logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 13 Januari 2005 NASIONAL
Line

Dukungan Meningkat bagi Moratorium Utang Setahun

PARIS - Menlu Hassan Wirajuda mengatakan, dia melihat adanya dukungan yang terus meningkat di kalangan negara kreditor Paris Club untuk memberikan moratorium utang selama setahun, guna membantu negara-negara Asia yang diterjang tsunami 26 Desember.

''Sejauh ini, beberapa negara telah menyatakan siap memberikan penundaan pembayaran cicilan utang selama setahun,'' kata Wirajuda, Rabu, dalam wawancara dengan Reuters di Paris.

''Saya kira mereka akan mencapai kesepakatan untuk memberikan keringanan pembayaran utang,'' tambahnya.

Dikatakan, dua sampai tiga pekan lagi akan ada gambaran lebih jelas. Perkiraan awal mengindikasikan, bakal dilakukan rekonstruksi utang sampai 2,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 22,5 triliun).

Menkeu Prancis Herve Gaymard mengatakan dalam pertemuan para pejabat Paris Club di Paris, kelompok negara-negara kaya G7 yakin penangguhan utang sangat penting.

''Bagi negara-negara anggota G7, moratorium utang tampaknya tidak bisa ditolak. Dengan demikian, negara-negara yang terkena bencana dapat mengatasi kesulitan mereka dalam waktu dekat,'' katanya.

Rapat tertutup G7 di ibu kota Prancis itu membahas seberapa besar dan jenis bantuan apa yang tepat untuk diberikan kepada Indonesia. Tidak ada rencana untuk mengadakan konferensi pers menyusul pertemuan tertutup tersebut.

Lebih Suka Hibah

Menlu Wirajuda mengatakan, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) akan membuat penilaian sendiri mengenai kebutuhan Indonesia, setelah negara-negara Paris Club menyesuaikan kembali komitmen mereka.

''Moratorium utang tampaknya hampir dipastikan akan disahkan, tetapi masalah teknis dan syarat-syaratnya masih dibahas,'' katanya.

Menlu Prancis Michel Barnier, yang Selasa lalu berunding dengan Wirajuda, mengatakan pemerintahnya siap membekukan pembayaran cicilan utang Indonesia sebesar 130 juta euro (sekitar Rp 1,5 triliun) pada tahun ini.

Para pejabat mengatakan, Wirajuda telah menyampaikan kepada Barnier segala kebutuhan Indonesia. Dikatakan, RI lebih suka hibah daripada pinjaman yang bakal tidak populer bagi rakyat Indonesia.

Senin lalu, Indonesia mengatakan para kreditor Barat diharapkan membolehkan RI menunda cicilan utang sampai 30 triliun rupiah sampai 2006, guna mengatasi bencana gempa dan tsunami.

Gempa tektonik yang disusul dengan tsunami pada 26 Desember lalu, sejauh ini diketahui telah menewaskan lebih dari 104.000 orang di Aceh dan Sumatera Utara.

Penundaan cicilan yang diharapkan RI itu setara dengan sepertiga dari cicilan utang 8,8 miliar dolar AS (sekitar Rp 80 triliun), yang dijadwalkan dibayar sampai dua tahun mendatang kepada kelompok negara kreditor.

Wirajuda mengatakan, pasar memahami Paris Club dan G7 membantu Indonesia berdasarkan ''pertimbangan politik dan kemanusiaan''. Dia yakin, pasar tidak akan bereaksi negatif terhadap tawaran bantuan tersebut.(rtr-ben-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA