logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 09 Januari 2005 OLAHRAGA
Line

Solo Jadi Tujuan Akhir Agung

KEKECEWAAN Agung Setyabudi atas kandasnya keinginan untuk mengakhiri karier sepak bola di Semarang telah berlalu. Keputusannya bergabung dengan Persis Solo, membuat dia mengubah niat lama tersebut dengan tekad baru.

"Ya, ada sedikit rasa kecewa karena harus meninggalkan Semarang. Tapi sekarang saya sudah mantap untuk mengakhiri karier di Kota Solo, kota kelahiran saya. Sudah cukup lama saya meninggalkan kota ini demi sepak bola, dan sekarang saya ingin membela tim di sini," kata mantan kapten tim nasional itu, kemarin.

Dengan tekad barunya itu, berarti dia tak peduli langsung anjlok berlaga di Kompetisi Divisi II. Padahal sebelumnya dia selalu berlaga di Divisi Utama. Melihat kualitas dan pengalamannya yang malang melintang membelas timnas selama satu dekade lebih, dia tentu masih diminati tim-tim Divisi Utama maupun Divisi I.

Kiprah terakhirnya di timnas terjadi Agustus lalu, saat berlaga dala putaran final Piala Asia di China.

Namun, tekadnya sekarang sudah bulat. Tim Persis yang anggota Divisi II Nasional dimasukinya. Jadilah pemain yang ditemukan Diklat Arseto ini balik kandang.

Awalnya dia bergabung dengan Arseto Solo pada 1992 dan meninggalkan kota itu pada 1998, setelah klub itu bubar. Setelah 1998, pemain yang kini berusia 32 tahun itu tidak pernah memperkuat tim yang ber-home base di Solo.

Banyak Tawaran

Pertimbangan lain bapak dua anak, Anna Savira dan Avia Salma itu bermain dalam tim yang dilatih Hartono Ruslan tersebut adalah agar dirinya dekat dengan keluarga. Bersama istrinya, Arini Setyowati yang pegawai Pemkab Sukoharjo, kini dia tinggal di Perumahan Banyuanyar Indah, Kecamatan Banjarsari, Solo.

Soal ajakan main ke klub lain, bekas bek sayap PSIS itu mengaku memang mendapat banyak tawaran. Salah satunya anggota Divisi I Persigo Gorontalo. Kesebelasan yang dilatih Yudi Suryata, mantan pelatih Persipura Jayapura, konon meminati permainan keras Agung.

Tawaran juga pernah terlontar dari PSS Sleman dan PSKS Krakatau Steel Banten. Tak kurang Danurwindo pun secara lugas pernah menyampaikan minat merekrut anak pesiunan polisi itu. Namun berbagai ajakan dengan iming-iming nilai kontrak cukup menjanjikan tersebut ditolaknya.

"Saya sudah capek mondar-mandir. Apalagi kalau tawarannya dari tim luar Jawa, saya tidak ingin di sana," ujar pria kelahiran 2 November 1972 ini.

Pemain yang kini berkonsentrasi menjadi libero di Persis itu menyatakan, usianya kini juga sudah tak lagi muda, sehingga dia lebih memilih bermain dalam tim yang dekat dengan rumahnya. Setelah gantung sepatu nanti, dia mengaku ingin menjadi pelatih. "Ya, arahnya jadi pelatih. Sebab, rasanya sangat sulit meninggalkan sepak bola."

Manajer Tim, Drs Sumedi Wasisto SH mengatakan, potensi Persis jadi lebih bagus dengan bergabungnya Agung dan rekan seangkatannya Untung Sudrajat. Hanya saja, menurutnya, kerja sama tim belum maksimal.

"Selain itu, kami juga belum punya ujung tombak yang tajam, yang jago heading. Tapi masih ada waktu untuk membenahi, hingga awal putaran kompetisi mendatang, Maret nanti," katanya optimistis.(Setyo Wiyono, Bambang Seto-22)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA