| Rabu, 05 Januari 2005 | PANTURA |
Hutan Lebih Baik Dipagari NasiKAJEN - Gerakan penghijauan yang dilaksanakan Pemkab Pekalongan diminta benar-benar harus transparan. Sebab bila sampai disalahgunakan, maka masa depan lingkungan wilayah tersebut akan terancam. Hal itu ditegaskan Bupati Pekalongan Drs H Amat Antono saat mengadakan pertemuan dengan semua stakeholders yang terlibat dalam pelaksanaan gerakan penghijauan di pendapa kabupaten, belum lama ini. Gerakan penghijauan, ujar Bupati, merupakan proyek strategis yang melibatkan semua anggota masyarakat dan biayanya besar sehingga harus dipertanggungjawabkan. Jika pelaksana di lapangan tidak serius, akan disalahgunakan oleh generasi mendatang. Untuk itu, dia meminta semua pihak agar serius dan bisa menghasilkan target maksimal, yaitu di atas 70%. "Saya minta pelaksanaan gerakan penghijauan termasuk penggunaan dananya dilakukan secara transparan, jika tidak bisa memunculkan masalah," paparnya. Semua pihak, dia menegaskan, harus berbagi tanggung jawab. Sebab, program itu akan dimintai tanggung jawab dunia dan akhirat. Dia juga berharap, gerakan penghijauan tidak hanya akan melestarikan hutan namun juga menyejahterakan masyarakat sekitar hutan. "Sebab, hutan lebih baik dipagari nasi, jangan dengan besi," ucapnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pekalongan Ir Bambang Guritno mengatakan, gerakan penghijauan yang dilaksanakan dengan nama Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lingkungan (GNRHL) di Kabupaten Pekalongan melibatkan berbagai komponen masyarakat. Selain Pemkab, Perhutani, Kejaksaan Negeri, dan kepolisian, juga LSM, lembaga masyarakat desa hutan (LMDH), berbagai tokoh serta elemen masyarakat lain sehingga diharapkan program tersebut benar-benar selesai. Rp 3,8 Miliar Sejauh ini Pemkab mencanangkan GNRHL di tiga kecamatan, yaitu Paniggaran, Petungkriyono, dan Kandangserang. Di Paninggaran luas area yang dihijaukan 575 ha, di Petungkriyono dan Kandangserang masing-masing 425 ha dan 450 ha. Total luasan pembuatan hutan rakyat adalah 2.250 ha yang meliputi sembilan kecamatan. Secara keseluruhan, dana yang dikeluarkan untuk program GNRHL Rp 3,8 miliar. Kegiatan yang dilaksanakan, selain penghijauan dan pembuatan hutan rakyat adalah pembuatan dam penahan di dua kecamatan dan pembuatan 50 sumur resapan di lima kecamatan. Sementara itu, jumlah tanaman yang akan ditanam 990.000 batang, meliputi mahoni, jati, pinus, sengon, suren, melinjo, avokad, durian, dan petai.(G16-14j) |