logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 09 Januari 2005 BINCANG BINCANG
Line

Penantang yang Ubet dan Lembut Hati

NAMA Mar'ie Muhammad tidak bisa kita lepaskan dari berbagai aktivitasnya di berbagai bidang. Mulai dari politik, ekonomi, maupun sosial kemasyarakatan. Dalam dunia pemerintahan -khususnya yang berkaitan dengan ekonomi dan keuangan- pria kelahiran Surabaya 3 April 1939 ini pernah menjabat sebagai Dirjen Pajak (1988-1993) dan Menteri Keuangan RI (1993-1998). Selepas menjadi menteri, pria berkacamata tebal ini dikenal sangat peduli terhadap masalah good governance. Dia kemudian menjadi ketua Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), sebuah LSM yang mempunyai misi menegakkan transparansi dan good governance. Selain itu dia juga termasuk salah satu penggagas kehadiran The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) di Indonesia.

Sementara itu untuk aktivitas yang berkaitan dengan sektor keuangan, dia pernah menjabat sebagai ketua merangkap anggota Oversight Committee dan Independent Review Committee (IRC)-BPPN.

Kecuali aktif di bidang pemerintahan dan LSM pengontrol pemerintah, dia bergiat juga dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan seperti Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Suami Ayu Resmijati ini juga baru saja terpilih menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), organisasi netral dan independen yang melakukan kegiatan kemanusiaan, kesukarelaan, kenetralan, kesamaan, kemandirian, kesatuan, dan kesemestaan kali kedua.

Di organisasi itu dia menjabat sebagai ketua selama dua periode (1999-2004 dan 2004-2009). Saat menjabat untuk kali kedua inilah dia mendapat tugas yang sangat berat menyusul terjadinya bencana tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. "Saya tak henti-hentinya mengajak seluruh relawan dan staf PMI untuk rela bekerja keras, karena yang kita hadapi memang menuntut untuk semua itu. Saya juga mengajak agar kita tidak henti-henti berdoa agar kekuatan lahir batin tidak lari dari kita," kata ayah Rifki, Refina, dan Rahmasari ini.

Sejak mahasiswa Mar'ie sudah nyrempet-nyerempet dunia politik. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jurusan Akuntansi tersebut saat kuliah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di organisasi "hijau" tersebut dia duduk sampai di jenjang Pengurus Besar (PB) HMI. Bergabungnya Mar'ie justru pada saat organisasi tersebut mendapat tekanan dari kekuatan politik yang besar saat itu yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) dan onderbouw-nya. Dia ingin mendapat tantangan pada masa mudanya. Karena itu Mar'ie yang dalam HMI seangkatan dengan Sulastomo, Nurcholish Majid, Soegeng Sarjadi, Ekky Syachruddin ini, ikut mengalami "hari-hari panjang bersama HMI" pada tahun 1965-1966 yang penuh dengan dinamika sosial dan politik itu.

Dia juga dikenal sebagai sosok yang ubet. Di tengah kesibukan kuliah dan berorganisasi, dia masih melakukan bisnis kecil-kecilan bahan bangunan untuk membiayai kuliah. Ya, dia memang sang penantang yang ubet dan lembut hati. (Hartono Harimurti-72)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA