logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 17 Januari 2005 NASIONAL
Line

Kewibawaan Kakbah dan Kedekatan pada-Nya


KELILING KABAH: Jutaan umat muslim menggelilingi Kabah sambil berdoa sebagai bagian dari pelaksaan ibadah haji di Makkah. (79) - SM/AFP

SEJAK kecil aku shalat menghadap arah kiblat, Kakbah. Berpuluh tahun, sehari lima kali kuhadapkan wajahku ke arah Kakbah. Aku selama ini hanya tahu bentuk Kakbah dari lukisan dan foto-foto. Aku bayangkan Kakbah yang berada di Makkah nun jauh dari negeri tumpah darahku, adalah tak lebih dari sebuah bangunan berbentuk kotak berwarna hitam, tanda arah kiblat muslim dalam melakukan shalat.

Namun ketika kakiku menginjak lantai Masjidil Haram dan pandanganku untuk pertama kali menatap Kakbah Al-Musyarafah, sesuatu yang luar biasa terjadi. Kakbah yang berdiri kokoh seakan memancarkan kewibawaan tiada tara.

Ia juga memancarkan cahaya kedamaian. Sinar ajaib yang dipancarkannya juga menerobos celah-celah lubuk hatiku yang paling dalam. Aku benar-benar terpesona. Aku seakan terhipnotis.

Di dekat Kakbah begitu sangat terasa, seakan Allah berada sangat dekat denganku. Kedekatanku dengan Dia, bahkan kurang dari nol koma milimeter. Dia lalu membimbingku, mengikutiku ke mana aku melangkah.

Dia memberiku banyak nasihat. Dia Maha Pengasih dan Penyayang. Tangan-Nya menyambut hangat kehadiranku di Tanah Suci. Aku bersimpuh di hadapan-Nya. Aku serahkan jiwa raga ini pada-Nya. Jantungku berdetak cepat, tubuhku terasa gemetar, bulu kudukku berdiri, dan tak terasa, air mataku membasahi pipi.

Alam pikiranku menerawang, menjelajahi kebesaran-Nya, kuasa-Nya, termasuk menghadirkan jutaan manusia di satu tempat itu. Kuasa-Nya menyatukan niat jutaan manusia untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Kuturuni tangga Masjidil Haram, lalu kukitari Kakbah sebanyak tujuh kali. Bersama ratusan ribu manusia, dengan khusuk kupanjatkan doa-doa pada-Nya. Kuucapkan puja-puji syukur pada Yang Maha Esa dan Maha Segala-galanya.

Mengikuti Sunah

Juga bacaan salawat pada junjungan Nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Ya Allah, aku bertawaf ini karena beriman kepada-Mu dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, sesungguhnya bait ini rumah-Mu, tanah mulia ini tanah-Mu, hamba ini hamba-Mu, dan tempat ini adalah tempat yang berlindung pada-Mu dari siksa neraka, maka haramkanlah daging dan kulit kami dari siksa neraka.

Sekalipun menempuh medan berat, karena harus berdesakan dengan banyak orang bertubuh tinggi besar, tapi hati ini serasa damai. Meskipun sinar matahari menyengat (karena aku tak pakai penutup kepala), panasnya kurasakan tidak begitu menggigit. Inilah panas pengobar semangat. Panas yang berpotensi untuk menambah spirit.

Terpaan angin yang kadang lebih dahsyat dari yang pernah aku alami, tak menyurutkan niatku untuk semakin mendekat dan mendekat pada Hajar Aswad. Angin yang bertiup ini seakan menyapu ''ranjau'' kehidupan, sehingga menjauhkan aku dari segala yang diminta oleh-Nya untuk dijauhi.

Uniknya, ketika hanya kurang beberapa sentimeter saja tangan ini dapat menyentuh Hajar Aswad, tiba-tiba posisiku menjauh sampai beberapa meter ke samping kanan. Untuk langsung kembali mendekat, jelas tidak mungkin. Nekat, berarti bunuh diri.

Ribuan orang dengan tubuh yang jauh lebih besar dan kuat di belakangku, di kanan dan kiriku terus merangsek. Mereka pun ingin menyentuh, bahkan memeluk Hajar Aswad. Dengan sabar aku harus kembali mengitari Kakbah beberapa kali, hingga akhirnya sampai juga yang kuharapkan, memeluk Hajar Aswad.

Alhamdulillah. Alhamdulillahirobbilalamin.(Subakti A Sidiq - dari Makkah Al-Mukarramah-58m).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA