| Minggu, 23 Januari 2005 | BINCANG BINCANG |
Sukses dari Kegetiran dan PengorbananNAMA Kak Seto tidak pernah lepas dari dunia anak-anak. Pria bernama lengkap Seto Mulyadi ini bisa dikategorikan dalam segelintir orang yang bersedia menggeluti profesi sebagai pengasuh dan pendidik anak-anak. Sebuah profesi yang umumnya digeluti kaum perempuan. Pria berkacamata kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951 ini, sangat pantas bila dikatakan memperoleh kesuksesan besar dari profesinya itu. Berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional berhasil diraih putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Mulyadi (asal Kebumen) dan Mariati (asal Klaten) ini. Ya, paling tidak dia telah mendapat penghargaan ''Orang Muda Berkarya Indonesia' pada 1987 kategori pengabdian pada dunia anak-anak (dari Presiden Soeharto), Peace Messangger Award (1987) di New York, (dari Sekjen PBB Javier Perez de Cueller), The Outstanding Young Person of the World di Amsterdam (1987 dari Jaycess International) dan The Golden Ballon Award di New York (1989 dari World Children's Day Foundation dan UNICEF). Namun di balik semua itu peraih Doktor Psikologi dari Universitas Indonesia (1993) ini merasa mengasuh dan mendidik anak merupakan pengalaman yang tak ternilai, karena begitu banyak ilmu yang berhasil diperoleh. ''Banyak hal yang dapat dipelajari dari mengasuh anak-anak. Mereka itu ibarat sumur kreativitas yang tidak pernah kering. Sering celotehan alami atau keingintahuan mereka jadi memacu kreativitas saya. Ada juga permasalahan mereka yang menjadi tambahan ilmu karena saya tergerak menyelesaikannya,'' kata suami Deviana dan ayah Eka Putri Duta Sari, Bimo Dwi Putra Utama, Shelomita Kartika Putri Maharani dan Nindya Putri Catur Permatasari ini. Selama 30 tahun lebih berkiprah dalam dunia anak, dia juga sering berada di wilayah konflik semacam Ambon, Aceh, dan Timor Barat dalam rangka menghibur mereka. Melihat penderitaan dan trauma anak-anak korban konflik di kamp-kamp pengungsian tersebut, dia dan kawan-kawan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak mendirikan Trauma Center. Tempat ini merupakan semacam sanggar kreativitas yang bisa menjadi terapi bagi anak-anak. Kegetiran Sukses yang diraih Seto bukan datang begitu saja. Ada perjalanan panjang yang diwarnai kegetiran dan pengorbanan. Dia memang terlahir sebagai anak kembar (saudara kembarnya bernama Kresno) dari keluarga mampu. Karena itu dia memiliki masa kecil yang indah dan bahagia. Namun setelah ayahnya meninggal dunia pada 1966, mulailah dia dan keluarga mengalami keprihatinan. Seto dan dua saudara (Ma'ruf dan Kresno) terpaksa dititipkan di bibi yang bernama Martiningrum di Surabaya. Kemudian sang ibu menyusul ke Surabaya dan mereka mengontrak sebuah rumah sederhana. Salah satu kegetiran yang dialami Seto adalah saat sekolah di SMA St Louis dirinya masih memakai calana pendek, karena tidak punya uang untuk beli celana. Beruntung seorang teman berbaik hati dan memberi baju-baju dan celana kepadanya. Untuk bisa tetap sekolah Seto dan dua saudara melakukn apa saja. Yang penting halal. Mereka pun menjadi penjual balon, koran dan mengirimkan tulisan ke beberapa majalah. Tulisan yang dikirim itu saat dimuat diberi nama Kak Seto. Inilah awal itu akrab di telinga anak-anak. Kegiatan ''kerja di jalanan'' berakhir saat dia diterima bekerja sebagai pelayan Toko Kaca Mata Benny di Simpang Ujung, Surabaya. Selepas SMA, Seto merasa dialah yang paling gagal di antara dua saudara. Kakaknya Ma'ruf diterima di Akabri. Kresno diterima di FK Universitas Airlangga. Seto sebetulnya mendaftar di FK Universitas Indonesia dan FK Universitas Airlangga. Namun keduanya gagal ditembus. Seto lalu memutuskan migrasi ke Jakarta. Pagi 29 Maret 1970 -saat tiba di Jakarta- merupakan hari kelahiran kedua Seto, karena pada saat itulah dia merasa lepas dari bayang-bayang saudara kembar dan mulai memutuskan bertahan hidup melawan keganasan belantara Ibu Kota. Dalam rangka bertahan hidup di Ibu Kota, dia rela bekerja apa saja. Jadi tukang parkir (di Blok M), tukang batu (di Kebayoran). Di tengah kesibukan ''kerja jalanan''' dia sempat menonton acara TVRI berjudul Taman Indria yang diasuh Bu Kasur. Melihat sosok Bu Kasur muncul keinginan dia belajar dari pada tokoh pendidikan legendaris itu. Untuk bisa menemui Bu Kasur, dia rela berjalan kaki dari Hotel Indonesia menuju kediaman Bu Kasur di Cikini. Saat sampai di rumah yang dituju, ternyata Pak Kasur yang membukakan pintu. ''Saat itu saya dengan sopan ngomong kalau mau ngenger. Nggak dibayar juga tidak apa-apa,'' kata Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia serta Yayasan Nakula Sadewa ini. Waktu itu Pak Kasur berpikir sejenak sambil melihat seksama sosok Seto yang berpeluh akibat sengatan matahari. Kemudian Pak Kasur mempersilakan Seto datang ke TK yang dia asuh pada sore hari. Pak kasur mempersilakan Seto ngangsu kawruh di TK. Pada hari itu, 4 April 1970, merupakan awal terjun Seto ke dunia anak-anak. ''Itu hari yang sangat berkesan,'' kata Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara 1994-1997 ini. Sambil bekerja sebagai asisten Pak Kasur dan Bu Kasur Seto juga tetap ingin melanjutkan studi. Pak Kasurlah yang menyarankan Seto mengambil Psikologi. Setelah ngenger pada Pak Kasur, Seto meninggalkan ''kerjaan jalanan'' dan lalu menjadi pembantu rumah tangga di keluarga pejabat. Berkat ketekunan dan pinter ngemong, dia akhirnya naik jabatan karena diangkat menjadi pengasuh anak di keluarga tersebut. Sambil menjadi pengasuh anak itu, dia melanjutkan kuliah di UI. Sambil kuliah di Fakultas Psikologi UI, dia tetap bekerja sebagai pengasuh anak. Pada 1978, dia berhasil menjadi pembawa acara Aneka Ria Anak-Anak di TVRI. Pada awal tampil di TVRI, dia mencoba mengenalkan si Komo yang berasal dari kata komodo, binatang langka dari NTT. Namun saat itu Komo belum terkenal. Saat tampil di TPI, Si Komo baru terkenal tidak hanya di seantero Nusantara tetapi sampai juga ke Jepang dan Pakistan. ''Akhirnya Si Komo identik dengan saya,'' jelas pria yang kemudian jadi Ketua Komnas Perlindungan Anak ini. (Hartono Harimurti-72) |