| Minggu, 09 Januari 2005 | SEMARANG |
Chiki pun Tak Mau Melepas Dekapan YukiMATA Chiki bekerjap-kerjap seolah baru bangun tidur. Berkali-kali petugas memanggil-manggil nama Chiki. Namun orangutan (Pongo pygmaeus) berbobot hampir 90 kg itu tetap bergeming di atas kotak kayu sambil mendekap anaknya. Kandang Chiki terdiri dari beberapa bagian. Salah satunya dibuat dua tingkat seperti loteng. Pada loteng itulah Chiki tinggal bersama anaknya yang baru berumur tiga minggu. Ya, sejak 17 Desember lalu, satwa di Taman Margaraya Tinjomoyo bertambah seekor. Chiki, orangutan yang menghuni Tinjomoyo sejak 8 tahun silam itu melahirkan bayi betina. Setelah dikandung induknya selama 8,5 bulan, bayi orangutan itu lahir normal dengan berat sekitar 1 kg. Belakangan, bayi orangutan itu diberi nama "Yuki". Di atas kotak kayu yang menjadi "tempat tidur" itulah Chiki mengasuh Yuki. Di dalam jeruji besi, Yuki seolah tak mau lepas dari induknya. Jemari mungilnya mendekap erat tubuh Chiki. Sesekali orangutan kecil itu menyusu dan menyusupkan kepalanya di balik lengan induknya. Sebaliknya, Chiki pun seolah tak mau melepaskan anaknya barang sedetik pun. Literatur Beberapa literatur menyebutkan, orangutan memiliki kebiasaan mendekap anaknya hingga satu dua tahun. Orangutan, mengasuh anaknya selama 5-6 tahun. Demi menjaga keselamatan anaknya, induk orangutan pun rela menghadang marabahaya dan meregang nyawa. ''Jangan sekali pun mencoba melepaskan bayi orangutan dari gendongan induknya. Induk itu bisa marah dan menggigit. Bahkan kalau anaknya mati, induk itu akan terus mendekap hingga membusuk,'' pesan Kusyanto, petugas Taman Margaraya Tinjomoyo. Berkali-kali petugas itu memanggil nama Chiki untuk diberi makan, tapi Chiki enggan turun. Namun segelas susu formula yang dibawa petugas rupanya menarik perhatian Chiki. Sembari menggendong anaknya, orangutan Kalimantan itu turun dari "loteng" dan menghampiri petugas. Segelas susu pun habis dalam beberapa kali teguk. ''Setiap hari Chiki selalu minum susu, teh, atau kacang hijau. Tak tentu jenis minumannya, namun makanannya tetap buah-buahan dan nasi,'' lanjut Kusyanto. Sementara Chiki rutin minum susu, Yuki belum bisa diberi makan apa-apa. Bayi orangutan itu hanya mendapat makanan dari air susu induknya. Semula, Chiki ditempatkan di dalam kandang bersama seekor orangutan jantan bernama Choko. Namun sejak melahirkan Yuki, Chiki dan bayinya ditempatkan dalam kandang terpisah. Sebagaimana 150-an satwa lain di Tinjomoyo, Chiki dan Yuki secara rutin diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan. Agar tak bosan, Chiki dan Yuki dibiarkan menikmati udara terbuka di sekitar kandang. Keduanya dibiarkan lepas dari kandang namun tetap dalam pengamatan petugas. ''Chiki boleh dibilang penurut dan tidak buas karena sejak kecil sudah tinggal di Tinjomoyo,'' tutur Kusyanto. Kelahiran Yuki merupakan peristiwa kedua di Tinjomoyo. Dua tahun silam, seekor orangutan bernama Yayuk juga melahirkan anak betina. Sayang, beberapa tahun kemudian anaknya itu mati. Siapa pun tak ingin Yuki bernasib sama dengan familinya terdahulu. Sebab rentang regenerasi yang memakan waktu 8 tahun membuat satwa satu itu makin langka karena sulit berkembang biak. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang, Drs Agus Sudarmadji MM berjanji akan berusaha sebaik mungkin menjaga satwa dilindungi itu di Tinjomoyo. (Ninik Damiyati-91) |