| Kamis, 13 Januari 2005 | OLAHRAGA |
Dokter Timnas Larang Boaz DimainkanJAKARTA -Sudah dapat dipastikan pemain yang selama ini menjadi inspirator serangan tim Indonesia, Boaz Solossa, tetap tidak bisa dimainkan dalam partai final kedua Piala Tiger 2004 melawan Singapura di kandang lawan, Minggu (16/1) mendatang. Ketua Komisi Medis PSSI Dokter Sonny Tobing mengakui, kendati kondisi pemain Persipura berusia 18 tahun ini berangsur membaik, tapi bila dipaksakan bermain, dari segi kedokteran terlalu berisiko. Demi kariernya yang masih panjang, dia meminta sebaiknya pemain bernomor punggung tujuh itu tidak dimainkan pada pertandingan tersebut. ''Cedera yang dialaminya memang tidak terlalu serius, karena tidak ada keretakan tulang pada engkel kaki kanannya. Namun demikian, dia jangan dipaksakan main.'' Menurut Sonny, waktu yang ideal untuk beristirahat dan memulihkan cedera adalah dua minggu. Kalau Boaz dimainkan dan cedera di tempat yang sama, dia khawatir dengan masa depannya. Kalau dimainkan dan terjadi benturan, baik berbenturan dengan kaki lawan ataupun saat menendang bola, pasti pergelangan kaki kanannya yang menjadi sumber cedera masih terasa sakit. ''Karena saya sebagai dokter, saya tidak mau mengambil risiko dengan memaksakan dia diturunkan. Kasihan, masa depannya masih panjang,'' ujarnya. Strategi Dijelaskan, kalau hanya untuk dibawa dan namanya dimasukkan dalam tim, tidak masalah. Mungkin, hal itu bisa menjadi strategi pelatih untuk memengaruhi mental pemain-pemain lawan. Keberadaan Boaz di tim Indonesia memang sangat diperhitungkan oleh tim-tim lawan. Boaz sendiri hingga ketiga latihan yang dilakukan timnas setelah kekalahan 1-3 dari Singapura pada pertandingan final pertama, belum juga mampu menendang bola. Kalau di dua hari sebelumnya dia hanya melakukan senam di tempat, pada hari ketiga dia sudah mampu berlari-lari kecil mengitari lapangan sebanyak tiga kali didampingi oleh juru pijat Sumadi. Hanya saja, sekali-kali pemain berkulit hitam ini menghentikan langkahnya untuk berjalan. Setelah itu, dia lebih banyak duduk menyaksikan rekan-rekannya berlatih di bawah siraman hujan yang tidak lebat. Boaz sendiri mengatakan dirinya tidak tahu akan dimainkan atau tidak. Yang jelas, lanjutnya, semuanya tergantung dari pelatih. Latihan tim Indonesia di hari ketiga itu tidak diikuti Charis Yulianto, yang sempat datang namun kemudian minta izin kepada pelatih untuk suatu keperluan. Peter Withe seperti biasa menggenjot para pemainnya dengan berbagai varian latihan fisik dan diakhiri dengan permainan. Withe sejak awal merasa yakin kalau timnya mampu merebut gelar di kontes Piala Tiger 2004. Rasa optimistis itu kemudian menjadi target resmi PSSI. ''Saya berambisi menjadi satu-satunya pelatih yang mampu merebut Piala Tiger tiga kali berturut-turut,'' katanya. Sebelumnya, dia berhasil mempersembahkan Piala Tiger 2000 dan 2002 untuk Thailand. Kendati tidak secara transparan dikemukakan, sejumlah pengurus harian mulai meragukan kemampuan Peter Withe untuk berhasil mengantar tim Indonesia merebut Piala Tiger 2004. Menyusul kegagalan membawa timnya meraih kemenangan penting atas Singapura pada final pertama di Jakarta, Sabtu (8/1) malam lalu, sejumlah pengurus bahkan sudah memvonis Withe sebaiknya diputus saja kontraknya kalau gagal. Menurut mereka, kesempatan dan momentum terbaik untuk merebut Piala Tiger adalah dengan merebut kemenangan pada pertandingan final pertama di Jakarta itu. (wgm-22) |