logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 09 Januari 2005 OLAHRAGA
Line

"Tsunami" Menerjang Senayan

Oleh: Amir Machmud NS

IBARAT tsunami susulan yang menerjang Stadion Gelora Bung Karno Senayan, keoptimistisan itu pun terbanting berkeping-keping. Ketika Singapura tak terlalu dihitung seperti kalau kita begitu "menghormat" kepada Thailand dan Vietnam, apa yang kemudian terjadi? Skor 3-1 dalam seri pertama final Piala Tiger jelas menggambarkan, kualitas pun bisa mengendap di balik tim yang kurang dikandidatkan.

Beberapa hari menjelang final, saya mengingatkan teman-teman yang terlalu optimistis, Singapura justru harus diwaspadai lebih dari yang lain. Hasil aktual, uji coba yang dimenangkan 2-0 dan skor 0-0 di Vietnam, bukankah fakta head to head yang menunjukkan di mana posisi Aide Iskandar dkk? Faktanya, secara teknis, baik individual maupun kualitas taktikal, pasukan Avramovich ini tidaklah di bawah kontestan unggulan mana pun.

Kita memang bisa berdalih, mengapa momen Kurniawan yang dijatuhkan kiper Lionel Lewis tidak dikompensasi dengan penalti? Tepatkah pula strategi Peter Withe yang langsung menurunkan tridente dengan mengurangi satu pilar di lini belakang? Ah, catatlah itu sebagai bagian dari romantika dan misteri sepak bola, yang bagi tim lawan tentu dianalisis membawa hikmah-hikmah tersembunyi.

Saya meggarisbawahi, konfidensi yang agak berlebihan memang potensial mengundang bahaya. Bukalah memori 1977, ketika timnas Pra-Piala Dunia (PPD) yang sangat percaya diri karena gemilang dalam ujicoba internasional, justru "macet" dalam medan yang sesungguhnya. Bahkan ketika dalam pertandingan pertama, unggul 1-0 di babak pertama atas Hong Kong, kita tidak pernah berpikir akan dihancurkan 1-4.

Permasalahannya sekarang, mampukah dengan kondisi berat dan compang-camping ini Ponaryo Astaman dkk membalik keadaan dalam seri kedua di Singapura, sepekan mendatang? Bukan berarti menebar kepesimistisan, tetapi sewaktu membalik keadaan atas Malaysia di Bukit Jalil, kita hanya tertinggal 1-2.

Begitu besar harapan masyarakat kepada tim ini, yang dibayangkan bakal melahirkan "generasi legenda" dengan sukses besar di Piala Tiger 2005.

* * *

YA, ada masa-masa kita membayangkan memiliki tim nasional dengan materi paling baik dalam sejarah. Lalu tim mana yang layak disebut sebagai legenda?

Angkatan Olimpiade 1956 Melbourne yang menahan Uni Soviet 0-0 itukah, dengan macan-macan Ramang, Ramlan Yatin, Maulwi Saelan, Aang Witarsa, Danu, Yusron, Him Tjiang, Tanoto, dan legenda lainnya? Atau angkatan Sutjipto Soentoro, Abdul Kadir, Yacob Sihasale yang merajai turnamen-turnamen di Asia pada semester kedua 1960-an? Atau mungkin tim PPD 1978 yang fenomenal dalam uji coba internasional tetapi keok saat perang yang sesungguhnya?

Ya, ketika itu optimisme memang begitu menggumpal terhadap tim PPD yang akan tampil dalam babak penyisihan di Singapura. Hasil-hasil uji coba dengan mendatangkan klub-klub Eropa dan Amerika Latin menggelorakan persiapan tim asuhan Tony Pogacnik. Sangat meyakinkan, dan para pemain pun begitu lekat sebagai bintang: Ronny Paslah, Johannes Auri, Simson Rumahpassal, Oyong Liza, Suaeb Rizal, Junaedi Abdillah, Nobon Kayamullah, Anjas Asmara, Sofyan Hadi, Ronny Pattinasarani, Iswadi Idris, Andi Lala, Risdianto, Waskito, dan sejumlah lainnya. Tetapi apa yang terjadi? Kalah 1-4 dari Hong Kong, ditahan Malaysia 0-0, kalah 2-3 dari Thailand, lalu unggul 4-0 atas Singapura menggambarkan betapa sakit optimisme itu di hadapan fakta hasil.

Patut pula dicatat tim PPD 1985 yang menjuarai Subgrup IIIB Asia Timur. Nama-nama Hermansyah, Warta Kusuma, Marzuki Nyakmad, Herry Kiswanto, Aun Harhara, Ristomoyo, Elly Idris, Zulkarnaen Lubis, Rully Neere, Bambang Nurdiansyah, atau Wahyu Tanoto mencetak hasil membanggakan melawan Thailand, Bangladesh, dan India. Perjalanan tim Sinyo Aliandoe ini baru terhenti di final Grup III setelah kalah 0-2 dan 1-4 dari Korea Selatan. Tetapi apakah tim ini pantas dikenang sebagai yang terbaik?

Masih ada tim Bartje Matulapelwa yang secara mengejutkan masuk ke semifinal Asian Games 1986. Toh harus diakui, dari segi permainan, tim ini baru menemukan performa puncak di Piala Kemerdekaan dan SEA Games Jakarta 1987 dengan meraih medali emas. Tercatat nama-nama yang cemerlang waktu itu: Ricky Yacobi, Nasrul Koto, Budi Wahyono, dan sang pencetak gol penentu: Ribut Waidi.

Dari kadar hasil dan kualitas, tim SEAG 1987 memang cukup meyakinkan. Berbeda dari tim SEAG 1991 Manila besutan Anatoly Polosin yang juara dengan modal fisik prima. Materinya bukan yang terbaik, karena para pemain bintang justru "lari" dari program fisik spartan Polosin.

Lalu bagaimana sebenarnya tim Piala Tiger kali ini?

Oke, dari sisi mutu permainan dan materi pemain. Di bawah Peter Withe yang cerdik dan punya konfidensi tinggi, tim Merah-Putih membawa angin segar. Pertama, kepercayaan diri, buah dari dril mental Withe untuk keluar dari kungkungan inferioritas. Kedua, atmosfer itu mampu mengeksplorasi kemampuan para pemain secara tuntas.

Simaklah bagaimana performa Kurniawan Dwi Julianto sekarang, Ilham Jayakesuma, Boas Salossa, Elie Aiboy, Charis Yulianto, hingga Muhammad Mauli Lessy. Ketiga, spirit bertarung yang menumbuhkan motivasi luar biasa, antara lain terbukti pada pertandingan melawan Vietnam dan Malaysia. Keempat, dukungan publik. Sebuah kebangkitan apresiasi menyertai pemunculan tim Withe ini dengan harapan, support, kepercayaan, sekaligus histeria.

Up-trend ini tidak terlepas dari polesan Ivan Kolev baik di Piala Asia maupun PPD 2003. Kemenangan 2-1 atas Qatar di China, performa menawan kendati kalah 1-3 dari Arab Saudi di Senayan dan sukses mengalahkan Turkmenistan 3-1 dimodali oleh konfidensi penampilan. Muncul keyakinan "kita bisa", dan itulah yang tampaknya tereksplorasi dari model pendekatan Withe.

Tetapi rupanya masih butuh banyak bukti untuk menuntaskan pemosisian mereka dalam lintasan sejarah penting sepak bola nasional. Performa mereka belum stabil. Hanya, ada pesan penting yang dibawa tim ini, bahwa keluar dari perasaan rendah diri terbukti merupakan resep mujarab untuk memulai karya baru.

Ketika kini, para pemain seperti Bambang Pamungkas, Elie, atau Ilham mulai laku di pasar internasional dengan harga "ruarrrr biasa" untuk ukuran kocek atlet Indonesia, bukankah itu sebuah pengakuan? Publik pun kini memberi "pengakuan" dengan fanatisme yang tak kalah dari perhatian terhadap bintang-bintang dunia - yang setiap pekan berlalu lalang lewat tayangan liga-liga Eropa.

Sayangnya, momen di depan mata, final kali ketiga berturut-turut di Piala Tiger tampaknya memaparkan kenyataan lain.

Masih berhakkah kita berharap untuk "memaksa bola lebih bundar dari yang sudah bundar", 16 Januari mendatang?

- Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka-22


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA