logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Januari 2005 EKONOMI
Line

Sering Menolak Order karena Modal Terbatas

GEMURUH kompresor yang sesekali ditimpali ketukan palu serta bising mata bor listrik yang beradu tajam dengan logam pada suatu siang terdengar jelas di rumah Safrudin di RT 1/RW 3 Desa Sunggingan No 246 Kecamatan Kota, Kudus.

Dinamika hidup tersebut sudah mulai berdenyut sejak 1992, saat orang tuanya mendirikan usaha pembuatan logo mebel yang kini dia tekuni.

Dengan modal awal sekitar Rp 2 juta dan tiga orang pekerja usaha yang menghasilkan produk yang dibutuhkan banyak industri mebel, khususnya di Jepara untuk label, perlahan tetapi pasti mulai menunjukkan kemajuan berarti.

Selain di Kota Ukir, kerajinan logo mebel Lancar Arto yang dikelola ayah beranak satu tersebut mampu merambah Semarang. Bahkan juga dipasarkan di beberapa kota Jatim.

''Saya hanya meneruskan usaha ayah,'' ujar Safrudin.

Di samping logo mebel sebagai produk andalan, pihaknyamenerima pesanan berupa lencana, plakat, serta aneka kerajinan dari fiber glass dan kuningan.

Ia juga sering menerima pesanan door set, steamer, dan lounger. Pada awalnya membuat logo untuk karoseri mobil, Tetapi sejak 1997 produksi kerajinannya lebih difokuskan pada logo mebel.

''Selain logo mebel, produk lainnya hanya dibuat jika ada pesanan,'' jelasnya.

Kini dengan lima belas pekerja di bengkel usahanya setiap bulan rata-rata mampu menghasilkan 50 ribu logo mebel. Bahan baku yang diperlukan berupa kuningan dan stainless steel. Konsumsi bahan baku kuningan setiap bulan rata-rata 200 lembar dan stainless steel 10 lembar.

Bahan Baku

Bahan baku dipasok dari pedagang di Semarang, Juwana (Pati), dan Kudus. Harga selembar kuningan berukuran 36 x 120 cm Rp 84 ribu, sedangkan stainless steel ukuran 1 x 2 m Rp 500 ribu.

''Bahan baku mudah didapatkan di pasaran. Sampai sekarang tidak ada masalah soal bahan baku,'' ungkapnya.

Peralatan kerja yang digunakan untuk memproduksi logo mebel yang saat ini dimiliki adalah dinamo mesin (7 unit), kompresor (2), bor mesin (2), dan pisau potong (8). Di pasaran harga perkakas tersebut dalam keadaan baru adalah dinamo sekitar Rp 300 ribu, kompresor Rp 1,3 juta, bor mesin Rp 900 ribu, dan pisau potong Rp 250 ribu.

Dengan harga logo mebel berkisar Rp 1.000 untuk dimensi 0,6 mm x 3 cm x 4 cm dan Rp 2.000 dimensi 1,5 cm x 3 cm x 4 cm serta persaingan usaha sejenis yang kian ketat, ia mengaku mampu meraup keuntungan bersih Rp 7,5 juta/bulan.

Jika memungkinkan, maka untuk mengembangkan usahanya Safrudin berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Namun upaya tersebut selalu dihadapkan pada kendala klasik berupa keterbatasan modal.

''Seringkali saya tidak bisa melayani permintaan dalam jumlah besar karena modal terbatas,'' ujarnya.

Dulu pernah menerima order membuat logo mebel senilai Rp 200 juta. Saat itu ia kebingungan karena tidak tahu dari mana harus mendapatkan pinjaman uang untuk modal.

Akhirnya ia meminjam dana dari sebuah bank dengan bunga 2%. Keadaan tesebut sampai sekarang masih sering terjadi sehingga mendorong untuk berpikir dari mana harus mendapatkan tambahan modal.

''Saya sering menolak order karena modal usaha yang terbatas,'' ujarnya. (Anton Wahyu Hartono-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA