| Minggu, 09 Januari 2005 | OLAHRAGA |
Lusiana Nur AriantiLebih Utamakan KuliahNAMA Lusiana Nur Arianti sudah tidak asing lagi bagi penggemar tenis lapangan nasional. Gadis kelahiran Semarang 27 April 1984 yang akrab disapa Nana itu sudah malang melintang di dunia tenis lapangan sejak kecil. Gelar juara pun sudah tidak terhitung diraihnya. Bahkan, mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Soegijapranata angkatan 2002 itu menyabet dua medali di Pekan Olah Raga Mahasiswa (POM) ASEAN yang digelar di Surabaya 5-12 Desember lalu. Wakil Indonesia di arena multievent itu menyumbang medali perak di nomor beregu serta medali perunggu di ganda putri. Prestasi tersebut cukup membanggakan, karena melebihi target yang telah ditetapkan pelatih. Selain Nana, di POM ASEAN itu regu Indonesia juga diwakili oleh Ida Sutedja (DIY Yogyakarta), Novianti Warsono (Bandung), dan Suci Bungaran (DKI Jakarta). "Hasil tersebut di luar dugaan. Sebab, semula targetnya hanya satu perunggu. Ternyata kami bisa menyabet satu perak dan satu perunggu. Tentu saja, itu membuat saya bangga," ungkap dara bungsu dari tiga bersaudara pasangan almarhum Frans Hari Poernama dan Nuraini Wikanta itu. Prestasi tersebut tidak diraih Nana secara mudah. Dia harus melahap latihan keras setiap sore dari Senin hingga Jumat. Di bawah bimbingan pelatih Kwee Ing Djoe sejak usia 9 tahun, kemampuannya terus diasah. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Pendidikan Sewaktu duduk di kelas 4 SD, cewek yang mempunyai hobi panjat pohon itu sudah menyabet juara II kejuaraan kelompok umur di Semarang. Pada usia 10 tahun, namanya semakin berkibar di tingkat nasional dengan menjuarai turnamen Piala New Armada di Magelang. Pada level senior, namanya juga menanjak. Dua kali dia berhasil merebut juara II di Hamengkubowono Cup. Selain itu, gelar juara II saat Invitasi Pekan Olah Raga Mahasiswa di DIY tahun 2003 ketika mewakili Unika Soegijapranata, berhasil di genggamnya. Saat ini, di tingkat nasional, Nana duduk pada peringkat ke-26 single senior dan 19 untuk double senior. Meski terus berprestai, Nana tidak melupakan kuliahnya. Bahkan, baginya kuliah merupakan hal utama yang tidak boleh ditinggalkan. Sebab, hal itu menyangkut masa depannya. "Meski menyukai tenis, saya tidak terlalu bernafsu mengejar prestasi di bidang itu. Saya ingin konsentrasi di kuliah dan mengutamakan pendidikan. Namun, di Porda 2005 mendatang, saya tetap siap membela Semarang," terangnya. Nana memang lahir dari keluarga atlet. Ibunya, Nuraini Wikanta merupakan mantan atlet tenis meja. Bakat sang ibu itu turun juga kepada dirinya. Buktinya, saat duduk di kelas 5 SD, Nana pernah menjadi juara I kejuaraan tenis meja se-Semarang. Namun, ketika melihat kakaknya bermain tenis lapangan, minatnya terhadap tenis meja pun mulai luntur. Dia beralih ke tenis lapangan. Ternyata, di tenis lapangan dia merasa lebih enjoy. Cabang ini dinilai lebih menantang, karena kejuaraan yang digelar lebih banyak dan kontinyu. "Saya merasa enjoy di tenis. Karena itu, jika sudah gantung raket nanti saya ingin jadi pelatih," tandasnya. (Budi Winarto-22) |