| Senin, 24 Januari 2005 | RAGAM |
Syukur Nikmat (2)SEORANG mukmin atau muslim bila memperoleh suatu nikmat dari Allah SWT atau terhindar dari suatu musibah, maka ia akan tunduk bersujud kepada Allah SWT. Hal itu dapat dilakukan dalam bentuk sujud syukur. Berdasarkan ayat-ayat yang termuat pada ''Syukur Nikmat (1)'' (SM 10/1), dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang yang benar-benar beriman selalu patuh serta taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Serta selalu memandang putusan Allah yang benar dan adil. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan dan kemenangan di dunia sebagai bekal untuk di akhirat nanti. Kemerdekaan merupakan karunia dan nikmat dari Allah SWT. Kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan suatu rahmat dan karunia dari-Nya. Sebagai rakyat Indonesia, sudah sepatutnya bersyukur kepada-Nya atas kemerdekaan yang kita dapat selama ini. Bangsa ialah kesatuan orang-orang yang sama asal keturunan, bahasa, adat, dan sejarahnya, serta mempunyai pemerintahan sendiri. Menurut kodratnya manusia diciptakan oleh Allah untuk saling kenal-mengenal antara sesamanya. Hal ini terbukti dalam firman Allah SWT: ''Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.....'' (QS. Al Hujuraat:13). Dari kehidupan berbangsa dan bersuku-suku, timbul norma-norma aturan untuk kepentingan bersama. Ada yang mengatur dan ada pula yang diatur sehingga terbentuklah suatu negara. Negara yang ada di dunia ini satu sama lain saling membutuhkan. Kemakmuran dan keadilan harus diupayakan karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum bangsa itu sendiri mengubahnya sebagaimana firman Allah SWT.:''....Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (bangsa) sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...'' (QS. Ar Ra'd: 11). Kita harus banyak bersyukur kepada Allah SWT karena berkat rahmat-Nya dapat hidup dalam bangsa dan negara yang merdeka. Wujud syukurnya antara lain berusaha membangun serta memajukan bangsa dan negara. Apabila kita ingin menjadikan bangsa ini maju, sumber daya manusia harus ditingkatkan agar dapat mengolah kekayaan yang terkandung dalam bumi dan langit. Allah menciptakan segala apa yang ada di bumi dan di langit untuk manusia. Dengan bekal kemampuan akalnya, manusia diharapkan dapat menggali sumber daya alam. Jadi pengertian syukur nikmat berbangsa dan bernegara adalah memanfaatkan sumber daya alam untuk kepentingan bersama. Dengan demikian dicapai kemakmuran dan keadilan yang merata serta dapat mewujudkan ketertiban dunia. Oleh karena itu hendaklah semua bersatu dalam membangun bangsa dan negara kita agar hidup damai dan tentram, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi: ''Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.....'' (QS. Al Imran:103). Allah mewajibkan kepada semua manusia agar bersatu dalam melaksanakan ajaran agama dan menjauhi segala yang menimbulkan pepecahan serta permusuhan. Karena persatuan itu adalah salah satu nikmat Allah yang besar, yang harus disyukuri dan dipelihara sebaik-baiknya. Nikmat Allah yang dianugrahkan kepada kita tidak terhitung jumlahnya. Jika hendak mencoba menghitung, pasti kita tidak akan mampu untuk menghitung/melakukannya sebagaimana firman Allah SWT: ''......Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).'' (QS. Ibrahim:34). Nikmat Allah ada yang diberikan sebelum hamba-Nya meminta dan ada yang diberi sesudah seorang meminta/memohon. Nikmat dunia diberikan kepada semua orang, baik yang beriman maupun yang kafir. Yang menjadi kekalnya nikmat adalah syukur karena syukur itu sebagai pengingat nikmat sehingga nikmat itu dapat kekal. Allah tidak akan menyiksa hamba-Nya yang bersyukur sebagaimana firman Allah SWT: ''Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman....'' (QS. An Nisaa':147). Suatu contoh yang paling mudah ialah diberi ilmu tentang kesopanan. Apabila ilmu ini disyukuri dengan jalan berbuat sopan santun, menjaga diri agar tidak tercela, tentu kenikmatan itu akan kekal dan lekat. Sebaliknya apabila nikmat itu diingkari maka kenikmatan yang telah diperoleh itu akan segera lenyap dan hilang sebagaimana firman Allah SWT. berikut ini: ''......, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.'' (QS. An Nahl:112). Jadi hikmah dari syukur nikmat adalah nikmat kita tetap kekal, bertambah, dan kita selamat dari siksaan Allah SWT.(Tim Kajian Qolbun Salim-35) |