| Senin, 24 Januari 2005 | WACANA |
Surat PembacaPenyelenggara SIM Bisakah Diperbarui?Kini era perubahan. Tepatnya masa pembaharuan semua bidang (moral mental sikap phisik). Orba dirobohkan. TNI-Polri dipisah berdiri sendiri. TNI relatip telah kembali ke posisi aslinya. Pemerintahan Otonomi Daerah berjalan. UUD 1945 diamandemen diperbaiki. Anggota DPR/DPRD 2004/2009 dipilih semi langsung rakyat. DPD dipilih langsung rakyat. Presiden 2004/2009 dipilih langsung rakyat. PTN (Perguruan Tinggi Negeri) bergerak menuju otonomi. Pengola KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang semula di Kabupaten kini di Kecamatan (belum semuanya?). Berkaca hal tersebut, penyelenggara/penerbit SIM (Surat Izin Mengemudi) kendaraan bermotor (sepeda motor, mobil, motor) darat, seyogyanya ditinjau/diperbarui juga (PP dan UU-nya). Pengelola ini sebaiknya oleh kantor resmi misal diurusi penuh oleh kantor dari Dephhub/Disbun, Dinas Pendapatan termasuk ke dalamnya pemrosesan BPKB dan STNK. Para Petugas Keamanan bisa dicurahkan penuh pada tugas keamanan umum dan ketertiban kelancaran lalu lintas jalan. Dibentuklah unit baru di kantor Perhubungan. Diisi personalnya dengan merekrut tenaga segar profesional cakap terampil. (meluaskan lapangan kerja). Ini masukan kepada DPR/DPRD dan Pemerintah. Negara sistem demokrasi ditandai pula kekuasaan negara/pemerintah cenderung di tangan supremasi. Mari bantu sukseskan program pembaharuan. Meski begitu jangan sampai lupa mengkritisi kinerja Pemerintah. Sebaliknya jangan terkecohkan diri perihal soal elpiji dan pertamax. Kiranya masih banyak badan pemerintah yang perlu dievaluasi dan direformasi. Arif Sardjono Manjung Rt 1/Rw 1 Sawit Boyolali. *** Pungli terhadap Sabuk Keselamatan PP tentang Sabuk Keselamatan mulai berlaku efektif 1 Juli 2004. Jika dilanggar langsung diproses dengan denda maksimal Rp 1 juta. Maksud PP tersebut baik yaitu mencegah timbulnya korban jiwa jika mobilnya kecelakaan. Tetapi melihat mentalitas aparat yang belum prima, saya khawatir peraturan tersebut akan dijadikan sarana untuk pungli. Kalau ada mobil belum dipasang sabuk keselamatan atau pengemudinya lupa memakai maka tidak ada ampun menjadi umpan empuk. Lebih-lebih bagi kendaraan dari luar kota. Ramalan saya terbukti. Beberapa waktu lalu anak saya makan siang di Mal Semanggi Solo. Selesai makan dia lupa memasang sabuk keselamatan, distop Polisi. Pertanyaannya tanpa basa-basi: "Pilih damai atau ditilang". Karena dia mau pulang ke Solo maka pilih damai. Mintanya Rp 100 ribu dituruti. Soal sabuk keselamatan lebih baik disosialisasikan lagi dulu. Si pelanggar diperingatkan. Dengan cara ini Polisi akan mendapat acungan jempol. Citranya meningkat katimbang terus dipungli. Contoh tentang sosialisasi sabuk keselamatan terlihat di TV Inggris, sewaktu Ny Margaret Tacher mencoba Morris baru di sirkuit pabrik, Begitu dia duduk di belakang stir, langsung memasang sabuk keselamatan kemudian jalan. Ide ini bisa dimanfaatkan oleh para petinggi dalam rangka kampanye tertib hukum, mengendarai mobil dengan memakai sabuk keselamatan. Moegono SH Jl Jamsaren 60 Surakarta *** Kepedulian kepada Sesama di Jalan Tragedi Aceh telah menggugah simpati. Terbukti semua media massa memuat deretan nama, alamat dan angka sumbangan. Semoga mereka benar-benar menyumbang karena sentuhan kemanusiaan yang tulus, bukan karena namanya dimuat . Namun ada satu sisi kehidupan yang disaksikan banyak orang namun tanpa ada yang peduli. Yakni keberadaan para penyandang sakit ingatan. Orang gila, orang stres, orang tak waras, gembel dan entah sebutan apa lagi. Dengan baju khas: kumal, berbau, rambut gembel, mereka berada di tepian jalan. Tapi, siapa peduli ? Kalau toh ada "tindakan" dari pemerintah kebanyakan hanya diangkut truk dan dibuang di wilayah pinggiran. Di Desa Karanganyar Pekalongan ada seorang berjiwa sosial merelakan rumah, harta, istri dan empat putrinya sebagai relawan untuk menampung, merawat dan menyembuhkan orang sakit ingatan. Orang-orang gila di pinggiran jalan dibawa ke rumah relawan. Rumah berukuran 10 X 15 meter itu ada kehidupan menyatu antara orang waras dengan orang sakit ingatan. Duh ... trenyuh sekali hati ini. Ustad Saifudin Zuhri si pemilik rumah sekaligus penyembuh dengan sederhana menyebut dirinya sebagai relawan kemanusiaan. Dia tidak mencari apa-apa kecuali ingin membantu merawat orang-orang telantar. Dengan dana sebagai tukang pijat, dia seorang diri merawat, menyembuhkan 23 orang. Selama empat tahun dia mampu menyembuhkan 200 orang. Di buku tamunya tercantum semua data itu. Memang, pernah dibantu Bupati Pekalongan tapi yang lain belum sampai ke rumahnya. Jumlah pengeluaran setiap hari relatif besar, benar-benar disikapi dengan pasrah. Melalui Surat Pembaca ini barangkali ada mata hati dermawan yang ingin membantu relawan sejati tersebut. Entah dengan bantuan pakaian pantas pakai, makanan atau lainnya. Menurut Pak Ustad banyak pihak belum peduli pada langkahnya ini dan dia membutuhkan dukungan. Ganjar Triadi BK SPd Jl Kembang Jeruk 8/2 Semarang *** Indonesia Merintih Hai umat manusia, itulah cobaan Allah SWT yang baru, ibarat sebutir pasir di laut. Untuk itu di manakah suara hatimu hai para pemimpin organisasi agama, politik dan sosial. Kok tidak seperti waktu kampanye. Apa ngumpet di lubang tikus, takut dimintai bantuannya. Juga para koruptor baik kelas kakap/cendol, sadarlah jangan korupsi lagi. Hasil korupsimu kembalikan kepada negara dan disumbangkan untuk rakyat Aceh. Kepada Sdr Doktor Ashari, Cs di mana saja berada, jangan Ngebom lagi. Sadarlah dan lebih baik menyerah dan menjadi sukarelawan. Abdul Djuhud Poncorejo Rt 3/Rw 8 Gemuh, Kendal *** Insting Hewan Hal tersebut terbukti petaka dunia yang disebabkan gelombang tsunami. Di situ tidak di ketemukan bangkai hewan seekor pun di antara ratusan ribu mayat manusia. Padahal di kawasan ini ada ribuan hewan yang terdiri dari gajah, macan, jerapah, unta sampai dengan kelinci. Ternyata hewan tersebut sudah menyingkir jauh ke daratan yang lebih tinggi letaknya sebelum terjadi petaka tsunami. Menusia ditakdirkan mempunyai otak hebat yang mampu menciptakan teknologi tinggi. Di samping itu ada sebagian yang merasa punya kemampuan supranatural dan ahli metafisika. Tetapi mengapa mereka belum mampu mengantisipasi datangnya petaka. Demi keselamatan umat, diharapkan teknokrat dan para supranatural lebih memperdalam ilmu yang dimiliki agar puluhan ribu korban manusia yang tidak berdosa tidak terulang lagi. Moeljono Banteng Utara VII/1, Semarang |