pedagang di Pasar Gang Baru. Kue itu tersedia dalam berbagai ukuran, warna, dan rasa. Dari yang konvensional, berwarna krem, hingga merah muda dan hijau dengan rasa pandan, stroberi, dan moka. Khusus memeriahkan Pasar Imlek Semawis, yang akan digelar 5-8 Februari mendatang, warga Pecinan diminta turut berpartisipasi. Salah satunya dengan memasang lampion di setiap rumah atau toko. Dengan demikian pada malam hari, gang-gang di kawasan itu akan menjadi benderang oleh nyala lampion. Tujuan Wisata Menurut Guru Besar Antropologi Undip Nurdien H Kistanto, Pasar Imlek Semawis yang digagas Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) merupakan upaya pengembangan kekayaan budaya yang tumbuh dan hidup di dalam masyarakat Semarang, utamanya komunitas Pecinan. Sebagai sebuah tradisi, pasar malam Imlek sempat mengalami mati suri. Untuk itu, penyelenggaraan kembali tradisi itu patut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Memang, dibanding kota-kota lain di dunia, apa yang dilakukan Semarang tergolong terlambat. Di kota-kota besar, seperti Sidney dan New York, berbagai festival seni budaya yang berbau etnik sering digelar. Hal itu dilakukan untuk menarik wisatawan, peneliti, dan para pendukung budaya lain. Satu hal yang penting dilakukan dalam pelaksanaan Pasar Imlek Semawis adalah pelibatan masyarakat, dan itu telah dilakukan panitia. Namun dalam pelaksanaan, keterlibatan aktif masyarakat masih belum begitu tampak. ''Saya lihat yang terlibat baru sebatas pengurus, maupun penggiatnya,'' ujar doktor lulusan Sidney University tersebut. Sebagai langkah awal, pencapaian itu sudah bagus. Terbukti grengseng dan sambutan masyarakat luas terhadap Pasar Imlek Semawis cukup hangat. Hampir tidak terjadi penolakan dari kelompok etnis maupun agama lain. Nurdien menyarankan, ke depan agenda tahunan itu lebih berorientasi pada ranah budaya nonfisik Pecinan.(Rukardi, Achiar M Permana-64) |