logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Januari 2005 EKONOMI
Line

DSP untuk Menambah Akses Usaha Kecil

JAKARTA-Melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP) Bank Danamon menambah akses kepada usaha mikro dan kecil untuk mendapatkan layanan perbankan. Di sisi lain, kontribusi BPR terhadap kebutuhan pinjaman seluruh segmen dinilai sangat kecil.

''Inisiatif mendirikan DSP merupakan langkah baik demi memajukan usaha mikro dan kecil yang menjadi salah satu pilar ekonomi nasional paling penting,'' tegas Presiden Direktur Bank Danamon Francis A Rozario di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, berdasarkan statistik hasil riset Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) ada lebih dari 42 juta usaha mikro dan kecil di Indonesia.

Malah Deputi Gubernur BI Maulana Ibrahim dalam seminar mengenai micro banking di Bali Desember 2004 mengatakan 40 juta usaha kecil tidak mempunyai akses pada layanan perbankan, terutama bank komersial.

''Dalam salah satu diskusi Bapak Rudjito Direktur Utama Bank BRI menyambut baik niat kami masuk ke segmen itu karena masih banyak usaha mikro dan kecil yang belum terlayani oleh perbankan. Tugas itu tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Bank BRI,'' paparnya.

Ketika memulai DSP, pihaknya mendapat tanggapan baik dari Bank BRI yang beranggapan untuk melayani sektor tersebut diperlukan institusi yang bersedia memberikan komitmen jangka panjang.

''Mereka menyambut baik keinginan kami melayani segmen tersebut. Bukankah suatu hal yang baik memberikan akses dan pilihan kepada pengusaha mikro dan kecil?'' kilahnya.

Mengenai keluhan Perbarindo bahwa Bank Danamon membajak karyawan BPR, Francis menyatakan saat Bank Danamon memulai DSP memang merekrut beberapa karyawan BPR. Namun jumlahnya tidak banyak.

Komitmen

Setelah pertemuan dengan Perbarindo beberapa waktu lalu, pihaknya menyampaikan komitmen tidak lagi merekrut karyawan BPR.

''Keluhan Perbarindo lainnya adalah Bank Danamon membajak nasabah BPR. Kami tidak pernah secara khusus menargetkan nasabah BPR, karena ingin melayani siapa saja yang membutuhkan layanan perbankan,'' paparnya.

Ia menambahkan perpindahan nasabah umumnya untuk mencari produk dan layanan yang lebih baik, bukan karena suku bunga yang lebih rendah sebagaimana dikeluhkan oleh Perbarindo.

Suku bunga produk pinjaman DSP, lanjut dia, mengikuti suku bunga Bank BRI yang merupakan market leader segmen usaha mikro dan kecil.

Perbarindo, kata dia, juga mengemukakan keberatan ada cabang-cabang Bank Danamon di tingkat kecamatan.

Padahal sebelum ada DSP banknya telah mempunyai cabang di kecamatan dan hal itu tidak melanggar aturan yang berlaku.

Dalam pertemuan dengan Perbarindo beberapa waktu lalu, sambung dia, pihaknya mengungkapkan lagi komitmennya untuk melanjutkan linkage program dengan BPR.

Hingga kini lebih dari 100 BPR yang menjadi nasabah Bank Danamon dengan total pembiayaan di atas Rp 200 miliar dan suku bunga sama dengan yang diberikan kepada nasabah usaha kecil menengah (UKM) pada umumnya.

''Selanjutnya, BPR menyalurkan dana tersebut dengan bunga lebih tinggi kepada usaha mikro dan kecil.

Kami mendukung BPR karena pada akhirnya makin banyak usaha mikro dan kecil yang terlayani,'' ujarnya.

Bank Danamon dan Perbarindo, kata dia, sepakat pula tetap menjaga keterbukaan komunikasi demi menghindari kesalahpahaman pada masa mendatang.(bn-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA