logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 SALA
Line

Warga Klaten di Aceh Mulai Pulang Kampung

KLATEN - Seratus lebih pengungsi dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai dengan selamat di kampung halaman mereka di Klaten, Senin (3/1) malam. Mereka berangkat dari Aceh, Kamis (30/12) lalu atau empat hari setelah gempa dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan bumi serambi Mekah.

Rombongan warga Klaten yang dikoordinasi Sugiman alias Timbul (50) itu menempuh perjalanan darat sekitar 100 jam, sebelum akhirnya sampai di tanah kelahiran mereka di Klaten. Ratusan orang menyambut kedatangan dua bus PO PM Toh yang membawa rombongan dari Aceh.

''Banyak warga Klaten yang menjadi korban di Aceh. Kami yang masih hidup berusaha secepatnya menghindari bencana dan pulang kampung di Klaten,'' kata Timbul saat ditemui di tempat tinggal sementara di Dukuh Karanganyar, Desa Planggu, Kecamatan Trucuk, Klaten, Selasa (4/1) siang.

Timbul mengaku mendapat keluhan dari warga Klaten di Banda Aceh tentang kondisi pasca tsunami. Mereka trauma dan ingin secepatnya meninggalkan Banda Aceh. Pulang kampung ke Klaten menjadi pilihan utama mereka pergi. ''Saat itu kondisi Banda Aceh serba tidak menentu. Jalan-jalan banyak yang rusak. Bagaimana kami bisa meninggalkan Aceh. Akhirnya saya hubungi teman saya yang kerja di perusahaan bus. Kami dapat dua bus dengan harga carteran sampai Klaten Rp 29 juta,'' kata Timbul.

Sesampainya di Medan, ada warga yang mengenali rombongan pengungsi Aceh asal Klaten itu. Secara spontan, mereka mengumpulkan bantuan berupa makanan, pakaian dan barang lain sampai beberapa karung. Semua itu diberikan kepada para pengungsi. Saat ini, sebagian barang tersebut ditumpuk di rumah Timbul.

Menurut anggota rombongan pengungsi Slamet Harso Diharjo (55), sebagian besar warga Klaten tinggal di Lorong Kerinci, Kampung Setui, Baiturrahman, Banda Aceh. Kampung yang terletak di tepi Jalan Teuku Umar itu dihuni ratusan warga asal Jawa. Mereka umumnya berprofesi sebagai pedagang keliling es puter dan jamu gendong.

Terbawa Arus

Slamet mengatakan ada satu warga yang dibawa dalam keadaan luka parah yaitu Harjinem (50) warga Dukuh Tegalan. Perempuan paruh baya itu sempat terbawa arus air dan pahanya sempat tergores kayu yang berserakan. Korban kini menjalani rawat inap di RS Islam Klaten.

Selain itu, dua warga Planggu hingga kini belum diketahui nasibnya. Mereka adalah Sunardi (36) warga Dukuh Karang Jowo dan Juminem (37) warga Dukuh Prayan. Namun, besar kemungkinan keduanya telah meninggal dunia.

''Begitu air surut, kami semua saling menanyakan kabar masing-masing. Ternyata setelah berhari-hari mencari-cari masih ada dua warga Planggu yang belum ketemu yaitu Sunardi dan Juminem. Juminem sehari-hari memang jualan jamu gendong di dekat pantai,'' kata Wajiman (43) yang bersaudara dengan Timbul.

''Teman kami Siyono warga Cawas meninggal beserta istri dan anak-anaknya. Tinggal anak bungsunya yang hidup. Juga ada warga Bayat yang ikut terbawa arus air saat menyelamatkan uang yang baru diambil dari bank,'' kata Slamet.(F5-20)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA