logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Januari 2005 INTERNASIONAL
Line

FEATURE

Indian Tzotzil di Meksiko Pilih Keyakinan Islam

SAN CRISTOBAL DE LAS CASAS - Islam ternyata mampu mendapatkan simpati orang-orang Indian suku Tzotzil di Negara Bagian Chiapas, Meksiko. Negara bagian yang sering bergolak itu basis perlawanan gerilyawan Zapatista, dan juga titik api konflik antersekte agama lain.

Dalam ''pertemuan dua kehidupan berbeda yang nyaris mustahil terjadi'', suatu aliran idealis Islam telah mengubah keyakinan sekitar 300 warga Tzotzil. Mereka termasuk kelompok Indian Maya, yang terkenal akan ritual keagamaannya yang meriah disertai pesta minuman keras.

''Sulit untuk belajar shalat dalam bahasa Arab, pada awalnya. Namun saya kini telah melakukannya dengan sepenuh hati,'' kata Muhammad Emin Lopez (46), pedagang buah yang masuk Islam pada 1995.

Dia melakukan shalat lima waktu sesuai dengan kewajiban Islam. Dia telah pergi haji ke Makkah dan mengikuti pengajian di masjid kecil di sekitar ladang jagung di pinggir kota San Cristobal de las Casas.

Di samping masjid itu, seorang wanita Tzotzil mengenakan gaun Indian warna-warni. Namanya sekarang adalah Karima. Dia sedang mencuci pakaian di sungai dekat gubuk-gubuk kayu.

Perkembangan Islam di daerah itu menimbulkan kecurigaan badan intelijen Meksiko. Mereka khawatir pada kemungkinan berkembangnya aktivitas teroris yang mengincar negara tetangga mereka, AS.

Namun kaum muslim Tzotzil mengaku sama sekali tidak tertarik pada militanisme dan terorisme. Mereka lebih memilih kehidupan moderat dalam Islam.

Tolak Zapatista

Banyak di antara mereka adalah eks penganut agama lain, yang pada 1970 terusir dari wilayah perkotaaan bersama pengikut Tzotzil yang mempraktikkan perpaduan ajaran suatu agama dan ritual Indian Maya kuno.

Sekitar 30.000 penganut Kristen Protestan terpaksa meninggalkan rumah mereka dan lebih dari 100 lainnya tewas, dalam konflik antarsekte sesama penganut agama itu.

''Rakyat tenggelam dalam kegelapan di Chiapas,'' kata Lopez. Dikatakan, agama-agama yang sudah ada terlebih dulu di sana saling bersaing, sementara kaum Zapatista hanya ingin menciptakan perang, bukan kedamaian.

Puluhan ulama Spanyol, yang mengenalkan Islam ke Negara Bagian Chiapas, masih hidup hingga sekarang. Pandangan politik dan ekonomi mereka radikal, seperti tidak mau menggunakan uang sebagai alat tukar, menolak membayar pajak, dan tidak mengakui eksistensi negara (Meksiko).

Namun para pemimpin gereja Meksiko dan kalangan akademis mengatakan, kelompok tersebut tidak punya kaitan sama sekali dengan aksi kekerasan di Chiapas.

Para ulama Spanyol tersebut - warga Barat yang masuk Islam dan dikenal dengan nama Murabitun - menolak bersekutu dengan Zapatista, 10 tahun lalu. Chiapas pun relatif tenang sejak itu.

Kini, dengan jumlah sekitar 330.000 jiwa, warga muslim Tzotzil yang menetap di daerah pegunungan Chiapas tidak pernah sepenuhnya menjadi bagian dari dunia Hispanik.

Bersama warga miskin Indian Maya yang lain, mereka membentuk tulang punggung gerakan gerilya Zapatista, yang mengobarkan perlawanan di Chiapas pada 1994 dan kini mengasingkan diri ke dalam hutan.

Salah Satu Opsi

Warga Tzotzil, seperti kebanyakan dari 12 juta suku asli Meksiko, sangat haus akan kegiatan spiritual.

''Mereka orang yang menjadi pengikut suatu agama tanpa peduli dari mana asalnya. Islam hadir hanya sebagai salah satu opsi,'' kata Felipe Arizmendi, kata seorang pakar agama di San Cristobal de las Casas.

Para pakar mengatakan, suku Maya menjadi pandai beradaptasi dengan berbagai keyakinan berbeda dan bersekutu ketika dunia luar memasuki hutan dan pegunungan tempat mereka tinggal.

''Itulah sebabnya mereka mampu bertahan begitu lama. Mereka dapat berada di garis depan. Mereka mau menerima proposal atau proyek politik apa pun yang ditawarkan kepada mereka selama 500 tahun terakhir,'' kata pakar antropologi Gaspar Morquecho.

Dikatakan, para pemimpin gerilyawan Zapatista menolak ajakan kelompok Murabitun untuk masuk Islam, ketika diadakan pertemuan di Chiapas pada Februari 1995.

''Mereka melakukan kontak awal dengan tentara Zapatista, namun gagal,'' kata Morquecho, penulis makalah akademis tentang muslim Chiapas. Sejak itu, Murabitun kurang menonjol di Chiapas. Mereka membangun sebuah masjid, madrasah, dan beberapa bisnis kecil.

Kaum wanita suku asli yang mengenakan jilbab dan pria Meksiko yang memelihara jenggot, tampak bekerja di sebuah kedai pizza di San Cristobal de las Casas (milik anggota Murabitun).

Pizza rasa pepperoni tidak terdapat dalam menu, kemungkinan karena mengandung daging babi yang dilarang dalam ajaran Islam.

Murabitun, yang didirikan seorang pria Skotlandia yang masuk Islam selama tinggal di Maroko pada 1960-an, berasal dari aliran Suni. Tetapi dia mempraktikkan ritual sufi yang mistis.

Mereka bersikap sangat kritis terhadap bunga uang yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka membela penghapusan mata uang, pajak, dan negara. (rtr-ben-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA