| Minggu, 23 Januari 2005 | BINCANG BINCANG |
Seto Mulyadi:Bebaskan Anak dari Belenggu BencanaDOKTOR Seto Mulyadi Psi MPsi tak hanya dikenal sebagai pencipta boneka Si Komo. Kecuali menjadi dekan, dia juga dipercaya sebagai Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak. Beberapa saat lalu pria kelahiran Klaten ini berkunjung ke Aceh untuk mengidentifikasi dan memecahkan berbagai persoalan yang diderita oleh anak-anak korban tsunami. Apa yang harus dilakukan pemerintah? Benarkah terjadi adopsi anak-anak secara ilegal dalam jumlah besar? Berikut perbincangan dengan "murid" Bu dan Pa Kasur itu di Jakarta belum lama ini. Baru-baru ini Anda mengunjungi Nanggroe Aceh Darusalam. Bagaimana kondisi terkini anak-anak di Aceh yang menjadi korban tsunami? Semula saya melihat anak-anak stres, tegang, ketakutan dan sebagainya. Namun di balik semua itu mereka adalah anak-anak yang luar biasa. Mereka mempunyai mekanisme pertahanan diri yang bagus. Ini bisa menjadi potensi yang dapat dikembangkan agar pemulihan dapat berjalan cepat. Pada waktu kami mengajak mereka tersenyum, bergembira, berteriak, bergandengan tangan, atau melompat, keceriaan mereka muncul kembali setelah sebelumnya wajah-wajah itu tampil suram dan tanpa harapan. Ada optimisme di wajah mereka. Pada prinsipnya mereka itu harus diupayakan mendapat dunia dan suasana indah meski dalam segala keterbatasan. Itu sebagai upaya mengobati tekanan psikologis. Orang-orang tua mereka mengalami guncangan psikologis, sehingga sampai melupakan tugas dan kewajiban kepada anak. Ini yang harus segera ditangani. Mengapa anak-anak Aceh memiliki pertahanan diri yang bagus? Mungkin salah satu pembentuk mekanisme pertahanan diri adalah sikap dan budaya mereka. Budaya Aceh telah mengajarkan mereka untuk menjadi sosok-sosok yang tegar. Coba kita dengarkan senandung atau lagu anak-anak di sana. Kan ada kata-kata seperti "Pergilah berperang setelah dewasa. Kalau kamu sampai mati Nak, ibu akan rela." Ini menunjukkan berjuang menghadapi tantangan atau musuh merupakan bagian dari budaya yang ditanamkan sejak usia belia. Selain itu juga ada senandung yang menuturkan agar anak-anak itu tumbuh sebagai manusia yang siap menerima takdir buruk yang menimpa dirinya. Ada kata-kata "Kalaupun berduka, maka cukup tiga hari saja". Selanjutnya dia harus berdiri kembali, bekerja keras meraih masa depan. Siap kembali menghadapi tantangan atau musuh-musuhnya. Perlu sukarelewan khusus untuk mengatasi persoalan anak-anak Aceh? Untuk menangani anak-anak dibutuhkan mereka yang mempunyai keahlian khusus. Selain itu mereka harus tahan banting, sebab mengurus anak-anak itu perlu kesabaran ekstra. Terlebih lagi mereka baru mengalami hal luar biasa. Mengerikan atau tidak mengenakkan. Para sukarelawan itu harus punya rasa cinta dan kepedulian yang mendalam terhadap anak. Yang tak kalah penting mereka harus memahami apa yang menjadi hak-hak anak. Apa yang sangat dibutuhkan anak-anak terkait dengan hak-hak mereka? Pertama, kebutuhan dasar yang sangat mendesak seperti makanan, air bersih, udara segar, dan pakaian layak pakai. Juga perlu ketersediaan kebutuhan dasar untuk perkembangan seperti sarana atau minimal kesempatan atau kondisi yang memungkinkan mereka bisa bermain. Bagaimanapun mereka harus bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman serta bersekolah walaupun semua itu dalam kedaruratan. Mereka juga harus bisa berkreativitas agar bisa melupakan tragedi. Coba bayangkan bila mereka hanya termenung, bengong, atau tidak melakukan apa-apa. Bantuan memang sudah datang, tetapi belum maksimal. Banyak anak dan orang tua yang makan mie mentah. Digado saja dalam bentuk yang masih kering. Sanitasi juga masih buruk sekali. Di mana-mana banyak kotoran karena banyak orang buang hajat secara sembarangan. Di mana-mana -maaf- ada bau jenazah. Ini tentu sangat tidak nyaman juga rawan sekali. Yang tak habis saya pikir, anak-anak sering mendapat kemarahan dari orang lain atau orang yang memelihara mereka karena orang tuanya meninggal terkena bencana. Para orang tua itu menjadi mudah marah karena mereka juga stres sebab kehilangan harta benda, keluarga, dan sebagainya. Lalu anak-anak main perang-perangan atau main pocong-pocongan dilarang. Mereka itu ingin anak-anak tenang atau diam saja agar orang tua tidak banyak mikir atau terbebani. Padahal anak-anak itu bermain-main yang wajar saja, karena mereka itu menirukan apa yang dilihat. Banyak kenangan saat penerapan Daerah Operasi Militer (DOM) yang membekas. Dua bulan sebelum bencana tsunami, untuk kesekian kali saya berkunjung ke Aceh. Saat itu kami mendirikan Trauma Centre karena ada kurang lebih 21.000 anak Aceh yang perlu mendapat perhatian khusus. Sudah seperti apa kondisi mereka itu? Saat disuruh menggambar, misalnya, anak-anak itu menggambar tubuh tanpa kepala. Mereka juga menggambar orang yang menembak atau membunuh orang lain. Ada juga yang menggambar rumah-rumah yang terbakar. Bahkan ada yang mengambil cicak lalu mematahkan lehernya sambil berkata, "Matilah TNI musuh rakyat!" Jadi ada luka yang masih menganga. Ini kalau dibiarkan bisa berbahaya. Nanti akan membentuk pribadi-pribadi yang pendendam, yang memilih kekerasan sebagai jalan efektif untuk bisa bertahan hidup. Seperti yang terjadi saat ini, banyak kaum remaja dan dewasa yang tega menjarah bantuan. Mungkin ini karena mereka dulu sering mengalami hal sebaliknya yaitu dijarah atau mengalami sendiri kekerasan, sehingga kini tiba saat untuk membalas. Apakah pemerintah sudah menangani masalah anak-anak Aceh dengan baik? Sudah. Namun masih ada kelemahan. Konsepnya belum jelas sehingga banyak pihak sudah berbuat tetapi mungkin hasilnya belum pas. Banyak pihak memberikan saran perbaikan. Saya kira pemerintah tinggal mengoordinasikan agar penanganannya lebih terpadu dan profesional. Langkah-langkah apa yang harus segera dilakukan untuk mengobati trauma anak-anak? Pertama, mohon mereka itu segera dievakuasi darurat dari lokasi bencana agar peristiwa yang mengerikan dan tak mengenakkan ini tidak membelenggu mereka. Berdasarkan pengamatan saya, banyak anak yang bila mendengar suara air saja langsung berteriak-teriak. Kalaupun tidak bisa dipindahkan ke luar Aceh, maka minimal mereka jauh dari lokasi bencana, sehingga ada suasana yang berbeda. Yang kedua, mereka itu haruslah mendapat treatment psikologis. Harus ada intervensi dari luar untuk menciptakan kondisi aman dan nyaman -dalam segala keterbatasan- agar mereka bisa bermain, berteriak, bergembira, dan beraktivitas. Yang terpenting anak-anak itu harus merasa tidak sendiri. Sebab memang banyak anak yang benar-benar sendirian karena kedua orang tua dan sanak saudaranya meninggal. Anak-anak semacam itu sangat mungkin mengalami kesendirian atau bahkan terasing karena semua orang memikirkan kelurganya sendiri. Semua orang merasa sama-sama susah. Bila terus menerus dalam kesendirian, anak-anak itu akan stres dan memilih bunuh diri untuk menyusul kepergian ayah-ibu. Mengenai anak-anak yang memilih bunuh diri itu, memang belum kami temukan, tetapi kemungkinan untuk itu pasti ada. Ini memprihatinkan. Karena itu penting bagi mereka untuk segera melakukan reunifikasi dengan cara bertemu saudara atau kakek-nenek dan paman mereka yang masih hidup. Baru-baru ini muncul kabar tentang adopsi secara diam-diam dan 300 anak Aceh dibawa ke luar negeri. Bagaimana sebenarnya berita tersebut? Kalau dikatakan ada penculikan, maka saya jawab memang hal itu benar-benar ada. Walaupun sifatnya tidak massive atau besar-besaran. Saya bahkan pernah bertemu dengan sejumlah orang yang menyatakan mau mengadopsi anak. Saya tidak bisa memutuskan kecuali ingin tahu siapa mereka itu. Jadi perlu untuk mencatat identitas dan hal-hal lain. Lalu saya masuk ke tenda untuk mengambil buku catatan. Tiba-tiba saat saya keluar mereka sudah tidak ada lagi. Ini kan mencurigakan. Kalau mau adopsi ya dengan proses benar atau transparan. Jangan malah menyembunyikan identitas. Pernah juga ada dua orang yang datang dengan maksud sama, tetapi juga tidak terbuka siapa mereka sebenarnya. Jadi, memang benar-benar ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi yang masih kacau ini. Mengenai berita 300 anak Aceh yng dibawa keluar sebagaimana diakui Pendeta Vernon, hal itu tidak benar. Saya sudah mencek sampai Kedubes AS. Bersama Sekretaris I Kedubes AS Mark Clark saya mengecek berita itu. Vernon hanya bermaksud menciptakan sensasi di tengah kegalauan kita semua. Namun hal itu perlu mendapat perhatian serius, karena praktik seperti itu sangat rentan terjadi. Karena itu harus ada law enforcement yang tegas misalnya dengan memberikan hukuman yang berat bagi penculik dan pelaku perdagangaan anak-anak. Juga harus ada koordinasi mantap antara penegak hukun dan aparat terkait lain. Jadi harus ada pengawasan ketat mulai dari kamp pengungsian, rumah sakit, bandara, pelabuhan, serta perbatasan provinsi untuk mencegah perjalanan darat yang mungkin dilakunan para penculik anak. Harus segera ada klarifikasi resmi dari pemerintah bila isu yng berkembang itu tidak benar agar tidak meresahkan masyarakat luas. (Hartono Harimurti-72) |