logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 23 Januari 2005 OLAHRAGA
Line

Spirit Kamal Djunaidi dan Ratu Kalinyamat

PADA 28 Agustus 1973, di Salatiga digelar partai puncak perebutan Piala Makutarama. Dua tim bertetangga dari daerah pesisir, Persijap Jepara dan Persipa Pati berjuang mati-matian untuk menjadi juara.

"Langit cerah, tak ada pertanda hujan akan turun," kata Soekamto SH memulai cerita itu. Ketua Komisi Teknik dan Kepelatihan Persijap ini menuturkan, wasit Dardiri asal Salatiga meniup peluit isyarat kick off babak pertama dimulai.

Di 45 menit babak pertama, Kamal Djunaidi, seorang striker muda Persijap menunjukkan kelasnya sebagai ujung tombak komplet. Tendangan saltonya di depan mulut gawang membuat penonton terperangah. Lawan dibuat miris dan harus ekstrawaspada.

Gerakannya lincah, agresif, dan variatif. Karena keistimewaannya, Lasidin, pelatih yang menangani tim saat itu, sering mengubah posisinya. Di lini depan, sayap kanan maupun kiri, ia selalu berbahaya. Satu saat di babak pertama itu, tendangannya menggetarkan jala lawan. Kedudukan tetap 1-0 hingga 45 menit pertama berakhir.

Ketika kaki Syarief KS, kapten tim Persijap, menggelindingkan bola kick off babak kedua, langit gelap oleh mendung yang menggelayut. Suara halilintar datang bertubi, memekakkan ribuan pasang telinga yang memadati stadion. Saat itulah, di lapangan terlihat api berkobar.

Hampir semua pemain tergeletak, termasuk wasit Dardiri. Syarif KS masih berdiri terpaku, tak mafhum apa yang baru saja terjadi.

Tubuh Kamal Djunaidi yang semula lincah terlihat mengepulkan asap. Kaus kaki, sepatu, dan celananya terkoyak api. "Tak ada yang berani menolong," tutur gelandang Persijap 1962-1970 itu. Tujuh anggota skuad Persijap lainnya luka bakar parah.

Hanya Kamal Djuanidi, pemuda asal Kelurahan Panggang yang tewas. Api halilintar itu mengakhiri kariernya di tim yang sangat dicintainya.

Tapi, hembusan nafas terakhirnya menorehkan prestasi gemilang. Kedudukan 1-0 itu membuat Persijap berhak memboyong Piala Makutarama. Nama Kamal Djunaidi kemudian diabadikan menjadi nama stadion di Kota Ukir. Itulah sekelumit pengorbanan, spirit, sekaligus prestasi yang pernah diukir pahlawan bola Jepara yang patut diteladani pemain-pemain tim yang sama sekarang.

Tak hanya itu, lanjut pensiunan Kepala Syahbandar Pelabuhan Jepara ini, bendera Laskar Kalinyamat yang diambil dari spirit semangat patriotik Ratu Kalinyamat juga patut ditanamkan. Tulisan Diego de Ceuto asal Portugis tentang perjuangan Ratu Kalinyamat mengusir penjajah pada 1550 patut direnungkan. Sekitar 2.000 dari 4.000 prajurit Ratu Kalinyamat gugur. Mereka berani mati untuk sebuah perjuangan.

Semangat Tim

Sebutan Laskar Kalinyamat bagi tim Persijap bukanlah kebanggaan yang absurd. Nilai historis ini tak boleh ditinggalkan oleh siapa pun yang menggunakan panji-panji masa lalu itu, tak terkecuali Persijap saat sekarang. Terlebih menjelang keputusan tim pesisir ini masuk Divisi Utama. Tak ada kata lain kecuali memantapkan semangat dan nyali di kompetisi sengit itu.

Striker Miro Baldo Bento yang saat ini menjadi kapten tim hanya mendengar sekilas tentang dua nama pelaku sejarah itu. "Saya belum genap setahun di Jepara, Jadi, tak tahu banyak tentang sejarah daerah. Saya hanya tahu sedikit tentang Kamal Djunaidi dan Ratu Kalinyamat," tuturnya.

"Tapi ini awal penting bagi kami, untuk memompa semangat rekan-rekan. Kami sudah satukan tekad menuju semangat tim. Tangan-tangan kami akan bergandengan selama memperkuat tim," tambah pemain yang baru memperkuat Persijap di paro kedua kompetisi 2004 lalu.

Bagi Bento, nilai sebuah sejarah memiliki daya suntik pada ranah penghayatan. Pengalaman heroik masa lampau disadarinya bisa muncul kapan saja. Di masa-masa sulit saat pertandingan, lanjutnya, kesadaran tersebut bisa menjelma menjadi obat penawar agar karakter bermain tetap pada jalurnya. "Saat saya kehilangan kontrol, apapun bisa kami lakukan. Hal-hal kecil kadang mampu meredam emosi," ujar penyerang yang kadang temperamental ini.

Meski bukan asli Jepara, Bento menasihatkan dirinya sendiri dan rekan-rekannya jangan sampai tersekat dengan daerah. "Jika ingin profesional, di manapun saya bermain, disitulah muka dan kehormatan saya. Saya berpijak untuk menyelamatkan arti penting kepercayaan," ujarnya.

Gelandang Kuncoro yang sadar timnya hampir pasti masuk Divisi Utama tak ingin ada sekat psikologis antara pemain muda dan pemain senior. "Kami satu tim, Demi semangat, yang muda dan yang senior harus saling bahu membahu. Masing-masing bisa berbagi pengalaman," katanya.

Divisi Utama

Di pihak lain, Pelatih Rudy William Keltjes, tak akan membiarkan ada kendala psikologis pada setiap pemain. Waktu sebulan lebih, sebelum kompetisi bergulir, sebagian akan diisi dengan materi-materi penguatan sikap.

Terlebih, jika benar di Divisi Utama, kesebelasan berjuluk Laskar Kalinyamat ini akan menjadi pendatang baru sejak keikutsertaannya pada kompetisi 2000. "Saya tanamkan kepada anak-anak, betapa berat perjuangan menuju prestasi," katanya. Jika memang harus bertengger di Divisi Utama, secara tim mereka akan belajar sejarah.

"Tim manapun tak ingin numpang lewat di Divisi Utama seperti pengalaman masa lalu," katanya. Wajar, Keltjes jauh hari telah mempersiapkan materi-materi pemain dengan bekal teknis dan nonteknis memadai. Pemain-pemain seperti Anjar JW, Bento, Widianto Ahmad, Kuncoro, Jemi Suparno, Rudy Hariantoko, Dwi Adi Nugrahanto, Didit Thomas, Haryanto Prasetyo, dan Oliviera sudah punya pengalaman di Divisi Utama. Sementara ia tetap akan memproyeksikan pemain muda sebagai pelapis-pelapis siap pakai yang kelak akan menjadi tulang punggung tim.

Laskar Kalinyamat baru melangkah awal untuk mempersiapkan kompetisi 2005 yang akan bergulir awal Maret. Untuk meraih target tim, tantangan menghampar luas di depan. Sebagian besar fans bola Jepara membutuhkan bukti bahwa tim ini benar-benar bisa mewarisi prestasi almarhum Kamal Djunaidi. Mungkinkah para pemain-pemain ini benar-benar berani mati untuk prestasi tim? Bisakah darah perjuangan Ratu Kalinyamat menetes di tim yang masih beradaptasi ini?

Jawabannya akan terlihat pada konsistensi Bento dkk dalam setiap pertandingan. (Muhammadun Sanomae-22)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA