logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 13 Januari 2005 NASIONAL
Line

Lambaro, "Ibu Kota" Baru Pascabencana


PASAR LAMBARO : Salah satu sendi perekonomian yang menggairahkan Kota Lambaro adalah aktivitas di Pasar Lambaro.(69i) SM/Rukardi

JARUM jam masih menunjuk angka 07.00. Matahari belum bersinar terang di Lambaro. Meski demikian, aktivitas masyarakat di Ibu Kota Kecamatan Inginjaya, Kabupaten Aceh Besar itu sudah tampak. Di Pasar Lambaro, denyut nadi kehidupan betul-betul terasa. Pedagang menggelar dasaran hingga ke bahu jalan. Aneka barang kebutuhan sehari-hari dapat ditemukan di tempat itu, dari pisang, rambutan, langsap, dan tomat, sayur-mayur, daging, bumbu dapur, hingga ikan asin.

Beberapa polisi sibuk mengatur kendaraan yang melintas. Sejumlah labi-labi (angkutan kota) terlihat mangkal seenaknya di depan pasar itu. Ya, aktivitas perdagangan di Pasar Lambaro, pada dua pekan terakhir melonjak drastis. Geliat perekonomian di kota kecil itu seolah-olah menggantikan padamnya nadi perekonomian Banda Aceh yang porak-poranda, akibat musibah gempa bumi dan tsunami 26 Desember lalu. Musibah yang menelan lebih dari seratus ribu jiwa itu, ternyata berdampak langsung pada perkembangan Kota Lambaro.

Padahal sebelumnya, Lambaro hanya kota kecil yang sepi. Pasar Lambaro yang menjadi titik sentral aktivitas masyarakat tak seramai sekarang. Dulu, pedagang yang menggelar dagangan bisa dihitung dengan jari tangan. Mereka tak sampai meluber sampai tepi Jalan Raya Medan-Banda Aceh yang membentang di depannya. Namun, sejak bencana tsunami, aktivitas Pasar Lambaro semakin marak. Matinya beberapa pasar di Banda Aceh, seperti Ulee Kareng, Nesu, Peunayong, dan Pasar Atjeh menyebabkan masyarakat beralih ke Pasar Lambaro.

Tentu saja kondisi tersebut mengundang para pedagang untuk berbondong-bondong menggelar dagangan. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar Banda Aceh, seperti Indrapuri, Montasiek, dan Bireun. Tak mengherankan, keuntungan yang diperoleh para pedagang itu berlipat. Demikian pula dengan para pedagang dan penyedia jasa yang sebelumnya telah mangkal di kawasan itu.

Kabirul Hafidh (27), pengelola wartel di kawasan Simpang Lambaro, mengungkapkan, sejak masuknya bantuan ke Aceh, penghasilannya terus bertambah. Meski wartelnya baru berani buka seminggu setelah bencana, usahanya langsung diserbu banyak konsumen. Mereka bukan saja penelepon yang melakukan sambungan interlokal, melainkan juga pengguna jasa internet.

''Sebelum kejadian, rata-rata pendapatan Rp 100 ribu per hari, paling tinggi Rp 300 ribu per hari. Namun sekarang pendapatan bisa mencapai Rp 1 juta, bahkan pernah Rp 3 juta sehari,'' tuturnya sambil menghitung pemasukan pada Senin (10/1) lalu.

Menurut dia, Lambaro sejak dulu sudah dipadati orang-orang dari luar kota. Namun, kepadatan itu mencapai puncak setelah Kota Banda Aceh dihantam gempa dan tsunami, dua pekan lalu. Bramatya (20), pemilik kedai Kopi Surya mengaku mendapat limpahan rezeki. Jika sebelumnya, kedai kopi miliknya rata-rata hanya menghasilkan Rp 100.000 per hari. Belakangan ini, penghasilannya naik lima kali lipat.

Satu lagi yang menjadi penyebab Lambaro ramai adalah keberadaan para relawan, wartawan, dan pendatang asal luar Aceh. Mereka memilih kawasan tersebut sebagai pangkalan karena relatif lebih aman dari ancaman tsunami susulan yang konon masih mungkin terjadi di NAD. Di Lambaro para pendatang itu lebih mudah mencari makanan dan aneka kebutuhan sehari-hari yang mereka butuhkan. Aneka jenis makanan dan minuman tersedia. Mau cari busileumoe (semacam kari sapi), busikameng (kari kambing), mi goreng, atau menikmati segelas kopi aceh, semuanya ada.

Tak hanya siang hari, beberapa warung makan masih buka hingga menjelang tengah malam. Karena itu, para relawan yang lapar pada malam hari bisa memenuhi keinginannya. Atau jika mereka sekadar ingin menikmati suasana malam, setelah seharian bekerja keras mengevakuasi mayat dan mendistribusikan bantuan, kedai-kedai kopi yang bertebaran di tempat itu bisa menjadi tempat ideal.

Yanto, seorang relawan dari Jakarta menuturkan, lembaganya memilih mendirikan posko di Lambaro, salah satunya karena banyak warung dan toko yang buka di kawasan itu. Berbeda dari Banda Aceh yang telah menjadi kota mati, di Lambaro kehidupan berjalan relatif normal.

''Kalau di Banda Aceh, kami susah mencari makan. Sekarang mana ada warung atau toko yang buka malam hari di sana. Pada malam hari Banda Aceh menjelma seperti kota hantu, gelap, sepi, dan menyeramkan,'' katanya.

Ya, Lambaro, kota kecil yang terletak sekitar 10 km selatan Banda Aceh itu kini bangun pagi-pagi dan tidur agak sedikit larut. Kini kota itu seolah menjelma menjadi ibu kota baru Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pascabencana tsunami.(Rukardi, Agus Toto W-69i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA