| Kamis, 27 Januari 2005 | EKONOMI |
Belum Ada Titik Terang Sengketa Semen GresikJAKARTA-Sengketa antarpemegang saham PT Semen Gresik (Persero) Tbk, yakni Pemerintah Indonesia dan Cemex (Meksiko) belum ada titik terang. Menteri Negara BUMN Sugiharto yang semula optimistis akan ada kesepakatan harus lebih bersabar lagi, karena keinginannya agar Semen Gresik membuat pabrik baru dan memberi kesempatan Cemex memiliki 51% saham tidak mudah direalisasi. Semen Gresik sampai saat ini belum berencana mendirikan perusahaan semen patungan. Kalau pun ada rencana membangun pabrik dengan investasi sekitar 350 juta dolar AS, maka tidak dalam bentuk joint venture atau patungan serta tidak dalam waktu dekat. ''Kami bisa membangun pabrik sendiri,'' tegas Satriyo, Direktur Utama PT Semen Gresik di Jakarta, kemarin. Menurut dia, untuk membangun pabrik semen baru paling tidak dibutuhkan waktu 3-4 tahun dan dua bulan untuk studi kelayakan. Semen Gresik saat ini mempunyai dana 100 juta dolar AS. Kalau memang ingin mendirikan maka bisa dengan dana pinjaman asing atau menerbitkan obligasi. Ia mengaku belum mengetahui rencana pemerintah membangun perusahaan semen baru dalam bentuk usaha patungan dengan Cemex dan porsi saham Semen Gresik hanya 49%. Sebagaimana diberitakan, kemelut Pemerintah Indonesia dan Cemex, di antaranya soal penjualan saham pemerintah di Semen Gresik, saat ini masih berlarut-larut. Menteri Negara BUMN Soegiharto Senin lalu mengklaim telah tercapai kesepakatan dengan Cemex dan akan dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) keesokan harinya. Namun Soegiharto lantas meralat ucapannya. Menurut dia, pemerintah belum bisa mencapai kesepakatan soal substansi dengan Cemex, sehingga MoU belum bisa ditandatangani. ''Hanya satu masalah yang sudah tercapai kesepakatan, yakni soal pencabutan sidang arbitrase pada 12 Januari lalu,'' ujarnya. Itu artinya pemerintah sedikit lega, karena jika dalam arbitrase di Washington, AS, akhirnya dimenangi Cemex maka pemerintah harus membayar denda 500 juta dolar AS sebagaimana kasus Karaha Bodas. Cemex berharap bisa mencapai kesepakatan dengan Pemerintah Indonesia terkait dengan kemelut di Semen Gresik pada 28 Februari mendatang. Saat ini Cemex tengah mengupayakan proses negosiasi. (wa-53) |