| Senin, 17 Januari 2005 | PANTURA |
Lebai Penyair Agus TarjonoCiptakan Seni Penuh RasaDARAH seni yang mengalir di tubuh Agus Tarjono seakan terus menggeliat kendati tak pernah ada yang membimbingnya. Karya demi karya, satu per satu dia goreskan di atas kertas. Dia tak peduli karyanya ada yang menghargai atau tidak, yang penting terus menulis dan menulis. Agus Tarjono alias Abdul Mukasyif Aliyudin atau lebih dikenal dengan sebutan Lebai Penyair ini hidup di sebuah desa yang jauh dari perkotaan. Tugas sehari-harinya sebagai seorang lebai atau Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Ciampel, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes tak menghalangi kecintaannya terhadap seni. Itu dia buktikan sejak tahun 1986 hingga sekarang. Yakni, dalam kurun waktu itu dia telah menghasilkan 200 puisi. Begitu rapinya karya itu disusun dalam sebuah buku ukuran kuarto. Buku pertama yang merupakan kumpulan puisi diberinya judul Refleksi Tafakur Lebe Penyair Abdul Mukasyif Aliyudin, sedangkan buku kedua Antologi Tunggal Refleksi Tafakur. Beberapa puisi hasil karyanya terlihat berbeda dengan penyair pada umumnya. Mengapa demikian? ''Saya mencintai puisi sepenuh rasa. Ada darah acuan karya. Maksudnya, saya tidak setengah-setengah, dan tidak picisan,'' kata Lebai Penyair mencoba meyakinkan. Sebagai seorang penyair, Agus ingin menyampaikan ide-ide liar menjadi kesatuan bahasa. Ide liar yang dimaksud isi itu bukan sesuatu yang maya atau khayalan belaka. Namun, ide tersebut dihasilkan dari aktivitas keseharian, misalny sehabis tahajud, habis shalat muncul ide secara tak sengaja, kemudian langsung dia tuangkan dalam goresan tangan. Cemburu Raskin Berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari sebagai pelaksana program beras miskin (raskin), Agus betul-betul berasa gundah sehingga melahirkan sebuah goresan yang berjudul ''Cemburu Raskin.'' Lihat saja goresannya, Presiden Menetapkan Raskin/Camat Mengawasi Raskin/Di Istana Negara Raskin direstui/Di Rumah Tua Raskin Dinikmati. Pada setiap langkah, dia memang unik. Dia tak mau berandai-andai dengan karyanya. Namun, dia mencoba mengungkap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Budayawan asal Desa Pakijangan Drs Atmo Tan Sidik bahkan menyindir sikap Kang Lebai Penyair ini sangat unik dan tak dimiliki penyair lain. ''Mana ada penyair yang mau peduli soal raskin, Kang Lebai inilah yang mampu mengangkatnya,'' ujar Atmo. Bukan soal raksin saja, dari 200 karya Lebai Penyair itu tanpa disangka salah satunya mengupas keberadaan Koran Suara Merdeka. Enam bait yang dituangkannya di antaranya menggambarkan betapa koran ini sudah melakukan babat alas. Inilah cuplikannya. Tuan Budi Santoso Korannya Jawa Tengah Lama Kucumbui Sebelum Beranak Cempaka Oleh Karenanya Geguritan Ini Pinangan Bersulam Kerinduan yang Berjangka Kutulis Surat Ini Kala Koran Jawa Tengah Berusia Tahun Emas Ekstra 4 Terbilang Empu Kuli Tinta-Hetami, Babat Alas 1950 ''Saya memang cinta dengan koran ini. Meski saya tinggal di desa, saya ingin karya saya juga dimuat di sana,'' ujar suami Ny Dailah itu. Dengan gayanya yang khas, mantan guru mengaji yang pernah mengajar di madrasah di Cilincing, Jakarta itu menginginkan karyanya dibukukan. (Wahidin Soedja-42n) |