logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 23 Januari 2005 NASIONAL
Line

Makkah Dilanda Hujan dan Angin Ribut


ANGIN RIBUT DI MINA: Sekitar 2,5 juta umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang melaksanaan ibadah haji, Sabtu (22/1) melakukan lempar jumrah di Mina dan tawaf di Makkah. Konsentrasi jemaah terganggu karena hujan deras disusul angin ribut melanda Mina saat berlangsung lempar jumrah. Seorang jemaah haji yang terluka diselamatkan para petugas medik di Mina. (63)

MINA - Konsentrasi jamaah haji yang tengah melaksanakan lempar jumrah di Mina dan tawaf ifadah di Makkah, Sabtu (22/1) kemarin sedikit terganggu. Pasalnya, kedua kota tersebut diguyur hujan lebat disusul angin ribut.

Hujan deras mulai mengguyur kawasan Mina dan Makkah sesudah shalat subuh hingga pukul 7.50 Waktu Arab Saudi (WAS). Pada saat itu jamaah yang mengambil nafar awwal sedang menyelesaikan lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah hari terakhir. Mereka tampaknya tidak mengantisipasi hujan tersebut, sehingga tak sedikit jamaah yang basah kuyub karena tak mendapatkan tempat berteduh.

Wartawan Suara Merdeka H Agus Fathuddin Yusuf, H Subakti A Siddik, dan HM Asmui Muzakir melaporkan dari Mina, para haji Indonesia yang kebetulan berada di dua terowongan Almuaishim memanfaatkan tempat itu untuk berteduh hingga hujan reda. Demikian pula yang berada di lokasi Jamarat memanfaatkan tempat itu untuk berlindung dari guyuran hujan.

"Alhamdulillah, hujan deras ini berkah bagi jamaah haji," tutur Drs KH Busyairi Haris MAg, PPIHI Kloter 49 dari Kabupaten Tegal dan Brebes, yang kebetulan berteduh di terowongan Almuaissim.

Pedagang kaki lima di sekitar lokasi itu terlihat berusaha mengamankan barang dagangannya. Mereka berlari mencari tempat berteduh. Tak sedikit barang-barang mereka yang tercecer di jalanan. Namun, para haji yang tengah melempar jumrah tetap melanjutkan aktivitas ritual ibadahnya. Di tempat lemparan, mereka tidak terganggu hujan lebat karena terlindung atap beton yang kokoh.

Suasana hiruk-pikuk juga terjadi di kota Makkah. Para jamaah haji dari berbagai negara saat hujan lebat tengah menyelesaikan tawaf ifadah sebagai salah satu rukun haji.

Menurut pengamatan Suara Merdeka, ketika hujan lebat mengguyur Makkah, sebagian jamaah memilih menghentikan tawaf dan berteduh di sekitar Masjidil Haram. Namun, tak sedikit yang memanfaatkan hujan itu untuk ngalap berkah.

Jubelan jamaah tampak di sekitar Hijr Ismail. Di tempat itu tidak hanya jamaah haji Indonesia, juga terlihat jamaah dari Turki, Iran, Afganistan, India, dan lain-lain tumplek bleg menjadi satu berebut kucuran air dari talang emas Kakbah.

Setelah hujan reda sekitar pukul 09.15 WAS, matahari hanya beberapa menit bersinar cerah, bahkan terasa sedikit panas. Namun, tidak berselang lama, angin ribut datang membuat panik para jamaah. Tenda-tenda di kawasan Mina pun dihempas angin kencang. Namun, tenda antiapi yang cukup kokoh itu tidak terpengaruh oleh hempasan angin ribut tersebut. Beberapa perlengkapan tenda seperti gentong plastik, ember, cucian, dan sampah beterbangan terbawa angin tersebut.

"Alhamdulillah, meski hujan dan angin ribut jamaah tetap bisa melaksanakan ibadah dengan baik. Mereka tidak terganggu, apalagi menjadi korban. Tidak ada itu," tutur Kepala Daerah Kerja (daker) Madinah dan Mina PPIH 2005 H Hasbu Marzuki Lc MPd.

Hingga berita ini dikirimkan angin ribut dan hujan lebat masih melanda kawasan Makkah dan Mina. Saat ini jamaah haji yang mengambil nafar awwal sudah berada di kota Makkah untuk tawaf ifadah dan sai. Yang menyelesaikan nafar tsani sampai Minggu ini masih berada di Mina.

Isu Jamarat

H Hasbu Marzuki kepada Suara Merdeka mengimbau agar semua haji Indonesia dan keluarganya di Tanah Air tidak terpancing berbagai isu di Tanah Suci. Sejak beberapa hari terakhir, dari mulut ke mulut berkembang banyak isu di Makkah dan Mina. Misalnya, kemarin ada kabar 40 haji Indonesia terinjak-injak saat melempar jumrah. Demikian pula, ada kabar satu kloter pesawat dari Jabar terjun ke Laut Merah. Ada isu wanita haji Indonesia menjadi korban pemerkosaan dan lain-lain.

"Itu semua isu yang bertujuan mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan para haji dan keluarga mereka di Tanah Air. Biasanya isu semacam itu sangat cepat berkembang," kata Hasbu.

TV Aljazeera dan CNN, menurut dia, justru memuji pelaksanaan ritual lempar jumrah 2005 yang berjalan lancar dan tertib tanpa memakan korban. Padahal, pada 2004 CNN memberitakan sekitar 250 orang lebih haji menjadi korban di Jamarat karena terinjak-injak jamaah lain.

Menurut Kepala Daker Madinah dan Mina, pihaknya menempatkan 60 petugas di 15 titik kawasan Jamarat. Mereka dibekali dengan bendera merah putih, handy talkie, dan handphone. "Semua petugas tidak satu pun yang melihat kejadian seperti yang berkembang dalam isu-isu," tegas Hasbu.

Karena terusik isu itu, dia mengaku sempat menghubungi Ketua Muassasah Thawwaf Asia Tenggara di Mina. "Beliau menyatakan tidak ada kejadian apa-apa di Jamarat," tandasnya. (63e)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA