| Kamis, 27 Januari 2005 | EKONOMI |
Tahun Ini Penjualan Mobil Diperkirakan Meningkat 10%MINAT membeli mobil baru tak pernah surut. Bahkan tahun ini permintaannya diperkirakan nail 10% dari tahun lalu menembus 520 ribu unit. Perkiraan itu mulai disiasati oleh para pelaku industri otomotif lewat penawaran berbagai model baru dan harga khusus untuk meraih angka penjualan tinggi. Bambang Trisulo, Ketua Umum Gaikindo memprediksi penjualan mobil tahun ini akan melewati 520 ribu unit. Tahun lalu angkanya mencapai 483 ribu unit. ''Selain daya beli masyarakat naik, kenyataan mobil pribadi masih menjadi pilihan transportasi paling aman dan nyaman,'' ujarnya. Jenis mobil yang paling diminati masyarakat tidak bergeser dari tahun lalu, yakni multi purpose vehicle (MPV) sejenis Kijang dan sport utility vehicle (SUV). Hampir semua pemain memproduksi kedua jenis mobil tersebut. Pasar mobil SUV dalam negeri saat ini didominasi oleh beberapa merek. Antara lain Nissan X-Trail, Nissan Terrano, Honda CR-V, Suzuki Escudo, dan Ford Escape. KIA Sportage II yang baru saja diluncurkan diperkirakan akan segera mengikuti. Untuk kelas yang lebih besar ada Toyota Land Cruiser dan Mitsubishi Pajero. Beberapa merek papan atas, antara lain BMW, Mercedes, dan Volvo, tak mau kalah juga mengeluarkan SUV. Kendaraan jenis tersebut memang cocok dengan kondisi alam dan jalan di Indonesia. Selain itu, orang Indonesia lebih suka bepergian secara berkelompok dibandingkan dengan sendirian. Tak mengherankan kalau mobil serbaguna (MPV) yang lebih kecil, misalnya Kijang Innova), Honda New Odissey, bahkan juga Suzuki APV, Daihatsu Xenia , serta Toyota Avanza didesain untuk mampu memuat banyak orang. Kenyataan menunjukkan di Indonesia yang paling laku adalah jenis MPV. Toyota diperkirakan tetap menguasai pasar hingga 40%. Sisanya diperebutkan merek-merek dari Korea, Eropa, dan AS. Melihat SUV cukup banyak peminatnya, PT KIA Mobil Indonesia sebagai agen tunggal pemenang merek (ATPM) KIA Korea menargetkan kenaikan penjualan 10% menyusul peluncuran Sportage II. ''Kenaikannya akan mencapai 2.500 unit khusus untuk SUV,'' kata Suwanda Setiadi, Sales & Marketing Director PT KIA Mobil Indonesia. Sementara itu PT Hyundai Mobil Indonesia selaku ATPM Hyundai Korea menyiapkan stok kendaraan lebih banyak mengantisipasi lonjakan permintaan tahun ini. Presiden Direktur Jongkie D Sugiarto mengatakan strategi tersebut dilakukan karena dalam beberapa waktu terakhir pihaknya kesulitan mengimpor kendaraan dari Korea. ''Padahal ketika itu permintaan cukup tinggi. Karena itu, kami berupaya agar stok produk selalu tersedia,'' ujarnya. Target penjualan Hyundai tahun ini 13 ribu unit atau naik dari tahun 2004 sebanyak 10 ribu unit. Namun hingga saat ini pihaknya belum bisa mempublikasikan berapa nilai hasil penjualan tahun lalu karena masih dalam proses audit. Head Coorporate Communications PT Hyundai Mobil Indonesia, Ageyani Malano, mengatakan perusahaannya terus mengeluarkan mobil Hyundai terbaru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen, sehingga penjualan tahun ini bisa meningkat. Juli 2005 mendatang pihaknya akan meluncurkan 2 produk terbarunya sekaligus, yakni Tysan dan Atoz baru setelah 6 mobil produknya, yakni Atoz, Getz, New Accent, Matrix, Santa Fe, dan Trajet cukup sukses di pasaran. ''Produk baru itu memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang lain. 'Tunggu saja Juli nanti,'' ujarnya. Mengenai kesulitan mengalahkan pasar mobil Jepang, Ageyani mengatakan hal itu hanya soal waktu. Hyundai baru beroperasi di Indonesia delapan tahun, sedangkan mobil-mobil Jepang rata-rata sudah puluhan tahun. Bagi yang sudah memiliki kendaraan boleh lega, karena tahun ini harga produk industri manufaktur, terutama mobil, diprediksi bakal naik 2%-10%. Itu terjadi akibat ada kenaikan ongkos produksi, bahan bakar, biaya balik nama, dan kenaikan komponen lainnya antara lain upah pekerja. PT Astra International Tbk, misalnya, sudah berancang-ancang menaikkan harga jual Daihatsu Xenia rata-rata 2,5% menyusul kenaikan biaya produksi dan bahan baku, terutama baja. Kenaikan harga itu jatuhnya sekitar Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta/unit. Harga baru itu dibebankan kepada konsumen yang sudah melakukan pemesanan. PT BMW Indonesia juga akan menempuh langkah serupa. Presiden Direktur Josef Honsel menyebutkan penyesuaian harga itu merupakan bagian dari kebijakan harga perusahaannya. Di antaranya mempertimbangkan aspek inflasi, kurs mata uang, dan beberapa faktor ekonomi lainnya. Dari sejumlah produsen kendaraan bermotor barangkali hanya PT Toyota Astra Motor yang belum berani menaikkan harga tahun ini. Kendati sudah disadari risikonya, bagi perusahaan itu keputusan menaikkan harga harus dilakukan hati-hati. Apalagi beberapa waktu lalu sudah ada penyesuaian harga. Avanza, Altis, dan Vios sudah lebih dahulu naik minimal Rp 500 ribu/unit. (Wahyu Atmaji-53) |