logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Januari 2005 INTERNASIONAL
Line

Zarqawi Permaklumkan Perang terhadap Pemilu Irak

BAGDAD - Abu Musab al-Zarqawi, pimpinan Al Qaedah di Irak, memaklumkan perang sengit terhadap pemilu bersejarah Irak. Pernyataannya itu, yang disampaikan Minggu kemarin, tampaknya untuk menakut-nakuti para pemilih.

Pemilu 30 Januari itu diadakan di tengah meningkatnya serangan kelompok perlawanan.

Tokoh militan warga Yordania itu, yang merupakan buron nomor satu AS di Irak, mengejek warga mayoritas Syiah di Irak sebagai "kaum kafir" karena mengadakan pemilihan, dan menyerukan kepada kelompok minoritas Suni yang dominan semasa Saddam Hussein untuk melancarkan perang suci terhadap kelompok mayoritas tersebut.

"Kami menyatakan perang sengit terhadap prinsip demokrasi dan semua yang berusaha melaksanakannya," kata seorang pembicara yang diidentifikasi sebagai Zarqawi dalam rekaman audio di internet.

"Para kandidat dalam pemilihan berusaha menjadi dewa sedangkan mereka yang memilih kandidat-kandidat itu adalah kafir," katanya.

Jaringan Zarqawi menyerang para politikus dan memancung sandera asing. Meski AS menghargai kepalanya senilai 25 juta dolar (sekitar Rp 225 miliar), dia selalu terhindar dari pencarian pimpinan AS dan terus mempermalukan tentara Amerika.

Tingkatkan Kampanye

Serangan hampir setiap hari yang dilancarkan kelompoknya - termasuk serangan paling mematikan menjelang pemilihan - meningkatkan kekhawatiran tentang pertumpahan darah selama pemilihan Minggu mendatang. Pemilu itu merupakan yang pertama di Irak sejak invasi 2003 menggulingkan Saddam Hussein.

Gerilyawan Suni meningkatkan kampanye intimidasinya selama hari-hari terakhir menjelang pemilihan. Pemilihan tersebut diperkirakan akan memperkuat kekuasaan 60 persen mayoritas Syiah Irak, yang telah lama ditindas oleh Saddam.

Banyak pemimpin Suni menyerukan pemboikotan pemilihan, dengan menyatakan meningkatnya kerusuhan di pusat kota Suni akan mencegah para pemilih memberikan suaranya dan membuat hasil pemilu condong ke Syiah. Sedikitnya jumlah pemilih di pihak Suni bisa merusak kredibilitas pemilihan itu.

Zarqawi, yang memimpin Organisasi Al Qaedah bagi Perang Suci di Irak, menuduh kelompok Syiah terlibat dalam persekongkolan dengan Washington untuk memperoleh kekuasaan absolut.

"Wahai rakyat Irak, di mana kehormatanmu? Apakah kalian menerima penindasan bangsa asing?" katanya dalam rekaman audio tersebut.

Dalam rekaman yang dirilis Kamis lalu, Zarqawi menyatakan para militan siap berperang selama "berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun" untuk mengusir pasukan pendudukan.

Kebakaran di RS

Sementara itu kantor berita Italia ANSA, kemarin, melaporkan kebakaran di sebuah rumah sakit di Irak selatan, menewaskan 14 orang dan melukai 75 lainnya.

Dua tentara AS dijatuhi hukuman penjara, pangkatnya diturunkan, dan dituduh melakukan tindakan buruk atas perannya dalam membunuh wanita penerjemah sipil di Irak pada November lalu, kata militer AS.

Dalam pernyataan, militer mengatakan Spesialis Charley L Hooser dari Divisi Kavaleri ke-1 dihukum tiga tahun penjara setelah didakwa melakukan pembunuhan tak sengaja dan membuat pernyataan palsu.

"Dakwaan itu bermula dari insiden 24 November lalu, ketika Hooser membunuh seorang penerjemah, dengan menembak kepalanya," kata militer Sabtu malam lalu. "Tidak lama kemudian dia membuat pernyataan resmi yang dimaksudkan untuk berbohong, dengan membantah terlibat dalam kematian penerjemah sipil tersebut.

Tentara lainnya dari Divisi Kavaleri ke-1, Spesialis Rami Dajani, dihukum 18 bulan penjara atas perannya dalam insiden tersebut, kata pihak militer.

Menurut militer, Dajani memasok senjata yang digunakan untuk membunuh penerjemah itu dan kemudian "membuat pernyataan resmi yang dimasudkan untuk berbohong, dengan membantah terlibat dalam kematian penerjemah tersebut."(rtr-niek-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA