| Kamis, 27 Januari 2005 | EKONOMI |
Bersaing Memperebutkan Nasabah KecilKRISIS perbankan yang dipicu oleh pembengkakan kredit macet sektor korporasi beberapa tahun silam menyebabkan trauma berkepanjangan pada perbankan nasional. Akibatnya, hingga kini mayoritas bank memfokuskan penyaluran kreditnya ke sektor ritel termasuk usaha kecil menengah (UKM). Kebijakan itu diambil karena risikonya sangat kecil dan peminatnya besar. Kredit ritel ternyata mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi. Bahkan, menjadi primadona dan menjadi rebutan para bankir. Semua bank sekarang berlomba-lomba mengucurkan kredit ritel melalui berbagai fasilitas serta kemudahan yang diberikan kepada calon nasabah. Kredit jenis itu pula yang mampu menggerakkan denyut ekonomi pada saat krisis, terutama UKM, meski banyak pula yang digunakan untuk kepentingan konsumtif, misalnya membeli mobil dan rumah. Bank Danamon yang kini sebagian besar sahamnya dikuasai asing juga melirik sektor UKM. Bank tersebut mendirikan divisi khusus, yakni Danamon Simpan Pinjam (DSP). DSP bertugas mengembangkan usaha skala mikro dan kecil. Hingga tahun ini secara nasional Bank Danamon berencana mengembangkan sekitar 600 unit DSP yang melayani ratusan komunitas pengusaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia. "Fokus DSP melayani para pedagang di pasar tradisional," ujar Emanuel Kristiadi, Unit Manager DSP Shopping Center Johar (SCJ). Selama ini para pelaku usaha kecil memang enggan berurusan dengan bank karena birokrasi yang berbelit-belit dan memakan waktu lama. Bank Danamon mengambil celah ekspansi melalui proses pencairan kredit dalam waktu 2-3 hari. Sistem layanan yang diterapkan itu mampu menyentuh pasar. Misalnya tersedia pinjaman Rp 10 juta untuk keperluan apa saja tanpa jaminan. Selain itu, rata-rata pinjaman yang diberikan maksimal sampai Rp 200 juta, sedangkan bunga proporsional atau bergantung pada kredit yang diminta. ''Di wilayah kerja kami, yakni Pasar Johar dan Pasar Kobong (Rejomulyo), nasabah kredit sekitar 300 orang,'' jelas Emanuel. Selain kredit, DSP melakukan pengumpulan dana pihak ketiga dengan nama Dana Simpan. Menariknya, petugas DSP berkeliling menarik dana setoran sehingga nasabah tidak perlu datang ke kantor DSP. ''Nasabah kami sebagian besar pedagang sehingga tentu sulit untuk meninggalkan dagangannya. Untuk itu kami menerjunkan tim yang setiap hari berkeliling mengambil setoran,'' ujarnya. Model semacam itu ternyata menarik hati nasabah. Misalnya DSP Unit SCJ yang belum satu tahun beroperasi telah mendapat lebih dari 300 nasabah. Namun manajemen DSP belum bersedia memberikan data berapa nilai kredit yang sudah tersalurkan. BPR Resah Ekspansi Bank Danamon lewat DSP sangat dicemaskan oleh pengelola Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Mereka resah karena DSP begitu cepat hadir hampir di seluruh pelosok daerah. Bahkan DSP dituding telah mencaplok nasabah serta membajak direksi dan karyawan BPR. "Mereka menggarap segmen nasabah kecil dan mikro sebagaimana yang kami lakukan," kata Gatyt Sari Ch, Ketua Perbarindo Komisariat Semarang. Bank Danamon juga dinilai mendirikan DSP di daerah yang BPR-nya sukses. Perbarindo kemudian mengadukan kasus persaingan tidak sehat itu kepada Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter serta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). ''Kalau mereka tetap dibiarkan masuk pasar-pasar tradisional dan kecamatan, maka bukan tak mungkin setahun ke depan akan banyak BPR yang kolaps," tegas Gatyt. BI pun dituding tidak fair karena selama ini BPR dibatasi membuka 1 kantor cabang baru setiap tahun, sedangkan DSP tidak dibatasi. Selain itu, hasil survei BI menyebutkan di setiap daerah yang sudah jenuh pasarnya tidak boleh didirikan BPR. Menariknya, ''perseteruan'' antara DSP dan BPR-BPR itu ternyata tidak berpengaruh terhadap nasabah ''kecil'' yang menjadi targetnya. Beberapa pedagang di Pasar Johar baik yang menjadi nasabah BPR maupun DSP mengaku tidak ambil pusing pada permasalahan itu. Bagi mereka yang penting bisa memperoleh kredit secara mudah atau tidak berbelit-belit serta angsurannya tak memberatkan. ''Saya butuh pinjaman Rp 5 juta. Pinjam di bank belum tentu disetujui. Kalau sekarang banyak yang menawari kan malah lebih baik,'' ujar Ny Santo, pedagang kelontong yang menjadi nasabah DSP. Di tengah persaingan merebut pasar ''si kecil'' itu ternyata masih menyisakan kisah betapa sulit memperoleh kredit. Misalnya yang dialami oleh Supriyanto perajin sepatu di Jalan Suyudono, Semarang. Ia mengaku lelah berurusan dengan bank dan lembaga keuangan mikro lainnya lantaran tak mendapat kucuran kredit. Pria 35 tahunan itu akhirnya memutuskan tetap meneruskan usahanya memproduksi sepatu kulit dengan modal sendiri meskipun pas-pasan. "Sebenarnya ingin mengembangkan usaha yang sudah saya rintis tujuh tahun lalu. Cuma karena tidak ada bank yang mau mengucurkan kredit usaha ini bagai hidup segan mati tak mau," ujarnya. Lebih ekstrem lagi, ia mengaku makin kebingungan karena pemerintah terus berteriak agar bank memprioritaskan kredit ke sektor UKM. "Dana itu mana? Perbankan tetap saja tidak mau mengucurkan kredit kepada UKM sebagaimana saya ini," tuturnya. (Arie Widiarto-53) |