| Rabu, 05 Januari 2005 | PANTURA |
Istri Nelayan Tekuni Petik Bunga MelatiSEKELOMPOK perempuan berkebaya sederhana berkumpul di sebuah perkebunan melati. Mereka berbincang sambil memetik bunga melati dari tangkainya. Satu per satu bunga itu dipetik dan dimasukkan ke dalam sebuah besek plastik. Mereka begitu telaten mengambil kuncup demi kuncup bunga. Meskipun siang itu terik matahari terasa menyengat kulit, mereka seakan tak menghiraukan. Pemandangan tersebut ditemui di sebuah perkampungan nelayan di Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Mereka adalah para istri nelayan di Kabupaten Tegal yang biasa menghabiskan hari-harinya menanti sang suami berlayar dengan memetik melati seperti yang dilakukan Bawon (50). Suaminya adalah nelayan harian, Karmin (55). Dia menuturkan, setiap hari suaminya berangkat melaut dari pukul 05.00 dan pulang antara pukul 13.00 dan 15.00. Sebagai seorang istri, dia tak ingin berdiam diri menanti suaminya pulang melaut. Dia memilih pergi ke kebun melati daripada menganggur di rumah. Hal itu dia lakukan tidak lain untuk membantu perekonomian keluarga. Di tempat itu, dia memetik bunga melati dan untuk selanjutnya dijual ke pasar. Dengan luas kebun kurang dari setengah hektare, satu hari bisa mengumpulkan bunga melati tiga hingga lima kilogram. Cukup Menguntungkan Menurut penuturan Bawon, harga saat ini dibandingkan dengan Lebaran mengalami penurunan hingga 50%. Menjadi seorang pemetik melati cukup menguntungkan. Dia bisa membantu suaminya menyokong kebutuhan sehari-hari. Terlebih, penghasilan suaminya tak menentu dengan jangka waktu kerja bulanan. Dia pun bisa menghilangkan kesepian dan mengisi hari-harinya sambil menanti suaminya pulang melaut. "Ketika Lebaran harga mencapai Rp 10.000 per kilogram, sedang saat ini hanya Rp 5.000,'' ujarnya. Bawon memiliki lima anak dan semuanya telah menikah. Mereka juga berprofesi sebagai nelayan. Dia bekerja di tempat seorang pemilik perkebunan melati di daerah tersebut. Sebagai seorang pemetik melati, Bawon biasa mendapatkan upah Rp 3.500 untuk setiap satu kilogram melati yang dapat dia kumpulkan. Biasanya, dia mendapatkan 5-10 kilogram setiap hari. Upah tersebut diterima setiap minggu. Di Kabupaten Tegal, selain menjadi nelayan, beberapa orang juga memiliki perkebunan untuk dijadikan kebun melati. Melati tersebut tumbuh subur di sana sesuai dengan iklim pantai. Tak heran, bercocok tanam melati cukup digemari sebagian anggota masyarakat di pantai utara (pantura). Terbukti, sepanjang jalan khususnya di tepi jalan pantura Tegal-Pemalang, ditanam bunga melati pada lahan puluhan hektare. (Wawan Hudiyanto-42j) |