| Kamis, 13 Januari 2005 | NASIONAL |
694 Gedung Sekolah di Aceh RusakBANDA ACEH- Banyaknya bangunan sekolah yang rusak dikhawatirkan akan menghambat proses belajar mengajar di kawasan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Hingga Rabu, 694 gedung sekolah di NAD mulai TK, SD, SMP, hingga SMA rusak. Laporan itu disampaikan para kepala daerah kabupaten/kota di NAD saat rapat koordinasi Muspida tingkat I dan II di Kantor Gubernur NAD yang dipimpin Wakil Gubernur Azwar Abubakar. Data gedung rusak tersebut berasal dari 15 kabupaten/kota di NAD yang terkena musibah. Wartawan Suara Merdeka Agus Toto W dan Rukardi dari Banda Aceh melaporkan, kerusakan gedung sekolah terbanyak berada di Kota Banda Aceh, yaitu 140 gedung. Disusul 134 gedung di Simeulue, kemudian di Aceh Besar 112 gedung dan Aceh Jaya 103 gedung. Kerusakan terbanyak menimpa bangunan sekolah dasar, yaitu 295 gedung, lalu TK (74), SMP/MTs (76), SMA/MA (37), SMK (9), dan Dayah (20). Plh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NAD Drs Anas M Adam MPd seusai mengikuti rakor mengatakan, banyaknya gedung sekolah yang rusak itu menjadi kendala penyelenggaraan pendidikan di NAD. Padahal proses belajar mengajar di wilayah NAD yang terkena bencana ditargetkan mulai berlangsung pada 26 Januari mendatang. Adapun sebagian sekolah yang tidak mengalami kerusakan sudah memulai pendidikan sejak 10 Januari. Dia mengatakan, untuk melaksanakan target belajar mengajar pada 26 Januari akan dilakukan dengan mendirikan tenda-tenda darurat. ''Akan tetapi, hingga sekarang kami belum menerima tenda darurat untuk pendidikan,'' katanya. Menurut dia, tenda-tenda darurat tersebut didatangkan oleh Badan Pendidikan PBB (UNICEF). Dia mengharapkan kepastian kedatangan tenda-tenda dapat secepatnya diperoleh untuk menentukan lokasi pendirian tenda dan jumlahnya. Sementara itu untuk memfungsikan gedung sekolah yang hanya tertutup lumpur, dia sudah menyurati Dinas Kimpraswil dan Pengairan untuk membersihkannya. Diharapkan, pada 26 Januari gedung itu dapat berfungsi sebagai tempat belajar. Selain kerusakan bangunan sekolah, ungkap dia, kendala kelangsungan belajar mengajar juga menyangkut tenaga pengajar. Sebab sedikitnya 1.329 guru dari sekitar 40 ribu guru di NAD dinyatakan hilang. Persentase jumlah guru yang hilang bisa dikatakan kecil. Para guru yang hilang tersebut umumnya tinggal di daerah bencana di 15 kabupaten/kota. ''Tenaga pegajar yang dinyatakan hilang pada awalnya masih dimungkinkan untuk ditemukan. Namun, sekarang kemungkinan tersebut sangat kecil. Mereka yang hilang itu tidak akan kembali. Sebab sudah ada laporan dari para keluarga mereka,'' ungkapnya. Pada umumnya guru-guru yang hilang itu tinggal di daerah Aceh Jaya, Aceh Besar, Aceh Barat, dan Banda Aceh. Adapun guru yang tidak menjadi korban banyak yang sudah keluar dari Aceh. Sebab sebagian mereka sudah tidak memiliki tempat tinggal di Aceh. Karena kehilangan ribuan tenaga pengajar, Dinas Pendidikan NAD dipastikan kekurangan tenaga pengajar. Karena itu, Dinas Pendidikan merekrut guru bantu serta relawan untuk mengajar di tenda-tenda darurat dan sekolah-sekolah yang masih bisa difungsikan. Tidak hanya gedung sekolah dan guru yang menjadi kendala, keberadaan peserta didik juga menjadi persoalan tersendiri. Bahkan hingga kini Dinas Pendidikan belum bisa mendata jumlah siswa yang menjadi korban tsunami. ''Kami belum bisa memberikan data jumlah siswa yang menjadi korban karena memang cukup sulit. Sebagian mereka masih tinggal di pengungsian atau ikut keluarga atau saudara di luar Aceh,'' katanya. Pendataan siswa baru bisa dilakukan setelah 26 Januari atau hari pertama masuk sekolah. Pada hari-hari pertama masuk sekolah, lanjut dia, siswa bersekolah nanti bisa dijadikan data. ''Sekarang sudah banyak siswa yang mengajukan pindah ke Medan, Jakarta, dan Jawa. Kami bersyukur proses kepindahan mereka tidak dipersulit di sekolah yang dituju,'' tandasnya. (83i) |