logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 09 Januari 2005 NASIONAL
Line

Yang Tertinggal saat Tsunami

"Tongkang Raksasa" Itu Terseret sampai 4 Km


TERSERET: Tongkang PLTD Apung milik Pertamina dengan berat mati sekitar 200 ton itu terseret dari Pelabuhan Uleelhe hingga ke Kampung Punge Balangcut yang berjarak sekitar 4 kilometer.(81) - SM/Rukardi

SETELAH gelombang tsunami mereda, Minggu (26/12) siang, H Safwan (43) kembali ke rumahnya di Kampung Punge Blangcut, Kecamatan Jayabaru, Banda Aceh. Lelaki itu begitu takjub dan trenyuh menyaksikan kerusakan yang diakibatkan oleh gelombang besar itu.

Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah rumah-rumah yang hancur, pohon-pohon dan tiang listrik yang tumbang, serta mayat-mayat yang berserakan di sembarang tempat.

Namun, satu hal lagi yang membuat Nasir merasa takjub, keberadaan sebuah "tongkang raksasa" di bekas reruntuhan kampungnya. "Tongkang" itu teronggok begitu saja, melindas bangunan rumah miliknya dan beberapa orang tetangganya.

"Tongkang baja" itu sesungguhnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung milik PLN yang semula ditambatkan di Pelabuhan Ulee Lheu. Diperkirakan PTLD yang berbobot 200 ton itu telah terhempas sejauh 4 kilometer.

"Saya masih tak habis pikir, bagaimana tongkang sebesar itu bisa sampai di sini. Bagi mereka yang tak melihat langsung datangnya gelombang tsunami, keberadaan tongkang ini di sini menjadi bukti betapa dahsyatnya gelombang tsunami itu," kata Safwan dengan ekspresi wajah keheranan.

PLTD tersebut seutuhnya adalah besi mati yang luasnya 1.600 m2. Pantas saja kalau tak ada luka gores satu pun pada tubuh "rakasa besi" itu kendati menghantam tiang listrik, menghancurkan rumah-rumah penduduk, dan menyeret sejumlah korban sebelum terhenti di kampung Punge Blangcut. Paling tidak, tujuh dari delapan kru PTLD yang berada di dalamnya hilang. Seorang lagi selamat, setelah terapung pada sebuah papan.

Gelombang Besar

Berbeda dengan Safwan, ketakjuban Muhammad Nasir (58) telah berlangsung sedari awal saat gelombang tsunami menghempas Kota Banda Aceh. Lelaki yang juga tinggal di Kampung Punge Blangcut itu mengaku melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat gelombang besar yang datang bergulung-gulung itu menyeret PLTD apung.

Saat terjadi gempa bumi, Nasir tengah berada di kedai kopi, tak jauh dari rumahnya. Selang beberapa saat, dia mendengar suara teriakan dari arah laut yang adanya air pasang. Benar saja, sebuah gelombang dahsyat tampak di kejauhan, bergulung-gulung ke arah kota. Maka, segeralah dia melarikan diri, menghindar dari kejaran gelombang.

Sembari berlari, Nasir sesekali menengok ke arah gelombang. Hampir tak percaya, gelombang itu begitu besar dan dahsyat, melibas segala yang dilaluinya. Lebih dahsyat lagi, ia melihat sebuah PLTD apung ayang terseret oleh gelombang.

"Tongkang itu seperti terapung-apung saja mengikuti gelombang. Waktu sampai di kampung Punge Blangcut, gelombang telah mereda, sehingga laju tongkang itu akhirnya berhenti setelah tersangkut bentangan kabel listrik. Begitu beratnya menahan beban, tiang listrik itu tak kuat dan akhirnya roboh. Namun, kabelnya tidak putus," tutur Nasir.

Di tengah rasa duka mendalam yang menyelimuti warga Kampung Punge dan Kota Banda Aceh pada umumnya, mereka masih membincangkan soal tongkang PLN itu. Menurut mereka, ada keanehan yang terjadi saat tongkang itu terseret ke arah kota. Benda berat itu selalu berbelok arah, saat hampir menabrak masjid-masjid yang dilewatinya.

"Kalau ditarik garis lurus dari Uleelhe ke Punge Blangcut, tongkang itu seharusnya menabrak Masjid Babuljannah di Kampung Punge. Tapi herannya, beberapa puluh meter sebelumnya, dia berbelok arah ke selatan, sehingga tak jadi menabrak masjid itu".

Hingga Sabtu (8/1), tongkang PLTD Apung masih terdampar di Kampung Punge Blangcut. Dilihat dari kejauhan, ia tak tampak seperti tongkang atau kapal. Ia lebih menyerupai bangunan megah yang berdiri kukuh di tengah puing-puing rumah warga.

Delapan Pegawai

Humas PLN unit Pembangkit dan Penyalur (Kitlur) Listrik Sumatera Bagian Utara Sumadi didampingi Kepala unit PLN unit Kitlur Sumatera Bagian Selatan Ir Ratino Suhadi, menuturkan bahwa saat terjadi tsunami, "tongkang" itu tengah bersandar di Pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh.

"Saat itu di dalam 'tongkang' ada delapan orang pegawai PLN. Setelah gelombang pertama surut, mereka turun. Tapi tiba-tiba gelombang kedua datang, dan mereka ikut terhempas. Dari delapan orang itu, hanya satu yang selamat,sementara lainnya hilang," katanya.

Dia menambahkan, sejauh yang dia ketahui, "tongkang" tersebut merupakan PLTD apung satu-satunya di Indonesia. Sebelum ditempatkan di Banda Aceh, tongkang itu pernah difungsikan di Sektor Mahakam Kalimantan. Dari tongkang itu, dapat menghasilkan 10,5 MW listrik.

Jika seluruh Kota Banda Aceh memerlukan aliran listrik sebanyak 38 MW, maka PLTD apung itu mampu menyuplai hampir sepertiga kebutuhan listrik di Ibu Kota Nanggroe Aceh Darussalam. (Rukardi dan Agus Toto W-81m)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA