logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 13 Januari 2005 NASIONAL
Line

Mendesak, Perbaikan Rel Semarang-Solo

SEMARANG-Perbaikan rel kereta api Semarang-Solo mendesak dilakukan, mengingat jalur tersebut sampai saat ini belum berfungsi optimal. Terutama jalur di sepanjang Brumbung-Gundih sejauh 30 km perlu segera diperbaiki, karena pada jalur tersebut kereta hanya bisa melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Jika diperbaiki, waktu tempuh KA Pandanwangi Semarang-Solo dapat dipersingkat dari 2 jam menjadi 1 jam 10 menit.

Demikian usulan yang diajukan Indonesian Railways Preservation Society (IRPS), sebuah lembaga nonprofit yang beranggotakan pencinta kereta api, dalam diskusi terbatas dengan jajaran Daop IV PT Kereta Api (Persero), Selasa (11/1).

Menurut salah seorang anggota IRPS, Indra Krishnamurti, kondisi jalur kereta api dari Semarang-Brumbung cukup baik. Pada jalur tersebut, KA Pandanwangi dapat melaju dengan kecepatan 90 km/jam. Namun mulai dari Brumbung hingga Gundih, rel dengan spesifikasi R42 hanya dapat dilalui kereta berkecepatan 40 km/jam. Kondisi jalur yang rusak juga mengakibatkan guncangan besar sehingga kenyamanan penumpang terganggu.

''Dengan kondisi rel saat ini, KA Pandanwangi kesulitan bersaing dengan transportasi darat yang lain karena kurang menawarkan kenyamanan dan kecepatan waktu,'' katanya.

Bersama tiga anggota IRPS yang lain, Indra juga mengajukan usulan analisis finansial perbaikan jalur Semarang-Rembang. Lembaga ini mengusulkan, lokomotif CC 20015 yang saat ini tidak dioperasikan dimodifikasi menjadi kereta berkelas bisnis-eksekutif dengan nama KA Candi Express. Jalur yang diusulkan adalah Semarang-Solo-Yogyakarta, dua kali pulang-pergi.

Butuh Rp 2,1 Miliar

Berdasarkan analisis finansial IRPS, biaya perbaikan jalur Semarang-Solo dan pengoperasian kereta eksekutif Candi Ekspress membutuhkan dana Rp 2,1 miliar. Dengan asumsi jumlah penumpang 100 orang/hari dan dua rangkaian kereta eksekutif bertarif Rp 25.000/orang, PT Kereta Api (Persero) diperkirakan mencapai break event point pada kuarter pertama tahun ketiga.

Peneliti transportasi Unika Soegijapranata, Ir Djoko Setijowarno, mengungkapkan, jalur menengah kurang dari 100 km seperti Semarang-Solo potensial untuk dikembangkan. Seperti KA Parahyangan, kata dia, pada dekade 1970-an hanya dioperasikan empat kali sehari. Kini, kereta komputer itu dioperasikan 30 kali/hari.

Kepala Humas Daop IV PT Kereta Api Suprapto mengungkapkan, usulan tersebut diharapkan dapat menjadi masukan, baik untuk PT Kereta Api maupun pemerintah pusat dan daerah. Perbaikan track Semarang-Solo, setiap tahun telah dianggarkan. Namun diakuinya jalur tersebut belum menjadi prioritas utama, karena perbaikan jalur diprioritaskan pada jalur utama, bukan lintas cabang.(H5-58t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA