logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 13 Januari 2005 NASIONAL
Line

Mahasiswa Aceh Dibantu Kebutuhan Hidup

SEMARANG-Pemprov Jateng akan membantu kebutuhan hidup mahasiswa dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang kuliah di perguruan tinggi (PT) di Jateng. Namun berapa besar dan lama bantuan itu, masih belum ditentukan. "Bantuan jaminan hidup diprioritaskan bagi mahasiswa Aceh yang kehilangan sanak-keluarganya akibat gempa tektonik dan tsunami," kata Gubernur H Mardiyanto usai menjadi pembicara dalam diskusi panel "Penganggaran yang Akuntabel: Mewujudkan Good Provincial dan Local Governance'', di Hotel Patra, Selasa (11/1).

Dia mengatakan, jumlah mahasiswa asal Aceh yang kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) cukup besar. Namun jumlah pastinya sampai kini belum diketahui.

Dia meminta kalangan PTN dan PTS di Jateng segera memberikan data jumlah mahasiswa asal Aceh kepada Pemprov Jateng. Dengan demikian, pengucuran bantuan secepatnya bisa disalurkan kepada para mahasiswa tersebut. Saat ini yang sudah menyampaikan informasi baru Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, yakni 114 orang.

Saat menyinggung berapa jumlah bantuan kebutuhan hidup yang akan diberikan kepada para mahasiswa Aceh itu, dia mengatakan, masalah itu akan dibahas dengan para pengelola perguruan tinggi. ''Jumlah jaminan hidup, termasuk berapa lama jaminan hidup akan diberikan kepada para mahasiswa Aceh nanti, akan dibahas dengan para pengelola perguruan tinggi di Jateng," katanya.

Pendidikan Darurat

PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jateng mendesak pemerintah memprioritaskan pendidikan darurat. Menurut Wakil Ketua PW IPNU Jateng M Rikza Chamami SPdI, dengan kematian 1.000 guru di NAD dan Sumatera Utara, pengiriman tenaga guru bantu menjadi sangat penting.

Dia mengatakan, yang dibutuhkan saat ini antara lain tenda-tenda darurat untuk proses pendidikan, dan segera membangun gedung-gedung sekolah yang roboh.

Selain itu, lanjutnya, dengan mengirimkan guru-guru ke daerah tersebut, serta menyadarkan semangat belajar warga (khususnya anak-anak) sebagai tonggak kejayaan Aceh dan Sumatera Utara di masa mendatang, diharapkan tercipta learning community.

Dia juga meminta ada pengalokasian dana secara maksimal dengan anggaran penyelenggaraan sekolah secara gratis di tempat bencana, serta menyediakan fasilitas belajar seperti buku-buku pelajaran dan alat tulis sebagai penunjang kesuksesan belajar. (G7-69t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA