| Kamis, 27 Januari 2005 | INTERNASIONAL |
Cekcok Iran-AS Semakin PanasTEHERAN - Presiden Mohammad Khatami menyebut AS sebagai ''negara paling berbahaya bagi perdamaian dunia''. Dia menyatakan hal itu Rabu kemarin, sebagai tanggapan atas komentar Wapres AS Dick Cheney yang mengatakan Iran berada di puncak daftar negara-negara bermasalah. Ketegangan antara Teheran dan Washington, yang memutuskan hubungan diplomatik pada 1980, telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, Sebab, Amerika bersikap semakin keras terhadap negara Islam itu. ''Bila orang melihat negara-negara yang berpotensi menimbulkan masalah di dunia, Iran berada pada urutan teratas dalam daftar,'' kata Cheney, pekan lalu, saat Presiden George W Bush dilantik untuk masa jabatan kedua. Khatami, yang berbicara kepada para wartawan setelah bertemu dengan Presiden Afghanistan Hamid Karzai, menanggapi ucapan wapres AS itu dengan kecaman yang sama keras. ''Kami ingatkan, Amerika-lah yang berada di puncak daftar negara-negara yang membahayakan perdamaian dan keamanan dunia. Dan kami berharap, suatu hari kelak mereka sadar,'' katanya. Menurutnya, sangat kecil kemungkinan terjadi perubahan dalam kebijakan AS selama Presiden George W Bush masih berkuasa di Gedung Putih. Para pejabat Iran menegaskan, Teheran bakal membalas dengan bersemangat setiap serangan militer dari AS atau Israel. Menurut Cheney, serangan semacam itu - jika kelak dilancarkan - akan dilakukan untuk mengebom fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Stop Pengayaan Uranium ''Iran akan membalas langkah bodoh apa pun yang dilakukan Israel,'' kata Brigjen Mohammad Ali Jafari, komandan lapangan Garda Revolusioner Iran, seperti dikutip kantor berita semiresmi IRNA. Teheran membantah tuduhan AS dan Israel bahwa fasilitas nuklirnya akan digunakan untuk membuat bom atom. Iran mengatakan, ambisi nuklirnya tidak lebih untuk kepentingan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Untuk menghilangkan kecemasan dunia atas program nuklirnya, Iran setuju menghentikan aktivitas yang dapat digunakan untuk membuat materi bom nuklir, seperti pengayaan uranium. Teheran juga mencoba mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa (UE). ''Perundingan-perundingan dengan UE belum menemui jalan buntu,'' kata Khatami. ''Tentu, kami punya sikap dan kami berbicara dengan UE. Kami harap, kami dapat mencapai kesepakatan.'' Iran kemarin juga membantah komentar para pejabat tinggi Israel, pekan ini, yang menyebutkan ambisi Teheran untuk memiliki senjata nuklir ''tidak mungkin melangkah mundur lagi''. Iran, yang menolak mengakui hak Israel untuk eksis, bersikukuh program nuklirnya sepenuhnya untuk tujuan damai. Teheran justru menuduh Israel sebagai satu-satunya negara yang punya senjata nuklir di kawasan Timur Tengah. ''Klaim-klaim tak beralasan yang dilontarkan para pejabat AS bertujuan untuk mengalihkan perhatian dunia dari aktivitas teror Israel dan upaya memperhebat kekuatan nuklir sekutunya itu,'' tuding Hamid Reza Asefi, juru bicara Deplu Iran, dalam suatu pernyataan. Israel Tolak NPT Dia menambahkan, Israel - tidak seperti Iran - menolak untuk menandatangani Traktat Antipenyebaran Nuklir (NPT), atau menempatkan fasilitas nuklirnya di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) PBB. ''Namun Israel dengan kurang ajar mencoba menggambarkan aktivitas nuklir Iran yang damai sebagai ancaman bagi dunia,'' katanya. Diyakini menjadi satu-satunya negara Timur Tengah yang punya senjata nuklir, Israel mengebom reaktor nuklir Iran di Osirak, pada 1981. (rtr-ben-30) |