logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Januari 2005 KEDU & DIY
Line

Bekas Kandang Kambing Dijadikan Panti Semadi

SLEMAN - Banyak cara bagi umat Katolik untuk menenangkan diri, salah satunya dengan bersemadi. Sayang, tidak semua tempat bisa dimanfaatkan untuk hal itu. Namun, kendala tempat saat ini dapat diatasi dengan peresmian Panti Semadi Kasih di Klepu, Sleman, Yogyakarta.

Panti yang terletak di lingkungan Santa Theresia Alit Pingitan, Klepu tersebut diresmikan belum lama ini oleh Uskup Purwokerto Mgr J Sunarka SJ.

Bangunan yang dilengkapi dengan pendapa tersebut mampu menampung relatif banyak orang baik dari lingkungan sekitar maupun wilayah lain.

Panti Semadi Kasih terletak 600 meter utara lokasi ziarah Sendang Jatiningsih dan dibangun dalam bentuk joglo agar bisa menampung cukup banyak orang. Umat Katolik juga bisa memanfaatkan pendapa sebagai tempat beristirahat.

Selain bersemadi, tempat itu sekaligus sangat representatif untuk mengenang dan merasakan pengorbanan kasih Yesus Kristus. Mereka yang bersemadi di sana, harapannya akan semakin diteguhkan dan dikuatkan imannya.

''Semoga keberadaan panti ini bisa membuat hidup kita jadi lebih tenteram sehingga budaya kasih semakin mekar dan meluas mewarnai hidup kita semua,'' ujar Uskup Sunarka saat misa pemberkatan panti.

Upacara peresmian diikuti oleh ratusan umat, sejumlah pastur, frater, dan suster. Sementara itu, kor keroncong dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta ikut memeriahkan kegiatan tersebut.

Pinggir Sungai

Lokasi panti terletak di pinggir timur Sungai Progo di Padukuhan III, Pingitan, Sumberarum, Moyudan, Sleman. Bangunan berdiri di atas tanah seluas l50 m3 terdiri atas bangunan utama ukuran 8 x 8 meter dilengkapi ruang doa ukuran 3 x 4 meter dan disediakan dua kamar mandi.

Ketua lingkungan setempat, Markus Bogiman, menyatakan tanah kompleks bangunan Panti Semadi Kasih merupakan hibah Paulus Kariyowiyono yang tinggal persis di barat panti. Dia menghibahkan sebagian pekarangan miliknya untuk tempat semadi setelah mendengar usulan dari anaknya, Drs Saijo.

Anak sulung Kariyo itu meminta orang tuanya menghibahkan tanah setelah merasa mendapat wangsit. Konon, saat berada di Pekalongan, antara sadar dan tidak, tiba-tiba dia merasakan melihat sosok Yesus di pekarangan rumah orang tuanya di Padukuhan Pingitan.

Setelah itu, kemudian dia melakukan pendekatan dengan orang tuanya dan jadilah proses pembangunan panti. Ruang panti semadi dahulu adalah kandang kambing.(D19-76j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA