logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Januari 2005 SEMARANG
Line

Calon Wali Kota Harus Miliki Manajemen Perkotaan

SEMARANG - Figur calon wali kota dan calon wakil wali kota Semarang ke depan harus memiliki konsep manajemen perkotaan yang profesional. Selain itu, juga memiliki komitmen untuk membangun kota dengan basis pembangunan berkelanjutan.

Demikian pernyataan bersama dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), Ikatan Ahli Perencana (IAP), dan Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah dalam keterangan pers yang dikirim ke Suara Merdeka Biro Kota Jl Pandanaran 30, Kamis (13/1).

Pernyataan bersama itu ditandatangani, Ir Widya Wijayanto MRUP (Ketua IAI Jateng), Ir Dhodit LA Wardhana MM (Ketua INKINDO Jateng), Ir Holy Bina Wijaya MUM (Ketua IAP Jateng) dan Djoko Slamet Utomo (Ketua REI Jateng).

Ketua INKINDO Jateng Dhodit LA Wardhana menjelaskan, calon pemimpin Kota Semarang memiliki konsep konkrit untuk menyongsong kompleksitas kota metropolis, yang ditujukan baik kepada warga masyarakat, maupun pengunjung wisatawan dan investor.

Sehingga dengan konsep itu, perlu perbaikan fasilitas umum dan layanan publik, menekan tingkat kriminalitas dan menciptakan lingkungan hidup yang nyaman.

''Juga memperbaiki infrastruktur dan fasilitas produksi, sistem birokrasi dan regulasi yang kondusif dan membangun akses ke pusat-pusat bisnis nasional atau global. Fasilitas transportasi dan akomodasi serta merevitalisasi tujuan-tujuan wisata.''

Sampai saat ini, Kota Semarang masih menyimpan beragam permasalahan perkotaan yang penanganannya masih bersifat parsial. Dicontohkan, permasalahan itu adalah rob dan manajemen penanganan banjir, buruknya kondisi prasaran dasar jalan drainase, dan limbah perkotaan.

''Termasuk ruang publik menjadi hutan reklame, miskin ruang hijau dan berkurangnya daerah resapan air,''jelasnya.

Dhodit menambahakan, masalah pasar kota yang kumuh dan penataan PKL yang mengabaikan ketertiban dan kenyamanan warga kota lainnya serta estetika kota.

''Penanganan masalah perkotaan yang parsial itu sesungguhnya mengindikasikan persoalan itu tidak ditangani dengan manajemen perkotaan yang profesional,'' ungkapnya. (G17-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA